Showing posts with label Lukisan Dunia. Show all posts
Showing posts with label Lukisan Dunia. Show all posts

Tuesday, April 19, 2011

(Toponimi) Nama itu "Indonesia"

(Toponimi) Nama itu "Indonesia"
Di sela-sela membaca mengenai perubahan iklim, perubahan penutup lahan/penggunaan lahan, nama-nama wilayah di Bumi. Terfokuslah pada nama wilayah dimana penulis bertempat tinggal dan berkebangsaan yakni Indonesia.

Fenomena global seperti perubahan iklim hingga perubahan regional atau lokal seperti perubahan penutup lahan/penggunaan lahan dan pemekaran wilayah yang berkaitan pula dengan pembakuan nama-nama rupabumi, itulah fenomena kebumian yang sedang dipelajari oleh penulis dan merupakan hal-hal yang mesti diperhatikannya. Berbicara itu semua tidaklah berkaitan dengan judul yang diangkat apabila melihatnya secara langsung, tetapi fenomena kebumian yang sedang dipelajari tersebut merupakan rangkaian informasi ataupun data geospasial yang sedang dikumpulkan dalam berbagai aspek kajian yang berlokasi di suatu wilayah yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke (kurang lebih demikian yang didapat sewaktu kita belajar di sekolah dasar).

Indonesia, itulah namanya. Tulisan ini diangkat sebagai bagian dari hasil membaca sebuah tulisan berjudul "Asal Usul Nama Indonesia" tulisan oleh Irfan Anshory dalam Buletin Toponimi.

Siapa sangka, Indonesia memiliki beraneka ragam nama sebelum akhirnya dikenal sebagai bangsa Indonesia dan diakui oleh dunia. Tentunya yang menyangka itu ialah rekan-rekan yang mempelajari "Indonesia" dari segi bahasa, budaya ataupun aspek lainnya. Tapi sangat disayangkan penulis, baru menyadari arti pentingnya sebuah nama ketika mengenal topo dan onima.

Kawasan kepulauan Indonesia dalam catatan bangsa Tionghoa dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan), catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), bangsa Arab menyebutnya Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Lalu pada masa kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Persia, Arab, India dan China; mereka menyebut daerah yang terbentang luas antara China dan Persia semuanya adalah "Hindia". Tanah air kita (Indonesia) mendapat sebutan nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales).

Tatkala terjajah oleh Belanda, nama resminya ialah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan saat dijajah Jepang memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887) mengusulkan nama spesifik yaitu Insulinde yang berarti "Kepulauan Hindia" (bahasa latin insula berarti pulau), tapi sayangnya kurang populer. Kala itu tahun 1920an, Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli) memopulerkan nama "Nusantara", suatu istilah yang telah berabad-abad tenggelam. Diambilnya nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit.

Nama Indonesia

Singkat cerita, dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) Volume IV, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Di awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan kita, dipungutlah kata yang dibuang oleh Earl (Indunesia) dan mengganti huruf u dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Pertama kali "Indonesia" tercetak dan muncul di dunia ialah pada halaman 254 dalam tulisan Logan.

Putra bangsa ini yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Ki Hajar Dewantara dimana kala itu beliau dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 dan mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Berlanjut pada dasawarsa 1920-an, nama itu yakni "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" memiliki makna politis sebagai identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya.

Banyak organisasi hingga partai politik merubah namanya dengan tambahan "Indonesia", hingga akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1928 (peristiwa Sumpah Pemuda) nama itu, Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita. Atas kehendak Allah, jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Tanggal 17 Agustus 1945, Atas berkat rahmat Allah, lahirlah Republik Indonesia.

-usai-

Ingin membaca lebih lengkap, silahkan akses Buletin Toponimi Volume I, No. 1, Februari 2010.


Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar apa itu informasi yang berbau ruang dan waktu*

Monday, April 18, 2011

Perjalanan Teknologi Survey Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial

Perjalanan Teknologi Survey Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial

Gambar1. Buku "INFRASTRUKTUR INFORMASI GEOSPASIAL NASIONAL"

Sebuah catatan ringan yang bersumber dari Kata Pengantar dan Bab I sebuah Buku berjudul "INFRASTRUKTUR INFORMASI GEOSPASIAL NASIONAL" karya Prof. Dr. Ir. Jacub Rais, M.Sc terbitan BAKOSURTANAL.

Beliau mengantarkan buku ini dengan rangkaian kata awal berupa apa itu "Data Spasial" dilanjutkan dengan sifat keruangan di Bumi yang kini dikenal dengan istilah "Geospasial" sebagai kosakata baru dalam era teknologi informasi. Informasi tersebut juga ada secara absolut di Bumi melalui sistem koordinat "geodetik", adanya satelit GPS membantu menentukan posisinya yang teliti di Bumi ini. Dilanjutkan dengan perlunya koordinasi pemetaan di Indonesia (sejarah dibentuknya BAKOSURTANAL).

Ada hal yang sangat menarik yakni penjelasan mengenai asal usul istilah "data spasial" pada Kata Pengantar Buku ini. Banyak yang mengira bahwa istilah data spasial merupakan nomenklatur yang diciptakan oleh para profesi pembuat peta, tetapi yang sebenarnya istilah data spasial justru datang dari para ahli statistik dunia dan para perencana regional dunia yang berkumpul di suatu kota kecil Perancis Saint-Maximin 24-28 Mei 1971. Kala itu, mereka merasa bahwa data statistik yang selama ini dipergunakan dalam perencanaan tidaklah cukup untuk mengambil keputusan mengenai alokasi dan lokasi sumberdaya alam, sehingga diperlukan adanya data yang "berdimensi spasial" bukan data statistik semata. Kemudian dimunculkanlah istilah "Data Banks for Development" (1971) untuk data berdimensi spasial, yang selanjutnya berkembang menjadi "Geographic Data Handling" (1975) kemudian menjadi Geo-referenced Information System (1980) dan seterusnya GIS, dan sebagainya.

Itulah sekelumit kata pengantar, dilanjut ke Bab I yang mengambil judul "Pengembangan Teknologi Survei dan Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial". Sewaktu membaca Bab I ini seakan dibawa ke dalam sebuah perjalanan ruang dan waktu dari informasi geospasial, data geospasial hingga infrastruktur data spasial.

Alkisah, sejak revolusi industri pertama di pertengahan abad ke-18 hingga kini dunia telah memasuki revolusi ke-5 yaitu revolusi industri informasi dan komunikasi yang telah menguasai seluruh aktivitas kehidupan manusia. Saat ini hampir semua sektor telah bergelut untuk membangun informasi geospasial sesuai kebutuhan masing-masing dalam berbagai tingkatan baik lokal, nasional bahkan internasional.

Dalam Bab I ini, Beliau menuliskan pengertian mengenai Informasi dan Data Geospasial dalam bahasa kebumian. Informasi geospasial adalah informasi yang terkait ruang muka bumi maupun ruang di bawah muka bumi, seperti informasi tentang sumberdaya mineral, minyak dan gas bumi serta peristiwa yang terjadi di muka bumi/di bawah muka bumi. Data Geospasial adalah data yang terpetakan atau ter-rekam secara keruangan, seperti peta, citra dari udara dan ruang angkasa.

Di era pra satelit, informasi geospasial disajikan di atas daun papyrus (kebudayaan Mesir Kuno di lembah Nile), di atas tablet tanah liat (Euphrat dan Tigris di lembah Mesopotamia) dan di masa Kerajaan Romawi dengan peta-peta di atas marmer. Sejak penemuan bahan kertas di Cina hingga ketrampilan membuat kertas menjalar ke Jepang dan baru pada tahun 1276 pabrik kertas pertama dibangun di Eropa.

Sejarah satelit, dimulai sejak peluncuran satelit sumberdaya alam ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite) di tahun 1972 dengan resolusi spasial 80 meter, hingga kini dunia telah menghadapi informasi dengan ketelitian hinggga 0,5 meter-1meter dari satelit WorldView-2, Quickbird, IKONOS, dsb. Informasi geospasial ini telah membantu manusia dalam peningkatan manajemen dan perlindungan ruang hidup manusia dengan efektivitas dan efisiensi dalam pembangunan ekonomi dari sumberdaya.

Resolusi di atas mensyaratkan data geospsial yang dapat dipercaya dan dengan biaya yang dapat dijangkau, dapat diakses secara tepat waktu dan efisien sebagai bagian dari realisasi janji-janji "information society". Hal tersebut apabila kita melihat berita yang sedang booming sekarang yakni disahkannya RUU IG.

Terkait informasi untuk umum tersebut, maka perlu adanya infratruktur informasi, termasuk infrastruktur data geospasial sebagai fasilitas jasa data Geospasial yang terstruktur. Berkembangnya infrastruktur geospasial menjadi terpacu oleh berkembangnya teknologi dijital (komputer) dan telekomunikasi.

---usai---


Untuk lebih lanjutnya silahkan akses langsung Buku "Infrastruktur Informasi Geospasial Nasional" tersebut.


Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar apa itu informasi yang berbau ruang dan waktu*

Tuesday, April 12, 2011

(Toponimi) Pemalang, juga nama Terumbu di Singapura

Berawal dari mencari "Pemalang" di dunia GeoNames ditemukanlah Pemalang, juga nama Terumbu di Singapura.

Sekedar iseng sembari belajar nama-nama, maka segeralah melakukan pencarian nama kota kelahiran yakni "Pemalang" di sebuah situs penyedia nama-nama rupabumi GeoNames. Walhasil muncullah beberapa nama Pemalang sebagai berikut:

sumber: http://www.geonames.org/

Untuk link lokasinya bisa diakses di:





Lokasi-lokasinya apabila dilihat via googlemaps (yang biru terumbu pemalang besar):


Lihat Terumbu Pemalang Besar di peta yang lebih besar

Lalu kalau Pemalang sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia letaknya dimana dan bagaimana sejarahnya?

Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W FRUIN MEES yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.

Untuk sejarah kota pemalang lebih lengkap bisa dilihat di situs pemerintah Kab. Pemalang: Sejarah, lokasinya bisa dilihat via google maps:



Muncul tanya, apakah yang memberi nama Terumbu itu orang Pemalang? yang menemukan orang Pemalang ataukah orang singapura yang pernah ke Pemalang? atau memang tidak ada keterkaitan dan hanya kebetulan semata?

Apa yang khas dari Pemalang? Makanannya yang mak grombyang : http://bumiwisata.blogspot.com/2009/06/melihat-pantai-dan-nikmati-grombyang.html

Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar nama-nama*


Thursday, April 7, 2011

Pentingnya Sebuah Nama Rupabumi?

Foto Pembicara, Peserta dan Tamu Undangan Workshop Toponimi

Nama itu penting, demikian kesan yang ditangkap oleh penulis setelah menjadi bagian dalam sebuah workshop toponimi. Di planet Mars banyak benda-benda tetapi belum memiliki nama karena belum ada yang menjamah dan mengenali serta dilanjut memberinya sebuah nama. Berbeda dengan di planet Bumi dimana manusia telah memberi nama sejak jaman dahulu kala dimana unsur-unsur di bumi telah bernama dan menjadi bagian integral tak terpisahkan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Apa yang dimaksud dengan toponimi atau nama rupabumi? Nama rupabumi atau nama topografi atau nama-nama geografi atau nama-nama tempat adalah nama-nama yang digunakan untuk unsur-unsur alami maupun unsur buatan manusia yang berada di permukaan bumi.
Ada rasa haru yang muncul sehari sebelum acara itu dimulai dimana penulis sedang membantu persiapan untuk penyelenggaraan workshop. Sedianya penulis dapat kesempatan untuk ber'diskusi' dengan Prof. Dr. Jacub Rais, M.Sc tapi kesempatan itu tak jadi datang. Padahal sedianya Beliau-lah yang seharusnya memberikan pencerahan dan pemahaman tentang peran UNGEGN pada workshop toponimi kali ini.

Walhasil, rangkaian kata tertulis dalam efbi tatkala sedang menikmati wifi di ruangan semalam sebelum workshop:

"saat itu bertemu sesaat"

Ada kata 'bertemu' dimana aku dan Beliau berada pada satu titik ruang dan waktu

Ada kata 'saat' tatkala sang waktu berhenti dan berjalan seiring memori tersimpan

Ada kata 'itu' di masa kini atau nanti kita tatap kembali masa lampau

Ada kata 'sesaat' ketika rasa itu seakan terhempas dalam cepatnya waktu berlalu


Aku pun hanya bertemu dengan Beliau hanya sesaat, tapi belum sempat Beliau berucap

Ilmu itu belum kuserap, tapi pundak ini semakin terasa berat

Nama itu belum bisa ku lukis dalam rupabumi

Tapi bumi itu tlah menangis kehilangan satu nama


Tersadarku akan waktu yang terus berlalu

Tersadarku akan cerobohnya aku maknai masa


Dan demi masa...

Berhentilah kita merugi...

Dan demi sapa...

Berhentilah kita menyendiri...


Nama itu adalah tanda...

Nama itu adalah rupa...

Nama itu penuh makna...

Nama itu rahasia...


Hotel Santika Bogor, Kamis 7 April 2011

Sapa dan Salam kenalku tuk Pelaku Sejarah Penamaan Rupabumi Indonesia

Prof. Dr. Jacub Rais, M.Sc.


Salam hormat,

Aji Putra Perdana

Dalam sambutan pembukaan oleh Kepala BAKOSURTANAL disampaikan beberapa hal yang menggugah kesadaran penulis (*maklum biasanya hanya tidur akibat ngantukan mode on), diantaranya:
  1. Di dalam kehidupan modern nama rupabumi dibakukan sebagai bagian dari tata administrasi pemerintahan yang baik (good governance), mengingatkan penulis akan salah satu materi dalam diklat yakni kepemerintahan yang baik atau bahasa inggrisnya ya...good governance itu tadi.
  2. Diungkapkan pula alasan-alasan mengapa nama rupabumi harus dibakukan? Bahwa nama rupabumi lebih dari hanya sekedar nama-nama tempat dalam suatu peta, tetapi nama-nama itu bersifat lokasional dan merupakan komponen dari sistem informasi yang terorganisir secara keruangan. Nama rupabumi merupakan suatu titik akses langsung dan intuitif terhadap sumber informasi lain yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan bagi para pembuat kebijakan dan manajer serta kerjasama di antara organisasi lokal, nasional dan internasional.
  3. Hal yang menarik dan digarisbawahi atau ditebalkan yakni "Tanpa adanya pembakuan dalam penggunaan nama rupabumi, akan terjadi kerancuan dan kekacauan yang dapat berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi".

Rangkuman berita lebih lengkap terkait workshop bisa diakses di http://bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/pentingnya-pembakuan-nama-nama-rupabumi/

Ada makna di balik sebuah nama, ada budaya di balik suatu nama, ada sejarah di balik nama, ada bahasa di dalam nama, ada sesuatu yang dalam dari nama, ada-ada aja si penulis menunis namanya *upss tulisannya :), nama itu perlu dibakukan sehingga informasi geospasial dapat terintegrasi dan tata kepemerintahan yang baik dapat terlaksana.

Salam,
Aji Putra Perdana


Monday, January 31, 2011

Tapak Kaki Stasiun Tugu (rindu) Yogyakarta

Tapak Kaki 29/01/2011 di Yogyakarta

Ingin melangkah dan tak memanjakan kaki...itulah awal mulanya fulan berjalan dari stasiun kereta api Tugu Yogyakarta (Gambar 1). Begitu keluar dari stasiun tugu di pagi buta, sapaan dari TAXI mas...Ojek Mas...Becak Mas...tak henti-hentinya berdengung di telinga. Hingga melewati sebuah titik dimana suara itu perlahan menghilang. Sekedar mengisi kerinduannya akan Jogja, rekaman langkah dan suasana sekitar diabadikan dengan tangkapan sederhana ala lg gw300. Belum sempat terunduh jadi baru bisa menyajikan rute perjalanannya saja (Gambar 2). Kali lain akan disajikan dalam format tak terstruktur yang berisi foto dan video (jika koneksi internet lancar seperti malam ini).



Gambar 1. Potret Ikon Stasiun Tugu Jogja (ditangkap gambarnya oleh Aji Putra Perdana dengan kamera yang telah terpasang pada hape lg gw300 dan disobek-sobek gambarnya dengan senekit) *difoto sebelum perjalanan 29/01/2011 hanya untuk ilustrasi sesaat*


Rute Perjalanan yang dilalui kala pagi itu 29/01/2011
Gambar 2. Rute yang ditempuh dalam Tapak Kaki 29/01/2011 di Yogyakarta

Berdasarkan kalkulasi dari maps.google.com berikut perhitungn rute yang dilalui:
Stasiun Tugu
Yogyakarta, Indonesia
1. Ke arah timur
210 m
2. Belok kiri di Jalan Pangeran Mangkubumi
550 m
3. Belok kanan untuk tetap di Jalan Pangeran Mangkubumi
8 m
4. Belok kiri untuk tetap di Jalan Pangeran Mangkubumi
180 m
5. Belok kanan di Jalan Jenderal Sudirman
450 m
6. Belok sedikit ke kanan untuk tetap di Jalan Jenderal Sudirman
130 m
7. Belok kiri di Jalan Corner Simanjuntak
1,0 km
8. Terus ke Jalan Kaliurang
1,9 km
Jalan Kaliurang


Total ditempuh dengan 57menit dengan panjang 4,4 kilometer. Itu menurut perhitungan, akan tetapi berhubung yang jalan sambil benar-benar menapakkan kakinya dan berhenti sejenak mengambil tangkapan dalam gambar-gambar dan video amatir jadinya lebih dari 1 jam perjalanan itu ditempuh. Tiap langkah seakan berarti karena di tiap langkah itu pula tiap ruang dan waktu kehidupan yang berbenturan dengan ruang publik dimana di situlah terdapat aktivitas dari individu-individu maupun sekelompok manusia mulai bergerak di pagi itu. Ada aktivitas sekelompok tukang ojek, supir taxi, tukang becak, ada angkringan-man sedang menyiapkan lapaknya, ada distributor-distributor koran sedang memilah,menghitung,mengambil dan membawa bertumpuk-tumpuk koran, dari yang berkendara dengan motor, jalan kaki, dan sepeda. Semakin siang mencapai jalan kaliurang mulai tampak lalu-lalang kendaraan bermotor nan berasap, pagi pun tak lagi buta terbangunkan matanya akibat asap-asap itu.

‎+ langkah setapak demi setapak menjejaki alas buatan manusia berada di sekian kilometer kehidupan di dunia, melihat senja dan kini menatap pagi, merasakan manis dan jilatan pahit, biarkan kakimu melangkah dan menyentuh bumi tak termanjakan oleh mesin atau teknologi, biarkan matamu menatap sekitar tak hanya menatap layar #nikmati senja di sana dan pagi ku tlah di sini, hidup adalah perjalanan ruang dan waktu

- sekedar menulis, masih berlanjut dan tentusaja bersambung, karena titik itu belum berhenti -

Salam,

Aji Putra Perdana

Thursday, January 27, 2011

orang di belakang layar, tapi bukanlah dalang

orang di belakang layar, tapi bukanlah dalang

Sebuah judul yang barusaja diketemukan setelah selama setengah jam bingung hendak menulis apa, walhasil ketika melihat sebuah situs dimana di situs tersebut ada nama si fulan. Ada sebuah kepuasan tersendiri atau boleh tepatnya rasa bersyukur atas terwujudnya sesuatu yang awalnya hanya berangkat dari obrolan semata dan ide-ide sederhana telah berkembang, berbunga, berbuah dan entah sejauh mana lagi progressnya saat ini.

Ketika mulai ditinggalkan oleh sebuah ide-ide yang telah berkembang dan terwujud dalam aktivitas (baca: proyek), ada rasa rindu alias kangen untuk sekedar membangkitkan kenangan itu. Sekedar menuangkan dan menatap beberapa slideshow kehidupan, mencerna tiap jengkal waktu dan ruang yang telah dilalui dimana ternyata sesuatu yang hanya satu kata, dua kata dan terangkai dalam kalimat yang entah tak bernada. Kini menjadi produk-produk nyata dan proses di dalamnya seakan terasa nikmat dimana tiap tetes keringat, mata yang kadang hendak terlelap pun dipaksakan untuk tetap waspada dan diiringi emosi yang penuh sensasi.

Kini bagai orang di belakang layar, tapi bukanlah dalang...kurang lebih demikianlah ungkapan yang cukup nikmat untuk sekedar memuaskan kerinduan akan getah-getah yang keluar dari pohon karet kehidupan. Orang ingat di kala butuh dan orang lupa di kala senang, itulah yang mungkin secara sadar ataupun tidak kadang kumelakukannya, dalam kesempatan tertulis ini sedianya maafkanlah fulan ini. Tulislah namamu dengan lengkap karena ada keindahan di sebuah nama yang telah diberikan oleh kedua orang tuamu, ada makna dan hikmah di balik itu semua, ujar seorang thole di sore buta.

Ide itu tak kunjung datang, tapi kenangan akan masa ide-ide berkumpul dalam imajinasi kebebasan berekspresi terus bergeliat, karena disadari ataupun tidak ketika segala sesuatu dijalani dengan ikhlas dan bersyukur maka itu sungguh luar biasa. Apabila banyak tlikung kiri ataupun tlikung kanan, lupa kiri ataupun lupakan saja, karena menjalani proses dengan kesungguhan tentunya berbuah kenikmatan, apabila kita mengetahuinya.

Berproses dengan pendewasaan sebuah sistem, merombak egoisme, butuh proses yang tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak kata yang tidak pas dan tidak tepat digunakan dalam tulisan ini karena seperti biasanya ini hanyalah pintasan lalu lalang kata yang ada dalam imanjinasi fulan yang tertuang dalam nada suara dengan judul orang di belakang layar, tapi bukanlah dalang. Kenapa bukan dalang? karena jika dalang maka ia (fulan) yang mengatur alur cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya yang masih dipertahankan dan mana yang akan dilupakan.

Maaf untuk beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawabkan :) * emang ono sing takon???. Maklum belum mulai berkutat dengan hal tersebut kembali, tapi silahkan kirim imel sahaja.

Kesungguhan untuk mengaplikasikan sebuah ide itulah kenikmatan yang luar biasa. Walaupun kadang ide itu dianggap hal yang mustahil untuk dilakukan, tapi kerjasama tim tentusaja dengan orang-orang yang berkompeten dan memiliki semangat yang sama akan berbuah, berkembang, berbunga. Itulah yang coba fulan resapi dan nikmati di tengah sepi sunyi bangkitnya kerinduan akan ekspresi temporal spasial. terimakasih...itu serangkai kata yang hendak ucap sampaikan kepada orang (baca: tim) di belakang layar untuk beberapa rangkai kreasi imaji nyata.

Tolong bantu aku...wujudkan tulisan itu :)

Jalan Cikaret-Cibinong, Bogor, Indonesia
January 27th 2011



Salam,

Aji PP

Monday, January 24, 2011

Dulu out of the box, sekarang in (the) box?

Dulu out of the box, sekarang in (the) box?

Ketika kukembali terduduk dan terpaku pada sebuah laptop yang telah cukup banyak membantuku, maka tertuanglah tautan kata yang tidak beraturan dan mungkin tanpa nada hingga kadang lupa akan adanya dan perlunya sebuah tanda baca. Sebuah rahasia di balik rahasia dan hanyalah Sang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui Segala Sesuatu yang mempunyai rencana kehidupan terbaik bagi hamba-Nya. [Berfikir dan Bertindak] dulu out of the box, sekarang in (the) box, kurang lebih itulah yang terpendam dan masih menjadi tanda tanya di dalam benak fulan hingga saat tulisan ini tertuang dalam sebuah blog 'uncertainty' dari sisi konten secara spatially explicit tidak karuan.

Ya...semakin tidak karuan kala kata-kata itu mengalir dengan seenaknya sendiri dan dibiarkan begitu saja oleh jari-jemari yang terus menyentuh keyboard dan menuangkannya dalam halaman kosong hingga penuh berisi. Isi, ketika berbicara mengenai isi, kurang lebih itulah saat dimana saat ini fulan berada. Fulan sedang melihat seluruh isi yang dulu kala ditatapnya dari luar kotak dan kini fulan berada di dalam kotak itu sendiri dan melihat berbagai sudut yang ada di dalam kotak, berbagai sisi yang tampak di dalam dan bukan dari kulitnya semata. Secara live pun, fulan telah bertemu dengan sosok-sosok positif dan negatif dari BOX tersebut. Isi, kini fulan ialah salah satu semut kecil yang mengisi BOX. Agar BOX menjadi lebih bermakna dan bukan sekedar hanya rangkaian kata-kata dalam kalimat mengejar kebesaran dan keberadaannya semata, maka PERUBAHAN ialah kata yang kini sedang digencar-gencarkan dimana-mana.

Lihat saja dimana hamparan hijau membentang mengalami PERUBAHAN dalam sekejap dan menghebohkan masyarakat, berbagai pendapat diungkapkan, berbagai teori dari ilmiah, alamiah, naluriah, batiniah bertaburan bahkan unsur politis-pun digabungkan. Overlay berbagai layer-layer fenomena kehidupan kian asyik dan merasuk dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak hanya layer-layer dunia spasial.

Jalan Cikaret-Cibinong, Bogor, Indonesia
January 24th 2011



Salam,

Aji PP

Wednesday, December 22, 2010

(Potret) Merapi Pasca Erupsi - Bencana --> Wisata

Pasca Bencana Erupsi Merapi menjadi Wisata

Hasil jepretan pake lg gw300 diedat-edit dadi sakdadine...Kini yang lalu lalang di jakal (jalan kaliurang, jogja) bukan lagi mobil ambulance tapi bus pariwisata :)

Salam,

Aji PP

Sunday, December 12, 2010

(Peta) Pemanasan Global

(Peta) Pemanasan Global

Sembari menunggu para pencari geospatial open source, kembali berkunjung sejenak melihat image of d-day. Tampak ada gambar las vegas (cahaya) di tengah malam, akantetapi yang lebih menarik ialah untuk melihat Pemanasan Global yang disajikan dalam PETA.


Seperti postingan sebelumnya dalam:
Tampaknya NASA juga tertarik untuk mencoba memperbandingkan suhu bumi pada masa silam dengan akhir-akhir ini.

Global Warming Mapped
Color bar for Global Warming Mapped
acquired January 1, 2000 - December 31, 2009
Global Warming Mapped
Color bar for Global Warming Mapped
acquired January 1, 1970 - December 31, 1979

Peta di atas menunjukkan perubahan atau anomali suhu, gambar atas untuk tahun 2000-2009 dan bawah untuk tahun 1970-1979. Peta tidak menggambarkan suhu mutlak, akantetapi berapa banyak hangat atau dinginnya suatu daerah dibandingkan dengn norma untuk daerah yang sama pada 1951-1980. Masa itu dipilih terutama karena U.S. National Weather Servise menggunakan waktu tiga dekade untuk mendefinisikan "normal" atau suhu rata-rata. GISS melakukan usaha analisa suhu sekitar tahun 1980an, sehingga paling baru 30tahun adalah 1951-1980. Ini juga merupakan periode/masa ketika banyak orang dewasa saat ini tumbuh, sehingga merupakan acuan umum dimana banyak orang bisa mengingatnya.



Salam,

Aji PP