Showing posts with label Google Earth. Show all posts
Showing posts with label Google Earth. Show all posts

Tuesday, April 19, 2011

(Toponimi) Nama itu "Indonesia"

(Toponimi) Nama itu "Indonesia"
Di sela-sela membaca mengenai perubahan iklim, perubahan penutup lahan/penggunaan lahan, nama-nama wilayah di Bumi. Terfokuslah pada nama wilayah dimana penulis bertempat tinggal dan berkebangsaan yakni Indonesia.

Fenomena global seperti perubahan iklim hingga perubahan regional atau lokal seperti perubahan penutup lahan/penggunaan lahan dan pemekaran wilayah yang berkaitan pula dengan pembakuan nama-nama rupabumi, itulah fenomena kebumian yang sedang dipelajari oleh penulis dan merupakan hal-hal yang mesti diperhatikannya. Berbicara itu semua tidaklah berkaitan dengan judul yang diangkat apabila melihatnya secara langsung, tetapi fenomena kebumian yang sedang dipelajari tersebut merupakan rangkaian informasi ataupun data geospasial yang sedang dikumpulkan dalam berbagai aspek kajian yang berlokasi di suatu wilayah yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke (kurang lebih demikian yang didapat sewaktu kita belajar di sekolah dasar).

Indonesia, itulah namanya. Tulisan ini diangkat sebagai bagian dari hasil membaca sebuah tulisan berjudul "Asal Usul Nama Indonesia" tulisan oleh Irfan Anshory dalam Buletin Toponimi.

Siapa sangka, Indonesia memiliki beraneka ragam nama sebelum akhirnya dikenal sebagai bangsa Indonesia dan diakui oleh dunia. Tentunya yang menyangka itu ialah rekan-rekan yang mempelajari "Indonesia" dari segi bahasa, budaya ataupun aspek lainnya. Tapi sangat disayangkan penulis, baru menyadari arti pentingnya sebuah nama ketika mengenal topo dan onima.

Kawasan kepulauan Indonesia dalam catatan bangsa Tionghoa dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan), catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), bangsa Arab menyebutnya Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Lalu pada masa kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Persia, Arab, India dan China; mereka menyebut daerah yang terbentang luas antara China dan Persia semuanya adalah "Hindia". Tanah air kita (Indonesia) mendapat sebutan nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales).

Tatkala terjajah oleh Belanda, nama resminya ialah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan saat dijajah Jepang memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887) mengusulkan nama spesifik yaitu Insulinde yang berarti "Kepulauan Hindia" (bahasa latin insula berarti pulau), tapi sayangnya kurang populer. Kala itu tahun 1920an, Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli) memopulerkan nama "Nusantara", suatu istilah yang telah berabad-abad tenggelam. Diambilnya nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit.

Nama Indonesia

Singkat cerita, dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) Volume IV, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Di awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan kita, dipungutlah kata yang dibuang oleh Earl (Indunesia) dan mengganti huruf u dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Pertama kali "Indonesia" tercetak dan muncul di dunia ialah pada halaman 254 dalam tulisan Logan.

Putra bangsa ini yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Ki Hajar Dewantara dimana kala itu beliau dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 dan mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Berlanjut pada dasawarsa 1920-an, nama itu yakni "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" memiliki makna politis sebagai identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya.

Banyak organisasi hingga partai politik merubah namanya dengan tambahan "Indonesia", hingga akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1928 (peristiwa Sumpah Pemuda) nama itu, Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita. Atas kehendak Allah, jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Tanggal 17 Agustus 1945, Atas berkat rahmat Allah, lahirlah Republik Indonesia.

-usai-

Ingin membaca lebih lengkap, silahkan akses Buletin Toponimi Volume I, No. 1, Februari 2010.


Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar apa itu informasi yang berbau ruang dan waktu*

Tuesday, April 12, 2011

(Toponimi) Pemalang, juga nama Terumbu di Singapura

Berawal dari mencari "Pemalang" di dunia GeoNames ditemukanlah Pemalang, juga nama Terumbu di Singapura.

Sekedar iseng sembari belajar nama-nama, maka segeralah melakukan pencarian nama kota kelahiran yakni "Pemalang" di sebuah situs penyedia nama-nama rupabumi GeoNames. Walhasil muncullah beberapa nama Pemalang sebagai berikut:

sumber: http://www.geonames.org/

Untuk link lokasinya bisa diakses di:





Lokasi-lokasinya apabila dilihat via googlemaps (yang biru terumbu pemalang besar):


Lihat Terumbu Pemalang Besar di peta yang lebih besar

Lalu kalau Pemalang sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia letaknya dimana dan bagaimana sejarahnya?

Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W FRUIN MEES yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.

Untuk sejarah kota pemalang lebih lengkap bisa dilihat di situs pemerintah Kab. Pemalang: Sejarah, lokasinya bisa dilihat via google maps:



Muncul tanya, apakah yang memberi nama Terumbu itu orang Pemalang? yang menemukan orang Pemalang ataukah orang singapura yang pernah ke Pemalang? atau memang tidak ada keterkaitan dan hanya kebetulan semata?

Apa yang khas dari Pemalang? Makanannya yang mak grombyang : http://bumiwisata.blogspot.com/2009/06/melihat-pantai-dan-nikmati-grombyang.html

Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar nama-nama*


Monday, January 31, 2011

Tapak Kaki Stasiun Tugu (rindu) Yogyakarta

Tapak Kaki 29/01/2011 di Yogyakarta

Ingin melangkah dan tak memanjakan kaki...itulah awal mulanya fulan berjalan dari stasiun kereta api Tugu Yogyakarta (Gambar 1). Begitu keluar dari stasiun tugu di pagi buta, sapaan dari TAXI mas...Ojek Mas...Becak Mas...tak henti-hentinya berdengung di telinga. Hingga melewati sebuah titik dimana suara itu perlahan menghilang. Sekedar mengisi kerinduannya akan Jogja, rekaman langkah dan suasana sekitar diabadikan dengan tangkapan sederhana ala lg gw300. Belum sempat terunduh jadi baru bisa menyajikan rute perjalanannya saja (Gambar 2). Kali lain akan disajikan dalam format tak terstruktur yang berisi foto dan video (jika koneksi internet lancar seperti malam ini).



Gambar 1. Potret Ikon Stasiun Tugu Jogja (ditangkap gambarnya oleh Aji Putra Perdana dengan kamera yang telah terpasang pada hape lg gw300 dan disobek-sobek gambarnya dengan senekit) *difoto sebelum perjalanan 29/01/2011 hanya untuk ilustrasi sesaat*


Rute Perjalanan yang dilalui kala pagi itu 29/01/2011
Gambar 2. Rute yang ditempuh dalam Tapak Kaki 29/01/2011 di Yogyakarta

Berdasarkan kalkulasi dari maps.google.com berikut perhitungn rute yang dilalui:
Stasiun Tugu
Yogyakarta, Indonesia
1. Ke arah timur
210 m
2. Belok kiri di Jalan Pangeran Mangkubumi
550 m
3. Belok kanan untuk tetap di Jalan Pangeran Mangkubumi
8 m
4. Belok kiri untuk tetap di Jalan Pangeran Mangkubumi
180 m
5. Belok kanan di Jalan Jenderal Sudirman
450 m
6. Belok sedikit ke kanan untuk tetap di Jalan Jenderal Sudirman
130 m
7. Belok kiri di Jalan Corner Simanjuntak
1,0 km
8. Terus ke Jalan Kaliurang
1,9 km
Jalan Kaliurang


Total ditempuh dengan 57menit dengan panjang 4,4 kilometer. Itu menurut perhitungan, akan tetapi berhubung yang jalan sambil benar-benar menapakkan kakinya dan berhenti sejenak mengambil tangkapan dalam gambar-gambar dan video amatir jadinya lebih dari 1 jam perjalanan itu ditempuh. Tiap langkah seakan berarti karena di tiap langkah itu pula tiap ruang dan waktu kehidupan yang berbenturan dengan ruang publik dimana di situlah terdapat aktivitas dari individu-individu maupun sekelompok manusia mulai bergerak di pagi itu. Ada aktivitas sekelompok tukang ojek, supir taxi, tukang becak, ada angkringan-man sedang menyiapkan lapaknya, ada distributor-distributor koran sedang memilah,menghitung,mengambil dan membawa bertumpuk-tumpuk koran, dari yang berkendara dengan motor, jalan kaki, dan sepeda. Semakin siang mencapai jalan kaliurang mulai tampak lalu-lalang kendaraan bermotor nan berasap, pagi pun tak lagi buta terbangunkan matanya akibat asap-asap itu.

‎+ langkah setapak demi setapak menjejaki alas buatan manusia berada di sekian kilometer kehidupan di dunia, melihat senja dan kini menatap pagi, merasakan manis dan jilatan pahit, biarkan kakimu melangkah dan menyentuh bumi tak termanjakan oleh mesin atau teknologi, biarkan matamu menatap sekitar tak hanya menatap layar #nikmati senja di sana dan pagi ku tlah di sini, hidup adalah perjalanan ruang dan waktu

- sekedar menulis, masih berlanjut dan tentusaja bersambung, karena titik itu belum berhenti -

Salam,

Aji Putra Perdana

Sunday, December 5, 2010

Hujan Terus Menerus di Jogja _ daily rainfall in Jogja

Hujan Terus Menerus di Jogja _ daily rainfall in Jogja

Fenomena hujan sehari-hari yang melanda Jogja bahkan Indonesia secara keseluruhan juga diamati oleh citra satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) NASA.
The Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) is a joint mission between NASA and the Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) designed to monitor and study tropical rainfall.

Badai Atlantik 2010 dibandingkan dengan Badai Atlantik 2005 sebagai top story pada saat kunjungan hari ini (6 Desember 2010) seperti tampak pada Gambar 1 di bawah ini.

  TOP STORY TITLE
26 November 2010
Gambar 1. 2010 ATLANTIC HURRICANE SEASON COMPARED TO 2005


Kembali mencari bagaimana kondisi hujan di Jogja dari TRMM. Kemudian didapatlah http://trmm.gsfc.nasa.gov/affinity/download_kmz.html. Dimana kita dapat mendownload dan mengoverlaykannya dengan Google Earth untuk mendapatkan gambaran kondisi hujan pada area yang kita kehendaki.

berikut tampilan dari data TRMM untuk REALTIME 30 Day Average Rainfall and 30 Day Anomalous Rainfall untuk Yogyakarta dengan data kmz yang diunduh dari

http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/30_day_average.kml dan

http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events 30_day_anomaly.kml dilanjut dengan membukanya di Google Earth (posisi online).


Gambar 2. Anomali Hujan 30 hari di Yogyakarta berdasarkan TRMM

Gambar 3. Rerata Hujan 30 hari di Yogyakarta berdasarkan TRMM

Hujan pun belum juga berhenti, saat bingung mau nulis apa lagi :p
Apabila saudara tertarik untuk melihat sendiri di layar monitor/laptop, silahkan unduh di http://trmm.gsfc.nasa.gov/affinity/download_kmz.html dan bukalah di Google Earth (posisi online).

Salam,
Aji PP

Thursday, November 25, 2010

(Peta) Bahaya Merapi versi 2 Dunia

(Peta) Bahaya Merapi versi 2 Dunia

Kembali lagi bersama pantauan Merapi ala kadarnya, menatap indahnya dunia maya tentu sangatlah menyenangkan apabila berkunjung ke beberapa situs ataupun blog lainnya. Membaca text berjalan di salah satu stasiun TV swasta yang menuliskan bahwa "BNPB (mengatakan) : tanggap darurat Merapi hingga tanggal 9 Desember 2010". Hal ini membuat rasa penasaran kembali muncul untuk melihat bagaimana update (peta) dari 3 dunia. Sangatlah disayangkan geospasial BNPB tidak bisa diakses pagi ini (26 11 2010 pukul 09.00 WIB) yang dimungkinkan karena overload (too many peoples in the geospatial world access this site) - muncul tulisan Fatal error: Out of memory ......

Walhasil, pagi ini hanya bisa menatap (Peta) Bahaya Merapi versi 2 Dunia yakni Peta Partisipatif Forum PRB dan Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) .

Mari mulai dengan Peta Partisipasi, di dalam peta berbasis web dengan background data dari googlemaps tampaklah dua tab tambahan yakni Data dan Legenda. Jika kita melakukan klik pada Legenda maka akan muncul informasi keterangan mengenai layer-layer atau gambar yang tersaji pada peta ini. Jika kita meng-klik pada Data, maka akan muncul dua opsi tab yakni data posko dan data layer. Lanjutkan dengan memilih pada data layer, maka akan tampillah di situ POSKO dengan Damage Loss Assessment (menjawab pertanyaan postingan sebelumnya http://ajiputrap.blogspot.com/2010/11/akhirnya-datang-juga-peta-kerusakan.html) , ada pula Lapis data dasar dan Lapis data tematik (bukan lapis legit loch :)...).

Di dalam POSKO - Damage Loss Assessment, terdapat opsi layer :

Lapis data dasar terdiri dari :
  • Sungai Utama
  • Gunung
  • Desa Masuk Radius Ancaman per 19/11
Lapis data tematik terdiri dari beberapa layer-layer berikut:
  • Demografi
  • KRB Merapi Pre Erupsi 2010 (sumber:BPPTK)
  • Ancaman Banjir Lahar Dingin (sumber:PU)
  • Lokasi Sabo Cek Dam (sumber:PU)
  • Ancaman Tanah Longsor (sumber:Dir. Geologi)

Gambar PrinctScreen website Peta Partisipatif PRB

Kurang lebih itulah gambaran update (Peta) Bahaya Merapi versi partisipasi. Lalu bagaimana dengan versi blogspot ala cybergisforum ? Ternyata di dalam postingannya KLMB Fakultas Geografi UGM mengeluarkan (Peta) Bahaya Merapi (Hipotetik). Apa itu Hipotetik ??? Tidak ada penjelasan di dalam postingannya mengenai apa yang mendasari pembuatan peta tersebut dan apa itu Hipotetik?.

Fulan berkata : 'maksudnya itu baru Peta Hipotetik, sehingga masih perlu dilakukan kajian mendalam untuk mengukur atau mengetahui potensi bahaya yang mungkin terjadi. kalau tidak salah. Btw busway anyway, daripada salah saya searchingkan di internet dan berikutlah penjelasan apa itu Hipotetik. Hipotetik itu termasuk salah satu dari Silogisme. Silogisme merupakan suatu penalaran yang formal. Secara singkat silogisme dapat dituliskan

JikaA=B dan B=C maka A=C

Silogisme terdiri dari ; Silogisme Katagorik, Silogisme Hipotetik dan Silogisme Disyungtif.

Silogisme Hipotetik

Silogisme Hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.

Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:

1. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:

Jika hujan, saya naik becak.

Sekarang hujan.

Jadi saya naik becak.

2. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya, seperti:

Bila hujan, bumi akan basah.

Sekarang bumi telah basah.

Jadi hujan telah turun.

3. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:

Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka

kegelisahan akan timbul.

Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa,

Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

4. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:

Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah.

Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.

Hukum-hukum Silogisme Hipotetik

Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan ‘kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.

Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen .engan B, jadwal hukum silogisme hipotetik adalah:

1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.

2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)

3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)

4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.

Kebenaran hukum di atas menjadi jelas dengan penyelidikan

berikut:

Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi

Nah, peperangan terjadi.

Jadi harga bahan makanan membubung tinggi.( benar = terlaksana)

Benar karena mempunyai hubungan yang diakui kebenarannya

Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi

Nah, peperangan terjadi.

Jadi harga bahan makanan tidak membubung tinggi (tidak sah = salah)

Tidak sah karena kenaikan harga bahan makanan bisa disebabkan oleh sebab atau faktor lain.


Berikut tertulis di dalam blognya mengenai bahaya Merapi (hipotetik) :

Semoga bermanfaat. (sumber : pubdok/CGF)

Demikian pantauan iseng hari ini, tulisan di atas sebagian besar merupakan cuplikan alias tampil ulang dari berbagai sumber yang telah disebutkan ditambah sedikit sekali ulasan.

Salam,
app (aji pantau peta)

*Maaf tulisan kali ini tidak memuat unsur yang menarik dibaca terkait pembelajaran geospasial, kebencanaan, dan lain sebagainya (*cuman mantau peta-peta gaweane para pemeta) tidak ada maksud dan tujuan apapun, namun yang pasti tulisan kali ini ialah suatu upaya untuk membangkitkan gairah si penulis sendiri untuk bisa menulis ilmiah nantinya. Sekedar iseng semata setelah melihat kejadian nyata...upss :). piss..piss...

Terimakasih atas kesediaanya membaca...
Bagi para blog walker, follower, reader, etc...mari berjalan-jalan bersama-sama...for better Indonesia... MERDEKA !!!


Salam,
^app^

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing"
http://ajiputrap.blogspot.com/
http://geospatialvision.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/
http://gisresetutor.blogspot.com/
diganti dengan http://geospatialinfo.blogspot.com/
http://ajiputrap.wordpress.com/

Wednesday, November 24, 2010

(Potret) Merapi dan (Potret) Krakatau

Eruption at Mount Merapi, Indonesia

Posted November 17, 2010
Eruption at Mount Merapi, Indonesia
download large image (2 MB, JPEG) acquired November 15, 2010
download GeoTIFF file (52 MB, TIFF) acquired November 15, 2010
download Google Earth file (KML)

Dapat dilihat pada Gambar erupsi Gunung Merapi di atas adanya beberapa obyek yang cukup jelas ditunjukkan dengan text dan garis penunjuknya. Di bagian atas ditunjukkan lokasi Gunungapi Merapi dan adanya awan yang menutupi Gunungapi Merapi abu vulkanik yang mengarah ke barat. Ditunjukkan pula dua sungai yang berhulu di Gunungapi Merapi yakni Sungai/Kali Gendol dan Sungai/Kali Woro dimana terlihat sungai yang tidak berair lagi atau kering dan tertutup pasir. Tampak adanya sebuah pola garis cacing atau ular berkelok-kelok mengumpul yakni lapangan golf dan tepat di atasnya ialah area yang terkena dampak erupsi Gunungapi Merapi. Vegetasi-vegetasi rusak akibat terkena awan panas serta ditunjukkan pula aliran piroklastik / deposit lahar dingin Gunungapi Merapi.

Dalam situsnya yang memuat Gambar Gunungapi Merapi tersebut di atas sebagai image of d-day untuk tanggal 17 November 2010 (dimana gambar citra satelit adalah citra ASTER yang dibawa satelit Terra milik NASA), NASA menjelaskan bahwa:

Bahaya utama selama letusan yang terjadi di Gunungapi Merapi yaitu aliran piroklastik. Longsoran gas vulkanik panas,abu, dan batuan ini turun dengan cepat dan keras, kadang-kadang pada kecepatan lebih dari 150 kilometer (90 mil) per jam. Aliran piroklastik ini biasanya disalurkan mengikuti kondisi medannya, namun arus besar dan keras menyebabkan dapat menyebar pada area/wilayah yang luas.

Gambar satelit dengan komposit warna semua dari instrumen ASTER pada satelit Terra NASA menunjukkan bukti aliran yang besar di sepanjang Sungai Gendol selatan Gunung Merapi. Deposito vulkanik berwarna abu-abu cerah (baik dari aliran piroklastik atau lahar) mengisi aliran sungai Gendol. Hanya utara Merapi Golf Course (obyek warna merahcerah) adalah daerah yang lebih luas di mana aliran piroklastik tersebar di seluruh lanskap, menyebabkan kehancuran hampir total. Dalam hal ini daerah abu-abu gelap, sebagian besar pohon rusak dan tanah dilapisi dengan abu dan batu. Deposito arus sebagian besar dikelilingi oleh vegetasi sehat, berwarna merah cerah. Abu berwarna abu-abu cerah meluas ke arah barat gunungapi Merapi, mengikuti arah angin yang bergerak. Dekat pusat abu, hujan abu yang tebal telah dilapisi ladang dan hutan, mewarnai mereka dari merah kusam menjadi abu-abu.

References

  1. Digital Globe. (2010, November). Mount Merapi, Indonesia. Accessed November 15, 2010.
  2. USGS. (n.d.) Pyroclastic Flows and Pyroclastic Surges. Accessed November 15, 2010.

Source : http://earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=46975


---- Selain Gunungapi Merapi, NASA juga memantau dan menjadikan Gunung Krakatau, Indonesia sebagai image of d-day mereka---

Krakatau, Indonesia

Posted November 23, 2010 Krakatau, Indonesia
download large image (952 KB, JPEG) acquired November 17, 2010
download Google Earth file (KML) acquired November 17, 2010

source and detail info from NASA : http://earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=47143

++ Informasi kondisi Gunung Krakatau dari Badan Geologi berdasarkan Perkembangan Kegiatan G. Krakatau hingga tanggal 16 Desember 2007 pukul 06.00 WIB diperoleh kesimpulan bahwa :

Berdasarkan data visual dan kegempaan, maka status G. Krakatau masih dalam status SIAGA (Level III) sejak 26 Oktober 2007 pkl. 16.00 WIB.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Demikian pantauan di dunia maya menatap kondisi Gunung di Indonesia. Semoga semua pergolakan akan segera reda dan tidak akan menjadi project semata.

Lokasi Merapi (A), Krakatau (B) dan Bromo (C) pada googlemaps :


View Larger Map

Demikian pantauan iseng hari ini, tulisan di atas sebagian besar merupakan cuplikan alias tampil ulang dari berbagai sumber yang telah disebutkan ditambah sedikit sekali ulasan.

Salam,
app (aji pantau peta)

*Maaf tulisan kali ini tidak memuat unsur yang menarik dibaca terkait pembelajaran geospasial, kebencanaan, dan lain sebagainya (*cuman mantau peta-peta gaweane para pemeta) tidak ada maksud dan tujuan apapun, namun yang pasti tulisan kali ini ialah suatu upaya untuk membangkitkan gairah si penulis sendiri untuk bisa menulis ilmiah nantinya. Sekedar iseng semata setelah melihat kejadian nyata...upss :). piss..piss...

Terimakasih atas kesediaanya membaca...
Bagi para blog walker, follower, reader, etc...mari berjalan-jalan bersama-sama...for better Indonesia... MERDEKA !!!


Salam,
^app^

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing"
http://ajiputrap.blogspot.com/
http://geospatialvision.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/
http://gisresetutor.blogspot.com/
diganti dengan http://geospatialinfo.blogspot.com/
http://ajiputrap.wordpress.com/

Sunday, November 21, 2010

Akhirnya datang juga : Peta Kerusakan Akibat Merapi

Akhirnya datang juga : Peta Kerusakan Akibat Merapi

Seperti halnya pasca kejadian bencana alam lainnya, setelah tahapan mengungsi dilalui dan kondisi secara perlahan kian membaik, maka muncullah saatnya "perhitungan" yang berupa kerusakan akibat bencana Merapi atau basa londone Damage caused by Merapi Disaster, demikian ujar fulan di pagi ini (22/11/2010) kala akses internet mulai berjalan dan kembali menatap 3 dunia peta bencana Merapi (http://ajiputrap.blogspot.com/2010/11/memetakan-peta-peta-merapi-ala-3-dunia.html).

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tampak di sudut geospasial bnpb mengeluarkan Peta Jumlah Kerusakan Rumah di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Prov. D.I. Yogyakarta.

Jumlah kerusakan rumah di Kec. Cangkringan Kab. Sleman

Jumlah kerusakan rumah di Kec. Cangkringan Kab. Sleman

Peta di atas memiliki resolusi rendah dan mengalami distorsi informasi. Untuk mendapatkan peta dalam ukuran sebenarnya, Anda bisa mendownload peta tersebut di sini, atau klik link download.

Detail:

Jenis Peta : Peta jumlah kerusakan rumah di Kec. Cangkringan, Kab. Sleman
Sumber : POKSO BNPB, 19 November 2010 jam 12.00
Tanggal Pembuatan : 19 November 2010
Format/Ukuran File : Pdf / 725 kb
Deskripsi : Menunjukkan jumlah kerusakan rumah pada tingkat dusun dan desa di Kec. Cangkringan


Selain itu, geospasial bnpb melakukan visualisasi dengan menumpangsusunkan wilayah Ancaman Bahaya Gunung Merapi di atas Peta RupaBumi Indonesia (RBI) keluaran BAKOSURTANAL.

Peta Rupabumi (RBI) wilayah ancaman bahaya G. Merapi skala 1 : 25.000

Peta Rupabumi (RBI) wilayah  ancaman bahaya G. Merapi skala 1 : 25.000

Peta di atas memiliki resolusi rendah dan mengalami distorsi informasi. Untuk mendapatkan peta dalam ukuran sebenarnya, Anda bisa mendownload peta tersebut di sini, atau klik link download.

Detail:

Jenis Peta : Peta Rupabumi wilayah ancaman bahaya G. Merapi
Sumber : POKSO BNPB, 21 November 2010 jam 12.00
Tanggal Pembuatan : 21 November 2010
Format/Ukuran File : Pdf / 6.23 mb
Deskripsi : Peta dasar wilayah Merapi 25K

sumber : geospasial bnpb
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di sudut lain, pegiat kampus Fakultas Geografi UGM dalam wadahnya Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) via blog postingnya membagikan Peta Kerusakan Bangunan.

Berikut cuplikan dari postingan terkait dasar analisa (based on multisource data) yang dipergunakan untuk menurunkan Peta Kerusakan Bangunan tersebut. Secara ringkas peta dibuat berdasarkan tumpangsusun data bangunan (keberadaannya berdasarkan data dari Peta RupaBumi Indonesia keluaran BAKOSURTANAL dan ditinjau dengan citra satelit resolusi detil yakni Ikonos tahun 2006) lalu dikalkulasi.

Kerusakan bangunan yang terjadi akibat terjangan awan panas yang dikeluarkan oleh gunung Merapi kami coba estimasi dengan menggunakan beberapa sumber data. Pada dasarnya pendekatan yang kami gunakan adalah dengan mengidentifikasi dan menginventarisasi bangunan yang ada sebelum terjadinya erupsi Merapi 2010 yang kemudian dibandingkan dengan luasan yang tersapu awan panas. Kedua data tersebut kemudian kami bandingkan dan ditarik suatu model bahwa bangunan yang tersapu awan panas adalah bangunan yang rusak.

Data keberadaan bangunan sebelum kejadian erupsi Merapi 2010 kami ambil dari data Peta Rupa Bumi Indonesia Digital yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal dan kami tinjau dengan menggunakan citra Ikonos tahun 2006 (Resolusi 1 m). Sementara itu data mengenai luasan daerah yang tersapu awan panas, kami dapatkan dengan menginterpretasi citra Aster perekaman setelah erupsi (15 November 2010). Untuk lebih jelasnya berikut kami sampaikan peta hasil analisis divisi SIG dan Basis Data KLMB.
Download ukuran penuh

sumber : KLMB Fakultas Geografi UGM

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di sudut yang dekat dengan KLMB ada sudut partisipatif dengan fasilitas login serta pemanfaatan peta berbasis googlemaps api untuk Merapi yakni Peta Partisipatif Forum PRB yang beralamat di http://merapi-partisipasi.ugm.ac.id/.

Printscreen tampilan Peta Partisipatif PRB
sumber : http://merapi-partisipasi.ugm.ac.id/


Tampak terlihat titik-titik posko pengungsian padat berjejal diantara ukuran simbol titik yang relatif berukuran. Belum menampakkan adanya "perhitungan" alias peta kerusakan yang ditelorkan, mungkin sebentar lagi. Ada informasi di tiap simbol titik yang merepresentasikan lokasi posko, serta beberapa tab di dalamnya berisi informasi Info,Logistik,Kesehatan,Pendidikan. Tak lupa ada link untuk melihat detil kualitas posko yang disambungkan ke spreadsheet di googledocs.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Demikian pantauan iseng hari ini, tulisan di atas sebagian besar merupakan cuplikan alias tampil ulang dari berbagai sumber yang telah disebutkan ditambah sedikit sekali ulasan.

Salam,
app (aji pantau peta)

*Maaf tulisan kali ini tidak memuat unsur yang menarik dibaca terkait pembelajaran geospasial, kebencanaan, dan lain sebagainya (*cuman mantau peta-peta gaweane para pemeta) tidak ada maksud dan tujuan apapun, namun yang pasti tulisan kali ini ialah suatu upaya untuk membangkitkan gairah si penulis sendiri untuk bisa menulis ilmiah nantinya. Sekedar iseng semata setelah melihat kejadian nyata...upss :). piss..piss...

Terimakasih atas kesediaanya membaca...
Bagi para blog walker, follower, reader, etc...mari berjalan-jalan bersama-sama...for better Indonesia... MERDEKA !!!


Salam,
^app^

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing"
http://ajiputrap.blogspot.com/
http://geospatialvision.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/
http://gisresetutor.blogspot.com/ diganti dengan http://geospatialinfo.blogspot.com/
http://ajiputrap.wordpress.com/