Showing posts with label Republik Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Republik Indonesia. Show all posts

Tuesday, April 19, 2011

(Toponimi) Nama itu "Indonesia"

(Toponimi) Nama itu "Indonesia"
Di sela-sela membaca mengenai perubahan iklim, perubahan penutup lahan/penggunaan lahan, nama-nama wilayah di Bumi. Terfokuslah pada nama wilayah dimana penulis bertempat tinggal dan berkebangsaan yakni Indonesia.

Fenomena global seperti perubahan iklim hingga perubahan regional atau lokal seperti perubahan penutup lahan/penggunaan lahan dan pemekaran wilayah yang berkaitan pula dengan pembakuan nama-nama rupabumi, itulah fenomena kebumian yang sedang dipelajari oleh penulis dan merupakan hal-hal yang mesti diperhatikannya. Berbicara itu semua tidaklah berkaitan dengan judul yang diangkat apabila melihatnya secara langsung, tetapi fenomena kebumian yang sedang dipelajari tersebut merupakan rangkaian informasi ataupun data geospasial yang sedang dikumpulkan dalam berbagai aspek kajian yang berlokasi di suatu wilayah yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke (kurang lebih demikian yang didapat sewaktu kita belajar di sekolah dasar).

Indonesia, itulah namanya. Tulisan ini diangkat sebagai bagian dari hasil membaca sebuah tulisan berjudul "Asal Usul Nama Indonesia" tulisan oleh Irfan Anshory dalam Buletin Toponimi.

Siapa sangka, Indonesia memiliki beraneka ragam nama sebelum akhirnya dikenal sebagai bangsa Indonesia dan diakui oleh dunia. Tentunya yang menyangka itu ialah rekan-rekan yang mempelajari "Indonesia" dari segi bahasa, budaya ataupun aspek lainnya. Tapi sangat disayangkan penulis, baru menyadari arti pentingnya sebuah nama ketika mengenal topo dan onima.

Kawasan kepulauan Indonesia dalam catatan bangsa Tionghoa dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan), catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), bangsa Arab menyebutnya Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Lalu pada masa kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Persia, Arab, India dan China; mereka menyebut daerah yang terbentang luas antara China dan Persia semuanya adalah "Hindia". Tanah air kita (Indonesia) mendapat sebutan nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales).

Tatkala terjajah oleh Belanda, nama resminya ialah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan saat dijajah Jepang memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887) mengusulkan nama spesifik yaitu Insulinde yang berarti "Kepulauan Hindia" (bahasa latin insula berarti pulau), tapi sayangnya kurang populer. Kala itu tahun 1920an, Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli) memopulerkan nama "Nusantara", suatu istilah yang telah berabad-abad tenggelam. Diambilnya nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit.

Nama Indonesia

Singkat cerita, dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) Volume IV, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Di awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan kita, dipungutlah kata yang dibuang oleh Earl (Indunesia) dan mengganti huruf u dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Pertama kali "Indonesia" tercetak dan muncul di dunia ialah pada halaman 254 dalam tulisan Logan.

Putra bangsa ini yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Ki Hajar Dewantara dimana kala itu beliau dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 dan mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Berlanjut pada dasawarsa 1920-an, nama itu yakni "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" memiliki makna politis sebagai identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya.

Banyak organisasi hingga partai politik merubah namanya dengan tambahan "Indonesia", hingga akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1928 (peristiwa Sumpah Pemuda) nama itu, Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita. Atas kehendak Allah, jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Tanggal 17 Agustus 1945, Atas berkat rahmat Allah, lahirlah Republik Indonesia.

-usai-

Ingin membaca lebih lengkap, silahkan akses Buletin Toponimi Volume I, No. 1, Februari 2010.


Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar apa itu informasi yang berbau ruang dan waktu*

Monday, April 18, 2011

Perjalanan Teknologi Survey Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial

Perjalanan Teknologi Survey Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial

Gambar1. Buku "INFRASTRUKTUR INFORMASI GEOSPASIAL NASIONAL"

Sebuah catatan ringan yang bersumber dari Kata Pengantar dan Bab I sebuah Buku berjudul "INFRASTRUKTUR INFORMASI GEOSPASIAL NASIONAL" karya Prof. Dr. Ir. Jacub Rais, M.Sc terbitan BAKOSURTANAL.

Beliau mengantarkan buku ini dengan rangkaian kata awal berupa apa itu "Data Spasial" dilanjutkan dengan sifat keruangan di Bumi yang kini dikenal dengan istilah "Geospasial" sebagai kosakata baru dalam era teknologi informasi. Informasi tersebut juga ada secara absolut di Bumi melalui sistem koordinat "geodetik", adanya satelit GPS membantu menentukan posisinya yang teliti di Bumi ini. Dilanjutkan dengan perlunya koordinasi pemetaan di Indonesia (sejarah dibentuknya BAKOSURTANAL).

Ada hal yang sangat menarik yakni penjelasan mengenai asal usul istilah "data spasial" pada Kata Pengantar Buku ini. Banyak yang mengira bahwa istilah data spasial merupakan nomenklatur yang diciptakan oleh para profesi pembuat peta, tetapi yang sebenarnya istilah data spasial justru datang dari para ahli statistik dunia dan para perencana regional dunia yang berkumpul di suatu kota kecil Perancis Saint-Maximin 24-28 Mei 1971. Kala itu, mereka merasa bahwa data statistik yang selama ini dipergunakan dalam perencanaan tidaklah cukup untuk mengambil keputusan mengenai alokasi dan lokasi sumberdaya alam, sehingga diperlukan adanya data yang "berdimensi spasial" bukan data statistik semata. Kemudian dimunculkanlah istilah "Data Banks for Development" (1971) untuk data berdimensi spasial, yang selanjutnya berkembang menjadi "Geographic Data Handling" (1975) kemudian menjadi Geo-referenced Information System (1980) dan seterusnya GIS, dan sebagainya.

Itulah sekelumit kata pengantar, dilanjut ke Bab I yang mengambil judul "Pengembangan Teknologi Survei dan Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial". Sewaktu membaca Bab I ini seakan dibawa ke dalam sebuah perjalanan ruang dan waktu dari informasi geospasial, data geospasial hingga infrastruktur data spasial.

Alkisah, sejak revolusi industri pertama di pertengahan abad ke-18 hingga kini dunia telah memasuki revolusi ke-5 yaitu revolusi industri informasi dan komunikasi yang telah menguasai seluruh aktivitas kehidupan manusia. Saat ini hampir semua sektor telah bergelut untuk membangun informasi geospasial sesuai kebutuhan masing-masing dalam berbagai tingkatan baik lokal, nasional bahkan internasional.

Dalam Bab I ini, Beliau menuliskan pengertian mengenai Informasi dan Data Geospasial dalam bahasa kebumian. Informasi geospasial adalah informasi yang terkait ruang muka bumi maupun ruang di bawah muka bumi, seperti informasi tentang sumberdaya mineral, minyak dan gas bumi serta peristiwa yang terjadi di muka bumi/di bawah muka bumi. Data Geospasial adalah data yang terpetakan atau ter-rekam secara keruangan, seperti peta, citra dari udara dan ruang angkasa.

Di era pra satelit, informasi geospasial disajikan di atas daun papyrus (kebudayaan Mesir Kuno di lembah Nile), di atas tablet tanah liat (Euphrat dan Tigris di lembah Mesopotamia) dan di masa Kerajaan Romawi dengan peta-peta di atas marmer. Sejak penemuan bahan kertas di Cina hingga ketrampilan membuat kertas menjalar ke Jepang dan baru pada tahun 1276 pabrik kertas pertama dibangun di Eropa.

Sejarah satelit, dimulai sejak peluncuran satelit sumberdaya alam ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite) di tahun 1972 dengan resolusi spasial 80 meter, hingga kini dunia telah menghadapi informasi dengan ketelitian hinggga 0,5 meter-1meter dari satelit WorldView-2, Quickbird, IKONOS, dsb. Informasi geospasial ini telah membantu manusia dalam peningkatan manajemen dan perlindungan ruang hidup manusia dengan efektivitas dan efisiensi dalam pembangunan ekonomi dari sumberdaya.

Resolusi di atas mensyaratkan data geospsial yang dapat dipercaya dan dengan biaya yang dapat dijangkau, dapat diakses secara tepat waktu dan efisien sebagai bagian dari realisasi janji-janji "information society". Hal tersebut apabila kita melihat berita yang sedang booming sekarang yakni disahkannya RUU IG.

Terkait informasi untuk umum tersebut, maka perlu adanya infratruktur informasi, termasuk infrastruktur data geospasial sebagai fasilitas jasa data Geospasial yang terstruktur. Berkembangnya infrastruktur geospasial menjadi terpacu oleh berkembangnya teknologi dijital (komputer) dan telekomunikasi.

---usai---


Untuk lebih lanjutnya silahkan akses langsung Buku "Infrastruktur Informasi Geospasial Nasional" tersebut.


Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar apa itu informasi yang berbau ruang dan waktu*

Tuesday, April 5, 2011

(GeospatialInfo) RUU Informasi GEOSPASIAL Disetujui DPR

RUU Informasi GEOSPASIAL Disetujui DPR

Begitulah judul berita yang sedang HOT di Bakosurtanal sebagai badan yang mengelola informasi geospasial secara nasional.

Berikut pers rilis terkait UU Informasi GEOSPASIAL yang dikutip langsung dari situs Bakosurtanal:

Rilis Pers

UU tentang Informasi Geospasial

RUU tentang Informasi Geospasial (RUU-IG) yang diajukan Pemerintah kepada DPR-RI pada tanggal 16 Februari 2010, telah disetujui Rapat Kerja Komisi VII DPR-RI dan Pemerintah untuk dibawa ke Sidang Paripurna DPR-RI mendatang. Pemerintah diwakili Menteri Negara Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, dan pimpinan Komisi VII telah menandatangani naskah persetujuan tersebut. Selanjutnya naskah otentik RUU-IG serta penjelasannya pun telah diparaf para pimpinan fraksi di Komisi VII dan Kepala Bakosurtanal, Asep Karsidi, sebagai wakil pemerintah.

RUU tentang Informasi Geospasial (RUU-IG) yang diajukan Pemerintah kepada DPR-RI pada tanggal 16 Februari 2010, telah disetujui Rapat Kerja Komisi VII DPR-RI dan Pemerintah untuk dibawa ke Sidang Paripurna DPR-RI mendatang. Pemerintah diwakili Menteri Negara Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, dan pimpinan Komisi VII telah menandatangani naskah persetujuan tersebut. Selanjutnya naskah otentik RUU-IG serta penjelasannya pun telah diparaf para pimpinan fraksi di Komisi VII dan Kepala Bakosurtanal, Asep Karsidi, sebagai wakil pemerintah.

Bagi segenap Warga Negara Indonesia (WNI), hadirnya UU-IG merupakan satu jaminan yang melengkapi hak dalam memperoleh informasi untuk meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas lingkungan sosial sebagaimana dituangkan pada Pasal 28F, UUD 1945. Lahirnya UU-IG juga didedikasikan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya di negeri ini bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, di masa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana diamanatkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
UU-IG memuat prinsip penting, bahwa informasi geospasial dasar (IGD) dan secara umum informasi geospasial tematik (IGT) yang diselenggarakan instansi pemerintah dan pemerintah daerah bersifat terbuka. Semangat UU ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Artinya segenap WNI dapat mengakses dan memperoleh IGD dan sebagian besar IGT untuk dipergunakan dan dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan. Masyarakat pun dapat berkontribusi aktif dalam pelaksanaan penyelenggaraan IG, sehingga diharapkan industri IG dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sementara itu segenap penyelenggaraan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah yang terkait dengan geospasial (ruang-kebumian) wajib menggunakan IG yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perlu pula disampaikan prinsip lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu bahwa IGT wajib mengacu kepada IGD. Prinsip atau aturan ini diberlakukan untuk menjamin adanya kesatupaduan (single referency) seluruh IG yang ada. Sehingga tidak ada lagi kejadian tumpang tindih IG dan perbedaan referensi geometri pada IG. Sebagaimana dimaklumi, tumpang tindihnya pembuatan berbagai IG, atau lebih dikenal secara umum dengan kata "peta", saat ini masih sering terjadi, hal ini mengakibatkan borosnya anggaran pembangunan. Sementara itu perbedaan referensi geometris sering berakibat pada ketidakpastian hukum. Ketika dua atau lebih kawasan digambarkan secara tidak akurat di lapangan, misalnya terjadi pada ketidaksepahaman masalah batas wilayah administratif hingga masalah batas wilayah negara, atau antara kawasan tertentu kehutanan dengan kawasan pengelolaan pertambangan.

IGD secara definisi di dalam UU-IG terdiri atas jaring kontrol geodesi dan peta dasar. Jaring kontrol geodesi menjadi acuan referensi posisi horizontal dan vertikal serta acuan gayaberat. Peta dasar merepresentasikan berbagai unsur penting di muka bumi yang dapat menjadi acuan geometris (titik, garis dan poligon atau luasan) di darat, pesisir dan laut, seperti garis pantai, hipsografi (garis kontur dan/atau garis batimetri), jaringan transportasi dan utilitas, hidrologi (perairan), batas wilayah, nama geografis (atau nama rupabumi), bangunan dan fasilitas umum, dan penutup lahan.

IGT adalah informasi geospasial yang memuat satu atau lebih tema tertentu. IGT sangat beragam, baik pada pemerintahan ataupun pada masyarakat. Instansi pemerintah bertanggung jawab menyelenggarakan IG terkait dengan tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing. Contoh IGT yang diselenggarakan dalam rangka pemerintahan antara lain IG: pertanahan, kehutanan, pertanian, perkebunan, kelautan, pertambangan, perhubungan, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup, penataan ruang, pariwisata, cagar alam, dan penanggulangan bencana. Sementara masyarakat dan badan usaha dapat menyelenggarakan IGT, seperti informasi perkotaan, perhotelan, restoran, panduan navigasi elektronik, perumahan/real estate, dan lain-lain. Mereka dapat membuat IG untuk kepentingan sendiri atau sebagai komoditas komersial dalam jasa IG.

Kami berharap dengan lahirnya UU-IG ini dapat menjamin kemudahan akses untuk memperoleh IG yang sistematis, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga kebijakan dan pelayanan publik, khususnya yang terkait dengan kebijakan ruang-kebumian, akan lebih akurat dan terpercaya. Selain itu industri IG dapat tumbuh, hingga pemanfaatan IG dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat di tanah air.

Untuk lebih lanjut silahkan akses ke tkp (sumber: http://bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/ruu-informasi-geospasial-disetujui-dpr-2/)


Salam,
Aji Putra Perdana

Monday, January 24, 2011

Dulu out of the box, sekarang in (the) box?

Dulu out of the box, sekarang in (the) box?

Ketika kukembali terduduk dan terpaku pada sebuah laptop yang telah cukup banyak membantuku, maka tertuanglah tautan kata yang tidak beraturan dan mungkin tanpa nada hingga kadang lupa akan adanya dan perlunya sebuah tanda baca. Sebuah rahasia di balik rahasia dan hanyalah Sang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui Segala Sesuatu yang mempunyai rencana kehidupan terbaik bagi hamba-Nya. [Berfikir dan Bertindak] dulu out of the box, sekarang in (the) box, kurang lebih itulah yang terpendam dan masih menjadi tanda tanya di dalam benak fulan hingga saat tulisan ini tertuang dalam sebuah blog 'uncertainty' dari sisi konten secara spatially explicit tidak karuan.

Ya...semakin tidak karuan kala kata-kata itu mengalir dengan seenaknya sendiri dan dibiarkan begitu saja oleh jari-jemari yang terus menyentuh keyboard dan menuangkannya dalam halaman kosong hingga penuh berisi. Isi, ketika berbicara mengenai isi, kurang lebih itulah saat dimana saat ini fulan berada. Fulan sedang melihat seluruh isi yang dulu kala ditatapnya dari luar kotak dan kini fulan berada di dalam kotak itu sendiri dan melihat berbagai sudut yang ada di dalam kotak, berbagai sisi yang tampak di dalam dan bukan dari kulitnya semata. Secara live pun, fulan telah bertemu dengan sosok-sosok positif dan negatif dari BOX tersebut. Isi, kini fulan ialah salah satu semut kecil yang mengisi BOX. Agar BOX menjadi lebih bermakna dan bukan sekedar hanya rangkaian kata-kata dalam kalimat mengejar kebesaran dan keberadaannya semata, maka PERUBAHAN ialah kata yang kini sedang digencar-gencarkan dimana-mana.

Lihat saja dimana hamparan hijau membentang mengalami PERUBAHAN dalam sekejap dan menghebohkan masyarakat, berbagai pendapat diungkapkan, berbagai teori dari ilmiah, alamiah, naluriah, batiniah bertaburan bahkan unsur politis-pun digabungkan. Overlay berbagai layer-layer fenomena kehidupan kian asyik dan merasuk dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak hanya layer-layer dunia spasial.

Jalan Cikaret-Cibinong, Bogor, Indonesia
January 24th 2011



Salam,

Aji PP

Wednesday, December 22, 2010

(Potret) Merapi Pasca Erupsi - Bencana --> Wisata

Pasca Bencana Erupsi Merapi menjadi Wisata

Hasil jepretan pake lg gw300 diedat-edit dadi sakdadine...Kini yang lalu lalang di jakal (jalan kaliurang, jogja) bukan lagi mobil ambulance tapi bus pariwisata :)

Salam,

Aji PP

Wednesday, December 8, 2010

Perubahan Iklim, hanya anomali atau terjadi kah?

Perubahan Iklim, hanya anomali atau terjadi kah?

Hari ini fulan kembali mempertanyakan mengenai fenomena alam yang sekarang ini sedang dialami oleh IKLIM. Para ahli menyebutnya Perubahan Iklim atau Climate Change, ada pula yang mengatakan Pemanasan Global atau Global Warming.

Ada yang bilang dampaknya ialah adanya 'perubahan', misalnya kenaikan muka air laut.

Rasa penasarannya pun membawa dia ke dunia maya dan bertemu dengan Jason-1 dan Jason-2 di lokasinya http://sealevel.jpl.nasa.gov/. Berikut hasil pengukuran yang dilakukan oleh kedua Jason dari tanggal 28 November 2010 hingga 8 desember 2010 dan divisualisasi sebagai sea surface height anomaly. di bawah ini:

Sea Surface Height Anomaly: Jason-1 and Jason-2 Measurements from 28-Nov-2010 to 08-Dec-2010

Peta ini menunjukkan hampir real-time (Near Real Time) tinggi permukaan laut anomali (Sea Surfece Height Anomay - SSHA) pengukuran dari misi satelit altimeter Jason-1 danJason-2. Setiap peta dihasilkan dari 10-hari pengukuran SSHA. Pengukuran dari misi NRT SSHA pengukuran ini biasanya tersedia dalam waktu 5 sampai 7 jam waktu nyata (real time). Pengukuran ini dapat digunakan untuk aplikasi meteorologi (misalnya cuaca), operasi laut (penangkapan ikan yaitu, berperahu, operasi lepas pantai), dan aplikasi lain di mana pengetahuan tentang kondisi arus laut berkaitan dengannya.


tertarik melihat 'perubahan' yang berupa kenaikan muka air laut berdasarkan data satelit dan data lapangan, silahkan kunjungi: http://climate.nasa.gov/keyIndicators/index.cfm#SeaLevel

Selain dari kenaikan muka air laut, 'perubahan' penduduk juga memaksa bumi menjadi semakin panas dan memanas ketika lahan atau area terbuka hijau perlahan berkurang dan berkurang perlahan-lahan. Hal tersebut disebut-sebut sebagai efek dari urbanisasi yang terjadi di Kota-Kota Besar, salah satunya di Indonesia ialah JAKARTA.

Lihatlah potret Ibukota Indonesia tercinta yakni JAKARTA dalam pigura citra satelit penginderaan jauh (Landsat MSS, Landsat TM dan ASTER) berikut:

Warna biru-hijau merupakan area kekotaan (urban), sedangkan warna merah ialah vegetasi. Sebelah kiri Landsat MSS rekaman tahun 1976 dengan jumlah penduduk sekitar 6juta, di tengah tahun 1989 direkam oleh Landsat TM dengan penduduk yang menghuni Jakarta sekitar 9juta, dan di sebelah kanan ialah citra ASTER rekaman tahun 2004 dengan penduduk sekitar 13juta.


Salam 'perubahan',

Aji PP

Sunday, December 5, 2010

Hujan Terus Menerus di Jogja _ daily rainfall in Jogja

Hujan Terus Menerus di Jogja _ daily rainfall in Jogja

Fenomena hujan sehari-hari yang melanda Jogja bahkan Indonesia secara keseluruhan juga diamati oleh citra satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) NASA.
The Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) is a joint mission between NASA and the Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) designed to monitor and study tropical rainfall.

Badai Atlantik 2010 dibandingkan dengan Badai Atlantik 2005 sebagai top story pada saat kunjungan hari ini (6 Desember 2010) seperti tampak pada Gambar 1 di bawah ini.

  TOP STORY TITLE
26 November 2010
Gambar 1. 2010 ATLANTIC HURRICANE SEASON COMPARED TO 2005


Kembali mencari bagaimana kondisi hujan di Jogja dari TRMM. Kemudian didapatlah http://trmm.gsfc.nasa.gov/affinity/download_kmz.html. Dimana kita dapat mendownload dan mengoverlaykannya dengan Google Earth untuk mendapatkan gambaran kondisi hujan pada area yang kita kehendaki.

berikut tampilan dari data TRMM untuk REALTIME 30 Day Average Rainfall and 30 Day Anomalous Rainfall untuk Yogyakarta dengan data kmz yang diunduh dari

http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/30_day_average.kml dan

http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events 30_day_anomaly.kml dilanjut dengan membukanya di Google Earth (posisi online).


Gambar 2. Anomali Hujan 30 hari di Yogyakarta berdasarkan TRMM

Gambar 3. Rerata Hujan 30 hari di Yogyakarta berdasarkan TRMM

Hujan pun belum juga berhenti, saat bingung mau nulis apa lagi :p
Apabila saudara tertarik untuk melihat sendiri di layar monitor/laptop, silahkan unduh di http://trmm.gsfc.nasa.gov/affinity/download_kmz.html dan bukalah di Google Earth (posisi online).

Salam,
Aji PP

Mangrove di INDONESIA (yang kaya sumberdaya)

Mangrove di INDONESIA (yang kaya sumberdaya)

Secara disengaja, hari ini fulan berkunjung ke http://earthobservatory.nasa.gov/IOTD/ untuk melihat image of d-day. Muncullah sebuah Negara Kepulauan sebagai salah satu dalam tampilan image of d-day yakni INDONESIA. Jadi teringat akan tulisan pembuka yang kerapkali digunakan oleh para peneliti, penulis, akademisi dan lain sebagainya untuk membuka pembicaraan atau tulisan mengenai sumberdaya kelautan dan permasalahannya di Indonesia yakni bahwa INDONESIA merupakan negara Maritim, Kepulauan, Kelautan, dan lain sebagainya dimana 70% wilayahnya berupa lautan, membentang 81.000 km garis pantainya dan lain sebagainya lagi dan lagi.

Sungguh luar biasa potensi Negera Kesatuan Republik Indonesia ini coba bayangkan betapa dunia menatap kita (baca: sumberdaya alam). Betapa butuhnya dunia akan INDONESIA terkait pula perubahan iklim yang kain digembor-gemborkan.

Apakah salah satu sumberdaya kelautan itu?

Mangrove, jawab fulan.

Kawasan hutan mangrove di Indonesia telah menyusut dari 4,2 juta hektar pada tahun 1982 sampai 2 juta hektar, ujar sebuah LSM (dimuat di dalam The Jakarta Post 6 Desember 2010).

"Sekitar 70 persen hutan mangrove di Indonesia berada dalam kondisi kritis dan rusak berat," kata Menteri Kelautan dan Perikanan RI Bapak Fadel Muhammad ketika meluncurkan kampanye penanaman bakau di desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Provinsi Maluku, Jumat (30 Juli 2010). Dimuat di dalam Antara News pada hari sabtu 31 Juli 2010.

" Rawa bakau dapat membantu masyarakat pantai di Indonesia dalam menangkis laut yang naik/meningkat dan badai tropis kuat yang disebabkan oleh perubahan iklim," ujar para ahli yang dimuat dalam Reuters.

The Jakarta Post menuliskan :

RI’s mangrove forests shrinks to 2 million ha


Antara News menuliskan :


Reuters menuliskan :

Ketiga tulisan tersebut adalah sumber-sumber yang dipergunakan dalam tulisan ringkas di situs NASA yang memuat gambar persebaran Mangrove di dunia dan Indonesia. Berikut referensi yang dipergunakan, jika ada yang tertarik membacanya secara langsung silahkan meluncur ke TKP.
  1. Antara News (2010, July 31). Minister: Indonesia`s mangroves in critical condition.Accessed November 29, 2010.

  2. Giri, C., Ochieng, E., Tieszen, L. L., Zhu, Z., Singh, A., Loveland, T., Masek, J. and Duke, N. (2010) Status and distribution of mangrove forests of the world using earth observation satellite data. Global Ecology and Biogeography, DOI: 10.1111/j.1466-8238.2010.00584.x.
  3. The Jakarta Post (2010, March 21). RI’s mangrove forests shrinks to 2 million ha.Accessed November 29, 2010.
  4. MangroveWatch (n.d.) Mangroves in Australia. Accessed November 29, 2010.
  5. Landsat at NASA (2010, August 18). Landsat Enables World’s Most Comprehensive Mangrove Assessment. Accessed November 29, 2010.
  6. Reuters (2007, December 6). Mangroves help Indonesia fend off climate change.Accessed November 29, 2010.
Memetakan Mangrove dari Satelit, demikian judul yang diusung oleh NASA dalam image of d-day untuk postingan 30 November 2010.

Gambar (Peta) Persebaran Mangrove di Indonesia berdasarkan citra satelit

Mapping Mangroves by Satellite
download large image (430 KB, PNG)

Usaha pembuatan peta ini dipimpin oleh Chandra Giri dari U.S. Geological Survey dan dipublikasikan baru-baru ini di dalam Jurnal Global Ecology and Biogeography. Menggunakan teknik klasifikasi citra dijital, tim peneliti melakukan kompilasi dan analisa lebih dari 1000 scenes satelit kumpulan Landsat series.



*tambahan info (update info) : kata temen yang ndijit mangrove di Bakosurtanal; luas Mangrove di Indonesia 3,2 juta*

+ sekedar berbagi+

Salam,
Aji PP

(Peta) Sungai-Sungai Utama berhulu di Merapi dan Fenomena Masa Kini

(Peta) Sungai-Sungai Utama berhulu di Merapi dan Fenomena Masa Kini

Memulai hari ini dengan menyapa indahnya mentari di dunia maya, selain telah tersadar dan beraktivitas di dunia nyata. Kembali lagi menyapa sungai-sungai yang berhulu di Merapi melalui PETA ala geospasial bnpb. Peta kali ini ialah Peta Aliran Sungai Utama di Wilayah Gunung Merapi, kurang lebih demikian judul di atas Peta (seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini). Aliran sungai (berwarna biru), jaringan jalan (berwarna merah), lalu bercak-bercak yang menjadi latarbelakangnya itu apa?, tanya fulan. Itu permukiman kang,,,lihatlah Kota Yogyakarta yang relatif padat hunian dibandingkan wilayah lainnya pada Peta.

Kemarin pada akhir bulan November tanggal 30, terpotretlah fenomena yang menjadi potret sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan telah menjadi perbincangan di dunia maya dan nyata (seperti status-status di fesbuk, twitter, maupun blog atau berita-berita elektronik hingga tayang ataupun cetak) yakni 'menatap banjir lahar', bahkan ada yang bilang 'wisata bencana (*fulan kurang setuju dengan yang satu ini)'. Terlebih apabila hujan mengguyur Yogyakarta, di saat itu warga di sekitar atau di bantaran Kali Code ataupun sungai-sungai lainnya sangatlah cemas. Namun di sisi lain, ada potret 'parkir dadakan banjir lahar', 'fotografer dadakan banjir lahar', 'wisata dadakan banjir lahar', dan lain sebagainya.

GAMBAR 1. "Mendadak berhenti, keluh para motor"
dipotret hanya pake hape lg gw300, maklum potograper dadakan (30/11/2010)


GAMBAR 2. " Dulu tak banyak orang menatapku, ujar si kali (sungai)"
dipotret hanya pake hape lg gw300, maklum potograper dadakan (30/11/2010)

Peta Sungai Utama di Wilayah G. Merapi
GAMBAR 3. "Peta Aliran Sungai Utama yang berhulu di Gunung Merapi"

Salam,
Aji PP

Thursday, December 2, 2010

(Peta) Bahaya Sekunder Merapi - Banjir Lahar Dingin

(Peta) Bahaya Sekunder Merapi - Banjir Lahar Dingin

Bahaya sekunder Merapi pasca erupsi ditambah intensitas hujan yang cukup tinggi baik di puncak Merapi maupun di wilayah Jogja sekitarnya pada umumnya telah melahirkan sebuah fenomena yakni banjir lahar dingin. Fenomena terkait banjir lahar dingin Merapi yang mengalir melalui sungai-sungai berhulu di Gunung Merapi menjadi sebuah keunikan, dimana pasir begitu melimpah ruah, banyak orang di kanan kiri sungai ataupun di pinggir jembatan pada sungai-sungai berhulu di Merapi seperti Kali Code menyempatkan matanya untuk melirik bahkan hingga mengajak anggota badannya untuk ikut serta berdiri di atas jembatan dan mengamati lahar dingin yang sedang mengalir. Akantetapi, resiko bahaya sekunder bencana Merapi yakni banjir lahar dingin mengancam warga yang tinggal tepat di kanan kiri sungai.

Katakan dengan Peta demikian ujar fulan, seketika itulah kembali telusur via jejaring dunia maya dan berkunjung ke geospasial bnpb untuk sekedar memantau adakah peta yang baru dilahirkan ?

Ya...ada peta-peta...(Kembali lagi) Bencana jadi/dalam Peta...

(1) peta daerah rawan bencana lahar gunung Merapi buatan geospasial bnpb dengan bersumber pada ESDM-BPPTK, (2) peta kawasan rawan bencana gunung Merapi hasil letusan 2010.

Peta Ancaman Banjir Lahar Dingin G. Merapi Tahun 2010

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi Tahun 2010, ESDM – BPPTK


Salam,

Aji PP


Tuesday, November 30, 2010

Keistimewaan DIY apakah Monarki ?

Keistimewaan DIY apakah Monarki ?

Pagi ini fulan kembali mendatangi dunia maya sejenak dan penasaran akan berita-berita yang berkumandang mempertanyakan Keistimewaan Yogyakarta ? Seperti ditulis di vivanews Sejak sebelum Indonesia merdeka, baru kali ini Keistimewaan Yogyakarta dipertanyakan. Kompas pun menulis Jangan pertanyakan Keistimewaan Yogyakarta.

Muncul pula gerakan di jejaring sosial Facebook :





Walaupun fulan bukanlah orang Jogja, akan tetapi hanyalah sesosok Mahasiswa yang tinggal di Jogja merasa bahwa Jogja itu Istimewa terlepas apakah sebenarnya fulan mengetahui sejarah jogja ataukan dia baru menyadari bahwa Sejarah sebaiknya tidak diputarbalikkan arah.

Ujung mulanya ialah kata-kata "monarki" yang dilontarkan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Lantas fulan pun kembali penasaran apa itu Monarki ? teringat akan masa sekolah mendapatkan pelajaran Sejarah tentang Kerajaan bersifat Monarki.

Monarki, berasal dari bahasa Yunani monos (μονος) yang berarti satu, dan archein (αρχειν) yang berarti pemerintah. Monarki merupakan sejenis pemerintahan yang dipimpin oleh seorang penguasa monarki. Monarki atau sistem pemerintahan kerajaan adalah sistem tertua di dunia.

Perbedaan di antara penguasa monarki dengan presiden sebagai kepala negara adalah penguasa monarki menjadi kepala negara sepanjang hayatnya, sedangkan presiden biasanya memegang jabatan ini untuk jangka waktu tertentu.

sumber definisi Monarki : http://id.wikipedia.org/wiki/Monarki

Apakah perlu kita memperkeruh suasana ? marilah tenangkan diri dan jauhi emosi semata. Jalankanlah kebhinekaan INDONESIA, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Dilihat dari lokasi geografis, wilayah Provinsi DIY merupakan kesatuan tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berada di satu tanah dan air yakni Pulau Jawa yang merupakan salah satu Pulau dengan penduduk terpadat dan aktivitas manusia yang luar biasa di INDONESIA. Alangkah kurang bijaksananya jika mempeributkan sesuatu yang sudah bersatupadu dalam keharmonisan, terlebih di tengah suasana pasca bencana menuju kembali BANGKITnya warga JOGJA yang terkena musibah serta di kala bencana sekunder merapi masih mengalir melalui aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

"Belajarlah dari kearifan lokal, bukan keegoisan global semata...", ujar fulan

Lokasi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta :

Lihat Peta DIY di peta yang lebih besar


* tulisan ini hanyalah selingan semata, lebih detilnya silahkan akses website yang terkait ataupun dari sumber yang lebih berkompeten*

Salam Jogja Never Ending Asia,

AJI PP