Showing posts with label geospatial. Show all posts
Showing posts with label geospatial. Show all posts

Tuesday, April 19, 2011

(Toponimi) Nama itu "Indonesia"

(Toponimi) Nama itu "Indonesia"
Di sela-sela membaca mengenai perubahan iklim, perubahan penutup lahan/penggunaan lahan, nama-nama wilayah di Bumi. Terfokuslah pada nama wilayah dimana penulis bertempat tinggal dan berkebangsaan yakni Indonesia.

Fenomena global seperti perubahan iklim hingga perubahan regional atau lokal seperti perubahan penutup lahan/penggunaan lahan dan pemekaran wilayah yang berkaitan pula dengan pembakuan nama-nama rupabumi, itulah fenomena kebumian yang sedang dipelajari oleh penulis dan merupakan hal-hal yang mesti diperhatikannya. Berbicara itu semua tidaklah berkaitan dengan judul yang diangkat apabila melihatnya secara langsung, tetapi fenomena kebumian yang sedang dipelajari tersebut merupakan rangkaian informasi ataupun data geospasial yang sedang dikumpulkan dalam berbagai aspek kajian yang berlokasi di suatu wilayah yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke (kurang lebih demikian yang didapat sewaktu kita belajar di sekolah dasar).

Indonesia, itulah namanya. Tulisan ini diangkat sebagai bagian dari hasil membaca sebuah tulisan berjudul "Asal Usul Nama Indonesia" tulisan oleh Irfan Anshory dalam Buletin Toponimi.

Siapa sangka, Indonesia memiliki beraneka ragam nama sebelum akhirnya dikenal sebagai bangsa Indonesia dan diakui oleh dunia. Tentunya yang menyangka itu ialah rekan-rekan yang mempelajari "Indonesia" dari segi bahasa, budaya ataupun aspek lainnya. Tapi sangat disayangkan penulis, baru menyadari arti pentingnya sebuah nama ketika mengenal topo dan onima.

Kawasan kepulauan Indonesia dalam catatan bangsa Tionghoa dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan), catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), bangsa Arab menyebutnya Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Lalu pada masa kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Persia, Arab, India dan China; mereka menyebut daerah yang terbentang luas antara China dan Persia semuanya adalah "Hindia". Tanah air kita (Indonesia) mendapat sebutan nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales).

Tatkala terjajah oleh Belanda, nama resminya ialah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan saat dijajah Jepang memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887) mengusulkan nama spesifik yaitu Insulinde yang berarti "Kepulauan Hindia" (bahasa latin insula berarti pulau), tapi sayangnya kurang populer. Kala itu tahun 1920an, Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli) memopulerkan nama "Nusantara", suatu istilah yang telah berabad-abad tenggelam. Diambilnya nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit.

Nama Indonesia

Singkat cerita, dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) Volume IV, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Di awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan kita, dipungutlah kata yang dibuang oleh Earl (Indunesia) dan mengganti huruf u dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Pertama kali "Indonesia" tercetak dan muncul di dunia ialah pada halaman 254 dalam tulisan Logan.

Putra bangsa ini yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Ki Hajar Dewantara dimana kala itu beliau dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 dan mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Berlanjut pada dasawarsa 1920-an, nama itu yakni "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" memiliki makna politis sebagai identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya.

Banyak organisasi hingga partai politik merubah namanya dengan tambahan "Indonesia", hingga akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1928 (peristiwa Sumpah Pemuda) nama itu, Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita. Atas kehendak Allah, jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Tanggal 17 Agustus 1945, Atas berkat rahmat Allah, lahirlah Republik Indonesia.

-usai-

Ingin membaca lebih lengkap, silahkan akses Buletin Toponimi Volume I, No. 1, Februari 2010.


Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar apa itu informasi yang berbau ruang dan waktu*

Monday, April 18, 2011

Perjalanan Teknologi Survey Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial

Perjalanan Teknologi Survey Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial

Gambar1. Buku "INFRASTRUKTUR INFORMASI GEOSPASIAL NASIONAL"

Sebuah catatan ringan yang bersumber dari Kata Pengantar dan Bab I sebuah Buku berjudul "INFRASTRUKTUR INFORMASI GEOSPASIAL NASIONAL" karya Prof. Dr. Ir. Jacub Rais, M.Sc terbitan BAKOSURTANAL.

Beliau mengantarkan buku ini dengan rangkaian kata awal berupa apa itu "Data Spasial" dilanjutkan dengan sifat keruangan di Bumi yang kini dikenal dengan istilah "Geospasial" sebagai kosakata baru dalam era teknologi informasi. Informasi tersebut juga ada secara absolut di Bumi melalui sistem koordinat "geodetik", adanya satelit GPS membantu menentukan posisinya yang teliti di Bumi ini. Dilanjutkan dengan perlunya koordinasi pemetaan di Indonesia (sejarah dibentuknya BAKOSURTANAL).

Ada hal yang sangat menarik yakni penjelasan mengenai asal usul istilah "data spasial" pada Kata Pengantar Buku ini. Banyak yang mengira bahwa istilah data spasial merupakan nomenklatur yang diciptakan oleh para profesi pembuat peta, tetapi yang sebenarnya istilah data spasial justru datang dari para ahli statistik dunia dan para perencana regional dunia yang berkumpul di suatu kota kecil Perancis Saint-Maximin 24-28 Mei 1971. Kala itu, mereka merasa bahwa data statistik yang selama ini dipergunakan dalam perencanaan tidaklah cukup untuk mengambil keputusan mengenai alokasi dan lokasi sumberdaya alam, sehingga diperlukan adanya data yang "berdimensi spasial" bukan data statistik semata. Kemudian dimunculkanlah istilah "Data Banks for Development" (1971) untuk data berdimensi spasial, yang selanjutnya berkembang menjadi "Geographic Data Handling" (1975) kemudian menjadi Geo-referenced Information System (1980) dan seterusnya GIS, dan sebagainya.

Itulah sekelumit kata pengantar, dilanjut ke Bab I yang mengambil judul "Pengembangan Teknologi Survei dan Pemetaan ke Teknologi Informasi Geospasial". Sewaktu membaca Bab I ini seakan dibawa ke dalam sebuah perjalanan ruang dan waktu dari informasi geospasial, data geospasial hingga infrastruktur data spasial.

Alkisah, sejak revolusi industri pertama di pertengahan abad ke-18 hingga kini dunia telah memasuki revolusi ke-5 yaitu revolusi industri informasi dan komunikasi yang telah menguasai seluruh aktivitas kehidupan manusia. Saat ini hampir semua sektor telah bergelut untuk membangun informasi geospasial sesuai kebutuhan masing-masing dalam berbagai tingkatan baik lokal, nasional bahkan internasional.

Dalam Bab I ini, Beliau menuliskan pengertian mengenai Informasi dan Data Geospasial dalam bahasa kebumian. Informasi geospasial adalah informasi yang terkait ruang muka bumi maupun ruang di bawah muka bumi, seperti informasi tentang sumberdaya mineral, minyak dan gas bumi serta peristiwa yang terjadi di muka bumi/di bawah muka bumi. Data Geospasial adalah data yang terpetakan atau ter-rekam secara keruangan, seperti peta, citra dari udara dan ruang angkasa.

Di era pra satelit, informasi geospasial disajikan di atas daun papyrus (kebudayaan Mesir Kuno di lembah Nile), di atas tablet tanah liat (Euphrat dan Tigris di lembah Mesopotamia) dan di masa Kerajaan Romawi dengan peta-peta di atas marmer. Sejak penemuan bahan kertas di Cina hingga ketrampilan membuat kertas menjalar ke Jepang dan baru pada tahun 1276 pabrik kertas pertama dibangun di Eropa.

Sejarah satelit, dimulai sejak peluncuran satelit sumberdaya alam ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite) di tahun 1972 dengan resolusi spasial 80 meter, hingga kini dunia telah menghadapi informasi dengan ketelitian hinggga 0,5 meter-1meter dari satelit WorldView-2, Quickbird, IKONOS, dsb. Informasi geospasial ini telah membantu manusia dalam peningkatan manajemen dan perlindungan ruang hidup manusia dengan efektivitas dan efisiensi dalam pembangunan ekonomi dari sumberdaya.

Resolusi di atas mensyaratkan data geospsial yang dapat dipercaya dan dengan biaya yang dapat dijangkau, dapat diakses secara tepat waktu dan efisien sebagai bagian dari realisasi janji-janji "information society". Hal tersebut apabila kita melihat berita yang sedang booming sekarang yakni disahkannya RUU IG.

Terkait informasi untuk umum tersebut, maka perlu adanya infratruktur informasi, termasuk infrastruktur data geospasial sebagai fasilitas jasa data Geospasial yang terstruktur. Berkembangnya infrastruktur geospasial menjadi terpacu oleh berkembangnya teknologi dijital (komputer) dan telekomunikasi.

---usai---


Untuk lebih lanjutnya silahkan akses langsung Buku "Infrastruktur Informasi Geospasial Nasional" tersebut.


Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar apa itu informasi yang berbau ruang dan waktu*

Tuesday, April 12, 2011

(Toponimi) Pemalang, juga nama Terumbu di Singapura

Berawal dari mencari "Pemalang" di dunia GeoNames ditemukanlah Pemalang, juga nama Terumbu di Singapura.

Sekedar iseng sembari belajar nama-nama, maka segeralah melakukan pencarian nama kota kelahiran yakni "Pemalang" di sebuah situs penyedia nama-nama rupabumi GeoNames. Walhasil muncullah beberapa nama Pemalang sebagai berikut:

sumber: http://www.geonames.org/

Untuk link lokasinya bisa diakses di:





Lokasi-lokasinya apabila dilihat via googlemaps (yang biru terumbu pemalang besar):


Lihat Terumbu Pemalang Besar di peta yang lebih besar

Lalu kalau Pemalang sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia letaknya dimana dan bagaimana sejarahnya?

Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W FRUIN MEES yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.

Untuk sejarah kota pemalang lebih lengkap bisa dilihat di situs pemerintah Kab. Pemalang: Sejarah, lokasinya bisa dilihat via google maps:



Muncul tanya, apakah yang memberi nama Terumbu itu orang Pemalang? yang menemukan orang Pemalang ataukah orang singapura yang pernah ke Pemalang? atau memang tidak ada keterkaitan dan hanya kebetulan semata?

Apa yang khas dari Pemalang? Makanannya yang mak grombyang : http://bumiwisata.blogspot.com/2009/06/melihat-pantai-dan-nikmati-grombyang.html

Salam,

Aji Putra Perdana
*sedang belajar nama-nama*


Thursday, April 7, 2011

Pentingnya Sebuah Nama Rupabumi?

Foto Pembicara, Peserta dan Tamu Undangan Workshop Toponimi

Nama itu penting, demikian kesan yang ditangkap oleh penulis setelah menjadi bagian dalam sebuah workshop toponimi. Di planet Mars banyak benda-benda tetapi belum memiliki nama karena belum ada yang menjamah dan mengenali serta dilanjut memberinya sebuah nama. Berbeda dengan di planet Bumi dimana manusia telah memberi nama sejak jaman dahulu kala dimana unsur-unsur di bumi telah bernama dan menjadi bagian integral tak terpisahkan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Apa yang dimaksud dengan toponimi atau nama rupabumi? Nama rupabumi atau nama topografi atau nama-nama geografi atau nama-nama tempat adalah nama-nama yang digunakan untuk unsur-unsur alami maupun unsur buatan manusia yang berada di permukaan bumi.
Ada rasa haru yang muncul sehari sebelum acara itu dimulai dimana penulis sedang membantu persiapan untuk penyelenggaraan workshop. Sedianya penulis dapat kesempatan untuk ber'diskusi' dengan Prof. Dr. Jacub Rais, M.Sc tapi kesempatan itu tak jadi datang. Padahal sedianya Beliau-lah yang seharusnya memberikan pencerahan dan pemahaman tentang peran UNGEGN pada workshop toponimi kali ini.

Walhasil, rangkaian kata tertulis dalam efbi tatkala sedang menikmati wifi di ruangan semalam sebelum workshop:

"saat itu bertemu sesaat"

Ada kata 'bertemu' dimana aku dan Beliau berada pada satu titik ruang dan waktu

Ada kata 'saat' tatkala sang waktu berhenti dan berjalan seiring memori tersimpan

Ada kata 'itu' di masa kini atau nanti kita tatap kembali masa lampau

Ada kata 'sesaat' ketika rasa itu seakan terhempas dalam cepatnya waktu berlalu


Aku pun hanya bertemu dengan Beliau hanya sesaat, tapi belum sempat Beliau berucap

Ilmu itu belum kuserap, tapi pundak ini semakin terasa berat

Nama itu belum bisa ku lukis dalam rupabumi

Tapi bumi itu tlah menangis kehilangan satu nama


Tersadarku akan waktu yang terus berlalu

Tersadarku akan cerobohnya aku maknai masa


Dan demi masa...

Berhentilah kita merugi...

Dan demi sapa...

Berhentilah kita menyendiri...


Nama itu adalah tanda...

Nama itu adalah rupa...

Nama itu penuh makna...

Nama itu rahasia...


Hotel Santika Bogor, Kamis 7 April 2011

Sapa dan Salam kenalku tuk Pelaku Sejarah Penamaan Rupabumi Indonesia

Prof. Dr. Jacub Rais, M.Sc.


Salam hormat,

Aji Putra Perdana

Dalam sambutan pembukaan oleh Kepala BAKOSURTANAL disampaikan beberapa hal yang menggugah kesadaran penulis (*maklum biasanya hanya tidur akibat ngantukan mode on), diantaranya:
  1. Di dalam kehidupan modern nama rupabumi dibakukan sebagai bagian dari tata administrasi pemerintahan yang baik (good governance), mengingatkan penulis akan salah satu materi dalam diklat yakni kepemerintahan yang baik atau bahasa inggrisnya ya...good governance itu tadi.
  2. Diungkapkan pula alasan-alasan mengapa nama rupabumi harus dibakukan? Bahwa nama rupabumi lebih dari hanya sekedar nama-nama tempat dalam suatu peta, tetapi nama-nama itu bersifat lokasional dan merupakan komponen dari sistem informasi yang terorganisir secara keruangan. Nama rupabumi merupakan suatu titik akses langsung dan intuitif terhadap sumber informasi lain yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan bagi para pembuat kebijakan dan manajer serta kerjasama di antara organisasi lokal, nasional dan internasional.
  3. Hal yang menarik dan digarisbawahi atau ditebalkan yakni "Tanpa adanya pembakuan dalam penggunaan nama rupabumi, akan terjadi kerancuan dan kekacauan yang dapat berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi".

Rangkuman berita lebih lengkap terkait workshop bisa diakses di http://bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/pentingnya-pembakuan-nama-nama-rupabumi/

Ada makna di balik sebuah nama, ada budaya di balik suatu nama, ada sejarah di balik nama, ada bahasa di dalam nama, ada sesuatu yang dalam dari nama, ada-ada aja si penulis menunis namanya *upss tulisannya :), nama itu perlu dibakukan sehingga informasi geospasial dapat terintegrasi dan tata kepemerintahan yang baik dapat terlaksana.

Salam,
Aji Putra Perdana


Wednesday, April 6, 2011

(GeospatialInfo) Workshop Toponimi

(GeospatialInfo) Workshop Toponimi

Sekedar memposting press release dari Bakosurtanal terkait Workshop Toponimi:

WORKSHOP TOPONIMI
PERANAN UNGEGN DALAM MENUNJANG KEGIATAN TIM NASIONAL DAN PANITIA PEMBAKUAN NAMA RUPABUMI DI INDONESIA

Workshop Toponimi diselenggarakan pada tanggal 7 April 2011 di IPB International Convention Center, Botani Square, Bogor. Tema dari Workshop adalah ”Peranan UNGEGN (United Nations Group of Experts on Geographical Names) Dalama Menunjang Kegiatan Tim Nasional dan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi di Indonesia”. Organisasi penyelenggara adalah Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), bekerjasama dengan Ditjen Pemerintahan Umum, Kementerian Dalam Negeri.

Tujuan workshop adalah untuk memberi pemahaman tentang peranan UNGEGN dalam menunjang lembaga otoritas nasional nama geografi/nama rupabumi (National Geographic Names Authorities) semua negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dalam aktifitas mengelola dan membakukan nama rupabumi di negara masing-masing.

Apa yang dimaksud dengan nama rupabumi? Nama rupabumi atau nama topografi atau nama-nama geografi atau nama-nama tempat adalah nama-nama yang digunakan untuk unsur-unsur alami maupun unsur buatan manusia yang berada di permukaan bumi. ......................................................................................................................
.............................Di Indonesia lembaga tersebut bernama Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, yang mempunyai kebijakan dalam pembakuan nama rupabumi.


Mengapa diperlukan pembakuan? Ambil suatu contoh di Indonesia: Nama nama gunung, seperti Gunung Semeru (ditulis dengan dua kata terpisah, karena “gunung” adalah elemen generik dari bentuk rupabumi dan “Semeru” nama dirinya, atau elemen spesifik). Kemudian ada kota yang memakai kata gunung di dalam nama dirinya dan bagaimana menulisnya dalam kaedah bahasa Indonesia yang benar, yaitu Kota Gunungsitoli (ditulis sebagai satu kata ”Gunungsitoli” karena elemen generiknya bukan gunung tetapi ”Kota”). ......................................................................................

.........................................................................................................................................Dalam melaksanakan tugas membakukan nama rupabumi di daerah, Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi dibantu oleh Panitia Pembakuan Nama Rupabumi Provinsi (PPNR Provinsi), dan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi Kabupaten/Kota (PPNR Kabupaten/Kota). Tugas-tugas Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi adalah :
a. menetapkan prinsip-prinsip, pedoman dan prosedur pembakuan nama-nama rupabumi;
b. membakukan secara nasional nama, ejaan dan ucapan unsur rupabumi di Indonesia dalam bentuk gasetir nasional;
c. mengusulkan gasetir nasional untuk dijadikan sebagai bahan penyusunan rancangan Peraturan Pemerintah mengenai pembakuan nama rupabumi di Indonesia;
d. memberikan pembinaan kepada pemerintah daerah dalam kegiatan inventarisasi, penamaan, perubahan dan pembakuan nama rupabumi;
e. mewakili Indonesia dalam sidang-sidang di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pertemuan-pertemuan internasional yang berkaitan dengan penamaan dan pembakuan nama rupabumi.

...........................................................................................................

Pedoman dalam membakukan nama rupabumi mengacu pada resolusi-resolusi hasil Kongres PBB tentang Pembakuan Nama Rupabumi (United Nations Conference on the Standardization of Geographical Names), antara lain :
a. Pembakuan internasional bertumpu pada pembakuan nasional
b. Dalam wilayah kedaulatan masing-masing negara, adalah hak masing-masing negara untuk menentukan nama-nama unsur geografinya.
c. Di luar wilayah kedaulatan setiap Negara, pembakuan internasional diterapkan dengan persetujuan semua Negara anggota PBB. Ini dilakukan melalui Resolusi dari United Nations Conference on Standardization of Geographical Names (UNCSGN), yang diadakan setiap 5 tahun sekali sejak tahun 1967.
d. Salah satu Resolusi UNCSGN No. 4 tahun 1967 adalah di tiap Negara anggota PBB diusulkan mempunyai Otoritas Nama-Nama Geografis (National Geographical Names Authority) yang mempunyai tugas pokok dan fungsi serta anggaran yang jelas untuk kegiatan pembakuan nama rupabumi, pedoman pengumpulan data dan publikasi nama-baku yang disebut gasetir (gazetteer) nama rupabumi untuk dipakai secara resmi oleh semua pihak (pemerintah, masyarakat)
e. Pembakuan menyangkut tidak hanya menetapkan nama bakunya tetapi juga tata-cara penulisan nama dan fonetiknya, sehingga diucapkan sama oleh semua orang.

Peran toponimi tidak hanya sekedar untuk keperluan pemetaan, tetapi terkait dengan aspek-aspek ekonomi, sosial dan budaya. Contoh peran toponimi terhadap aspek-aspek tersebut, antara lain: untuk perencanaan dalam menghitung jarak terpendek suatu site ekonomi (aksesibilitas), bantuan-bantuan sosial untuk korban bencana alam, pelestarian budaya nenek moyang, sekuriti dan pertahanan.

Informasi nama-nama rupabumi pada saat ini sudah berkembang pesat, sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Saat ini nama-nama rupabumi sudah digunakan secara global dalam sistem data online dan penting untuk menyajikan hasil analisis dan interpretasi data spasial. Teknologi internet sudah menjadi sumber referensi nama rupabumi dan informasi lain yang penting.

Penggalian sejarah budaya bangsa dapat dilakukan dengan pendekatan toponimi/nama rupabumi. Sebagai contoh adanya penggunaan Wai di Sumatera, tetapi juga ditemukan di Maluku, di Papua dan di daerah Pasifik. Dari fenomena ini dapat ditelusur adanya kaitan etnik bangsa di wilayah Indonesia dengan di Pasifik, lebih jauh dapat ditelusur dengan penelitian yang detil akan dapat diketahui migrasi etnik bangsa tersebut pada masa lalu. Dengan pendekatan toponimi dapat digunakan untuk melestarikan budaya masa lalu nenek moyang kita (intangible cultural heritage).

Untuk lebih detail silahkan akses : http://bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/workshop-toponimi-2/


Salam,

Aji Putra Perdana

Tuesday, April 5, 2011

(GeospatialInfo) RUU Informasi GEOSPASIAL Disetujui DPR

RUU Informasi GEOSPASIAL Disetujui DPR

Begitulah judul berita yang sedang HOT di Bakosurtanal sebagai badan yang mengelola informasi geospasial secara nasional.

Berikut pers rilis terkait UU Informasi GEOSPASIAL yang dikutip langsung dari situs Bakosurtanal:

Rilis Pers

UU tentang Informasi Geospasial

RUU tentang Informasi Geospasial (RUU-IG) yang diajukan Pemerintah kepada DPR-RI pada tanggal 16 Februari 2010, telah disetujui Rapat Kerja Komisi VII DPR-RI dan Pemerintah untuk dibawa ke Sidang Paripurna DPR-RI mendatang. Pemerintah diwakili Menteri Negara Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, dan pimpinan Komisi VII telah menandatangani naskah persetujuan tersebut. Selanjutnya naskah otentik RUU-IG serta penjelasannya pun telah diparaf para pimpinan fraksi di Komisi VII dan Kepala Bakosurtanal, Asep Karsidi, sebagai wakil pemerintah.

RUU tentang Informasi Geospasial (RUU-IG) yang diajukan Pemerintah kepada DPR-RI pada tanggal 16 Februari 2010, telah disetujui Rapat Kerja Komisi VII DPR-RI dan Pemerintah untuk dibawa ke Sidang Paripurna DPR-RI mendatang. Pemerintah diwakili Menteri Negara Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, dan pimpinan Komisi VII telah menandatangani naskah persetujuan tersebut. Selanjutnya naskah otentik RUU-IG serta penjelasannya pun telah diparaf para pimpinan fraksi di Komisi VII dan Kepala Bakosurtanal, Asep Karsidi, sebagai wakil pemerintah.

Bagi segenap Warga Negara Indonesia (WNI), hadirnya UU-IG merupakan satu jaminan yang melengkapi hak dalam memperoleh informasi untuk meningkatkan kualitas pribadi dan kualitas lingkungan sosial sebagaimana dituangkan pada Pasal 28F, UUD 1945. Lahirnya UU-IG juga didedikasikan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya di negeri ini bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, di masa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana diamanatkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
UU-IG memuat prinsip penting, bahwa informasi geospasial dasar (IGD) dan secara umum informasi geospasial tematik (IGT) yang diselenggarakan instansi pemerintah dan pemerintah daerah bersifat terbuka. Semangat UU ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Artinya segenap WNI dapat mengakses dan memperoleh IGD dan sebagian besar IGT untuk dipergunakan dan dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan. Masyarakat pun dapat berkontribusi aktif dalam pelaksanaan penyelenggaraan IG, sehingga diharapkan industri IG dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sementara itu segenap penyelenggaraan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah yang terkait dengan geospasial (ruang-kebumian) wajib menggunakan IG yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perlu pula disampaikan prinsip lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu bahwa IGT wajib mengacu kepada IGD. Prinsip atau aturan ini diberlakukan untuk menjamin adanya kesatupaduan (single referency) seluruh IG yang ada. Sehingga tidak ada lagi kejadian tumpang tindih IG dan perbedaan referensi geometri pada IG. Sebagaimana dimaklumi, tumpang tindihnya pembuatan berbagai IG, atau lebih dikenal secara umum dengan kata "peta", saat ini masih sering terjadi, hal ini mengakibatkan borosnya anggaran pembangunan. Sementara itu perbedaan referensi geometris sering berakibat pada ketidakpastian hukum. Ketika dua atau lebih kawasan digambarkan secara tidak akurat di lapangan, misalnya terjadi pada ketidaksepahaman masalah batas wilayah administratif hingga masalah batas wilayah negara, atau antara kawasan tertentu kehutanan dengan kawasan pengelolaan pertambangan.

IGD secara definisi di dalam UU-IG terdiri atas jaring kontrol geodesi dan peta dasar. Jaring kontrol geodesi menjadi acuan referensi posisi horizontal dan vertikal serta acuan gayaberat. Peta dasar merepresentasikan berbagai unsur penting di muka bumi yang dapat menjadi acuan geometris (titik, garis dan poligon atau luasan) di darat, pesisir dan laut, seperti garis pantai, hipsografi (garis kontur dan/atau garis batimetri), jaringan transportasi dan utilitas, hidrologi (perairan), batas wilayah, nama geografis (atau nama rupabumi), bangunan dan fasilitas umum, dan penutup lahan.

IGT adalah informasi geospasial yang memuat satu atau lebih tema tertentu. IGT sangat beragam, baik pada pemerintahan ataupun pada masyarakat. Instansi pemerintah bertanggung jawab menyelenggarakan IG terkait dengan tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing. Contoh IGT yang diselenggarakan dalam rangka pemerintahan antara lain IG: pertanahan, kehutanan, pertanian, perkebunan, kelautan, pertambangan, perhubungan, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup, penataan ruang, pariwisata, cagar alam, dan penanggulangan bencana. Sementara masyarakat dan badan usaha dapat menyelenggarakan IGT, seperti informasi perkotaan, perhotelan, restoran, panduan navigasi elektronik, perumahan/real estate, dan lain-lain. Mereka dapat membuat IG untuk kepentingan sendiri atau sebagai komoditas komersial dalam jasa IG.

Kami berharap dengan lahirnya UU-IG ini dapat menjamin kemudahan akses untuk memperoleh IG yang sistematis, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga kebijakan dan pelayanan publik, khususnya yang terkait dengan kebijakan ruang-kebumian, akan lebih akurat dan terpercaya. Selain itu industri IG dapat tumbuh, hingga pemanfaatan IG dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat di tanah air.

Untuk lebih lanjut silahkan akses ke tkp (sumber: http://bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/ruu-informasi-geospasial-disetujui-dpr-2/)


Salam,
Aji Putra Perdana

Wednesday, March 9, 2011

Bermain Bertanya secara Geospasial

Bermain Bertanya secara Geospasial

Apa respon Anda sewaktu membaca judul dari tulisan ini? Silahkan jawab melalui kotak komentar yang tersedia, bukan kotak amal :).

Bermain bertanya, bisa juga dibilang rangkaian yang tidak sesuai dengan EYD karena ada dua kata ber berurutan. Tapi sebenarnya bolehkah menggunakan kata awalan ber berurutan dalam sebuah penulisan? Uppss...bukan pertanyaan itu yang akan dibahas di sini. Masih ada lanjutannya yakni bermain bertanya secara Geospasial. Ya...itulah yang coba diangkat dalam tulisan kali ini meskipun belum dapat diketahui berapa beratnya yang akan diangkat tersebut.

Bermain bertanya secara geospasial sangatlah membantu kita dalam menyelesaikan pertanyaan yan berbau informasi atau data tabular ataupun spasial. Lalu, bagaimana cara bermainnya? berhubung ada kata geospasial mari kita pergunakan software atau perangkat lunak sebagai alat bantu dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Adalah QUERY sebuah kata yang dapat dipergunakan untuk menjawab pertanyaan berbau tadi. Lalu apa itu QUERY? Query adalah bentuk dari BERTANYA atau dalam dunia teknologi saat ini Query adalah permintaan untuk memperoleh informasi dari/dengan/ dalam sistem informasi dan basisdata. Wikipedia menuliskan bahwa query adalah:

A precise request for information retrieval with database and information systems.

Mari segera bermain...permainan kali ini ialah adanya permintaan untuk mengetahui nomer lembar peta berapa sajakah yang ada di sebuah Provinsi di Indonesia dan berapakah data yang tersedia dalam format digital?

Bahan dan Alat telah disediakan di dalam perangkat keras si fulan yakni data geospasial dasar berupa batas administrasi hingga level provinsi dan data spasial indeks peta rupabumi indonesia tentusaja beserta informasi tabular yang sudah terikat di dalam data tersebut. Perangkat lunak yang dipergunakan yakni ArcGIS 9.2 sebagai perangkat lunak untuk bermain bertanya secara geospasial.

Di dalam ArcGIS ini, untuk bertanya dapat melalui pejabat setempat ataupun lembaga-lembaga lainnya, maksudnya ialah banyak tools atau tombol atau apapun itu namanya yang dapat di klik dan menuju tools query yang ada. Berikut hanyalah salah satu runtutan langkah yang dipergunakan untuk bermain menjawab dari permainan bertanya secara geospasial.

Langkah 1. Jalankan ArcMap dan tampilkanlah data geospasial yang sudah disediakan :)
Langkah 2. Pada menu utama ArcMap, klikmenu Selection dan pilihlah Select by Attributes...

"Select by Attributes merupakan salah satu tools yang dipergunakan dalam software atau perangkat lunak geospasial untuk membangun sebuah query alias menjawab kata tanya secara geospasial. Berikut petikan dari help (baca: bantuan) yang tersedia terkait informasi apa itu kotak dialog Select by Attributes:

Building a query

This dialog lets you select features in a layer or records in a table by building a query. To create an expression, double-click the field you want to use, click an operator, then double-click the value. You can also type directly into the query.

sumber: help dari ArcGIS Dekstop 9.2
Langkah 3. Pilih metodenya : Create New Selection yakni untuk membuat pemilihan baru sebagai awal untuk menjawab permintaan kata tanya geospasial, misal kita akan memilih provinsi sumatera utara
"PROVINSI" = 'SUMATERA UTARA'

Langkah 4. Setelah melakukan query tersebut maka dilanjutkan dengan query berikutnya yakni menggunakan Select by Location untuk memilih fitur yang ada pada indeks dan bersinggungan dengan area provinsi sumatera utara.

Langkah 5. Untuk mengecek ketersediaan data dijital pada indeks yang sudah terpilih berdasarkan query lokasi pada langkah 4, maka dilakukan query di dalam atribut pada baris-baris tabular yang sudah terpilih dengan membuka data tabel dari data geospasial indeks peta rupabumi indonesia. Query langkah kelima ini menggunakan query berdasarkan kolom yang menunjukkan ketersediaan data atau NLP tersebut dalam bentuk dijital, dengan metode query yakni Select from current selection. Maksud dari metode ini akan memilih dari yang saat ini sudah terpilih (mmm...menjadi data pilihan nie,,,).

Langkah 6. Maka akan muncullah data tabular yang sudah terseleksi hingga tahap akhir dan memenuhi query atau bermain bertanya secara geospasial yang diinginkan. Selanjutnya data tersebut (masih berada pada tabular data yang terpilih) pilihlah menu Options dan pilihlah Export dan simpanlah dalam dbf untuk kemudian dapat dibuka di Excelnya Microsoft Office sebagai pengkemasan akhir dan permanis tampilan dalam jawaban atas bermain bertanya secara geospasial.

Berikut terlampir printscreen atau tangkapan layar sekilas atas proses query keberadaan data geospasial :).

Gambar1. Tangkapan layar proses bermain bertanya secara geospasial dengan ArcGIS


Demikianlah tanya jawab alias bermain bertanya secara geospasial ala fulan dalam blognya.

Jalan Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong, Bogor

Salam,

Aji PP

Monday, January 24, 2011

Dulu out of the box, sekarang in (the) box?

Dulu out of the box, sekarang in (the) box?

Ketika kukembali terduduk dan terpaku pada sebuah laptop yang telah cukup banyak membantuku, maka tertuanglah tautan kata yang tidak beraturan dan mungkin tanpa nada hingga kadang lupa akan adanya dan perlunya sebuah tanda baca. Sebuah rahasia di balik rahasia dan hanyalah Sang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui Segala Sesuatu yang mempunyai rencana kehidupan terbaik bagi hamba-Nya. [Berfikir dan Bertindak] dulu out of the box, sekarang in (the) box, kurang lebih itulah yang terpendam dan masih menjadi tanda tanya di dalam benak fulan hingga saat tulisan ini tertuang dalam sebuah blog 'uncertainty' dari sisi konten secara spatially explicit tidak karuan.

Ya...semakin tidak karuan kala kata-kata itu mengalir dengan seenaknya sendiri dan dibiarkan begitu saja oleh jari-jemari yang terus menyentuh keyboard dan menuangkannya dalam halaman kosong hingga penuh berisi. Isi, ketika berbicara mengenai isi, kurang lebih itulah saat dimana saat ini fulan berada. Fulan sedang melihat seluruh isi yang dulu kala ditatapnya dari luar kotak dan kini fulan berada di dalam kotak itu sendiri dan melihat berbagai sudut yang ada di dalam kotak, berbagai sisi yang tampak di dalam dan bukan dari kulitnya semata. Secara live pun, fulan telah bertemu dengan sosok-sosok positif dan negatif dari BOX tersebut. Isi, kini fulan ialah salah satu semut kecil yang mengisi BOX. Agar BOX menjadi lebih bermakna dan bukan sekedar hanya rangkaian kata-kata dalam kalimat mengejar kebesaran dan keberadaannya semata, maka PERUBAHAN ialah kata yang kini sedang digencar-gencarkan dimana-mana.

Lihat saja dimana hamparan hijau membentang mengalami PERUBAHAN dalam sekejap dan menghebohkan masyarakat, berbagai pendapat diungkapkan, berbagai teori dari ilmiah, alamiah, naluriah, batiniah bertaburan bahkan unsur politis-pun digabungkan. Overlay berbagai layer-layer fenomena kehidupan kian asyik dan merasuk dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak hanya layer-layer dunia spasial.

Jalan Cikaret-Cibinong, Bogor, Indonesia
January 24th 2011



Salam,

Aji PP

Wednesday, December 8, 2010

Perubahan Iklim, hanya anomali atau terjadi kah?

Perubahan Iklim, hanya anomali atau terjadi kah?

Hari ini fulan kembali mempertanyakan mengenai fenomena alam yang sekarang ini sedang dialami oleh IKLIM. Para ahli menyebutnya Perubahan Iklim atau Climate Change, ada pula yang mengatakan Pemanasan Global atau Global Warming.

Ada yang bilang dampaknya ialah adanya 'perubahan', misalnya kenaikan muka air laut.

Rasa penasarannya pun membawa dia ke dunia maya dan bertemu dengan Jason-1 dan Jason-2 di lokasinya http://sealevel.jpl.nasa.gov/. Berikut hasil pengukuran yang dilakukan oleh kedua Jason dari tanggal 28 November 2010 hingga 8 desember 2010 dan divisualisasi sebagai sea surface height anomaly. di bawah ini:

Sea Surface Height Anomaly: Jason-1 and Jason-2 Measurements from 28-Nov-2010 to 08-Dec-2010

Peta ini menunjukkan hampir real-time (Near Real Time) tinggi permukaan laut anomali (Sea Surfece Height Anomay - SSHA) pengukuran dari misi satelit altimeter Jason-1 danJason-2. Setiap peta dihasilkan dari 10-hari pengukuran SSHA. Pengukuran dari misi NRT SSHA pengukuran ini biasanya tersedia dalam waktu 5 sampai 7 jam waktu nyata (real time). Pengukuran ini dapat digunakan untuk aplikasi meteorologi (misalnya cuaca), operasi laut (penangkapan ikan yaitu, berperahu, operasi lepas pantai), dan aplikasi lain di mana pengetahuan tentang kondisi arus laut berkaitan dengannya.


tertarik melihat 'perubahan' yang berupa kenaikan muka air laut berdasarkan data satelit dan data lapangan, silahkan kunjungi: http://climate.nasa.gov/keyIndicators/index.cfm#SeaLevel

Selain dari kenaikan muka air laut, 'perubahan' penduduk juga memaksa bumi menjadi semakin panas dan memanas ketika lahan atau area terbuka hijau perlahan berkurang dan berkurang perlahan-lahan. Hal tersebut disebut-sebut sebagai efek dari urbanisasi yang terjadi di Kota-Kota Besar, salah satunya di Indonesia ialah JAKARTA.

Lihatlah potret Ibukota Indonesia tercinta yakni JAKARTA dalam pigura citra satelit penginderaan jauh (Landsat MSS, Landsat TM dan ASTER) berikut:

Warna biru-hijau merupakan area kekotaan (urban), sedangkan warna merah ialah vegetasi. Sebelah kiri Landsat MSS rekaman tahun 1976 dengan jumlah penduduk sekitar 6juta, di tengah tahun 1989 direkam oleh Landsat TM dengan penduduk yang menghuni Jakarta sekitar 9juta, dan di sebelah kanan ialah citra ASTER rekaman tahun 2004 dengan penduduk sekitar 13juta.


Salam 'perubahan',

Aji PP

Sunday, December 5, 2010

(Peta) Sungai-Sungai Utama berhulu di Merapi dan Fenomena Masa Kini

(Peta) Sungai-Sungai Utama berhulu di Merapi dan Fenomena Masa Kini

Memulai hari ini dengan menyapa indahnya mentari di dunia maya, selain telah tersadar dan beraktivitas di dunia nyata. Kembali lagi menyapa sungai-sungai yang berhulu di Merapi melalui PETA ala geospasial bnpb. Peta kali ini ialah Peta Aliran Sungai Utama di Wilayah Gunung Merapi, kurang lebih demikian judul di atas Peta (seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini). Aliran sungai (berwarna biru), jaringan jalan (berwarna merah), lalu bercak-bercak yang menjadi latarbelakangnya itu apa?, tanya fulan. Itu permukiman kang,,,lihatlah Kota Yogyakarta yang relatif padat hunian dibandingkan wilayah lainnya pada Peta.

Kemarin pada akhir bulan November tanggal 30, terpotretlah fenomena yang menjadi potret sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan telah menjadi perbincangan di dunia maya dan nyata (seperti status-status di fesbuk, twitter, maupun blog atau berita-berita elektronik hingga tayang ataupun cetak) yakni 'menatap banjir lahar', bahkan ada yang bilang 'wisata bencana (*fulan kurang setuju dengan yang satu ini)'. Terlebih apabila hujan mengguyur Yogyakarta, di saat itu warga di sekitar atau di bantaran Kali Code ataupun sungai-sungai lainnya sangatlah cemas. Namun di sisi lain, ada potret 'parkir dadakan banjir lahar', 'fotografer dadakan banjir lahar', 'wisata dadakan banjir lahar', dan lain sebagainya.

GAMBAR 1. "Mendadak berhenti, keluh para motor"
dipotret hanya pake hape lg gw300, maklum potograper dadakan (30/11/2010)


GAMBAR 2. " Dulu tak banyak orang menatapku, ujar si kali (sungai)"
dipotret hanya pake hape lg gw300, maklum potograper dadakan (30/11/2010)

Peta Sungai Utama di Wilayah G. Merapi
GAMBAR 3. "Peta Aliran Sungai Utama yang berhulu di Gunung Merapi"

Salam,
Aji PP

Thursday, December 2, 2010

(Peta) Bahaya Sekunder Merapi - Banjir Lahar Dingin

(Peta) Bahaya Sekunder Merapi - Banjir Lahar Dingin

Bahaya sekunder Merapi pasca erupsi ditambah intensitas hujan yang cukup tinggi baik di puncak Merapi maupun di wilayah Jogja sekitarnya pada umumnya telah melahirkan sebuah fenomena yakni banjir lahar dingin. Fenomena terkait banjir lahar dingin Merapi yang mengalir melalui sungai-sungai berhulu di Gunung Merapi menjadi sebuah keunikan, dimana pasir begitu melimpah ruah, banyak orang di kanan kiri sungai ataupun di pinggir jembatan pada sungai-sungai berhulu di Merapi seperti Kali Code menyempatkan matanya untuk melirik bahkan hingga mengajak anggota badannya untuk ikut serta berdiri di atas jembatan dan mengamati lahar dingin yang sedang mengalir. Akantetapi, resiko bahaya sekunder bencana Merapi yakni banjir lahar dingin mengancam warga yang tinggal tepat di kanan kiri sungai.

Katakan dengan Peta demikian ujar fulan, seketika itulah kembali telusur via jejaring dunia maya dan berkunjung ke geospasial bnpb untuk sekedar memantau adakah peta yang baru dilahirkan ?

Ya...ada peta-peta...(Kembali lagi) Bencana jadi/dalam Peta...

(1) peta daerah rawan bencana lahar gunung Merapi buatan geospasial bnpb dengan bersumber pada ESDM-BPPTK, (2) peta kawasan rawan bencana gunung Merapi hasil letusan 2010.

Peta Ancaman Banjir Lahar Dingin G. Merapi Tahun 2010

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi Tahun 2010, ESDM – BPPTK


Salam,

Aji PP


Bencana jadi/dalam Peta...

Bencana jadi/dalam Peta...

Postingan singkat sekedar perjalanan sesaat menatap betapa Bencana yang terjadi di Indonesia disajikan ke dalam Peta oleh lembaga yang berkaitan dengan Bencana di Indonesia.

Peta Kejadian Bencana Bulan Oktober 2010

Lagi dan lagi, googlemaps bermanfaat buktinya silahkan saksikan di dalam Pantauan Bencana ala BNPB dalam situsnya http://geospasial.bnpb.go.id/pantauan-bencana/


Salam,

Aji PP