Showing posts with label KML. Show all posts
Showing posts with label KML. Show all posts

Sunday, December 5, 2010

Hujan Terus Menerus di Jogja _ daily rainfall in Jogja

Hujan Terus Menerus di Jogja _ daily rainfall in Jogja

Fenomena hujan sehari-hari yang melanda Jogja bahkan Indonesia secara keseluruhan juga diamati oleh citra satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) NASA.
The Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) is a joint mission between NASA and the Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) designed to monitor and study tropical rainfall.

Badai Atlantik 2010 dibandingkan dengan Badai Atlantik 2005 sebagai top story pada saat kunjungan hari ini (6 Desember 2010) seperti tampak pada Gambar 1 di bawah ini.

  TOP STORY TITLE
26 November 2010
Gambar 1. 2010 ATLANTIC HURRICANE SEASON COMPARED TO 2005


Kembali mencari bagaimana kondisi hujan di Jogja dari TRMM. Kemudian didapatlah http://trmm.gsfc.nasa.gov/affinity/download_kmz.html. Dimana kita dapat mendownload dan mengoverlaykannya dengan Google Earth untuk mendapatkan gambaran kondisi hujan pada area yang kita kehendaki.

berikut tampilan dari data TRMM untuk REALTIME 30 Day Average Rainfall and 30 Day Anomalous Rainfall untuk Yogyakarta dengan data kmz yang diunduh dari

http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/30_day_average.kml dan

http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events 30_day_anomaly.kml dilanjut dengan membukanya di Google Earth (posisi online).


Gambar 2. Anomali Hujan 30 hari di Yogyakarta berdasarkan TRMM

Gambar 3. Rerata Hujan 30 hari di Yogyakarta berdasarkan TRMM

Hujan pun belum juga berhenti, saat bingung mau nulis apa lagi :p
Apabila saudara tertarik untuk melihat sendiri di layar monitor/laptop, silahkan unduh di http://trmm.gsfc.nasa.gov/affinity/download_kmz.html dan bukalah di Google Earth (posisi online).

Salam,
Aji PP

Tuesday, April 27, 2010

Play with Google Maps

Play with Google Maps - Bermain-main dengan Google Maps


Bermula adanya keinginan untuk mengganti lokasi tempat tinggal di Yogyakarta yang ditunjukkan via Google Maps dan di-link kan dalam blog ini, sesosok thole dengan id-nya yang berbeda telah menempatkan dan mendapatkan lokasi latitude dan longitude dimana kini dia berdiam diri di Yogyakarta tercinta ini.

Beta bermain dengan google maps beta dan disitu beta bisa drop LatLong Marker, sehingga beta bisa tau lokasi koordinat tempat tinggal beta. Hal ini mengingatkan thole akan sebuah percakapan dengan salah satu dosen Geografi saat bersama seorang kawan berkunjung ke Beliau untuk meminjam alat geospasial untuk menyimpan lokasi. Terjadi perbincangan yang menarik mengenai geocodding, geolocation dan lain sebagainya related to addresses alias alamat.

Hal yang menarik ialah bahwa "alamat" yang ada sekarang, dalam hal ini di Indonesia cukuplah unique atau crowded terlebih di daerah perkotaaan, sebagai contoh sederhana tempat kontrakan yang kini didiami thole dimana konon kabarnya (menurut empunya kontrakan) bahwa rumah tersebut tidak mempunyai nomer rumah, sehingga tiap ada surat yang ditujukan ke rumah tersebut di alamatkan ke lokasi yang empunya rumah yang notabene berada di tengah Kota dan cukup jauh dengan lokasi rumah tersebut. Atas inisiatif yang mengontrak (entah siapa, yang jelas sebelum thole), rumah tersebut telah diberi nomer dengan embel-embel A dibelakangnya dimana nomer berdasarkan urutan dari sekitarnya. Fenomena terkait "alamat" rumah juga sempat ditemui thole ketika bergabung di salah satu proyek, dimana ada house id yang menjadi concern terkait keunikan nomer yang dimiliki tiap rumah. Permasalahan yang muncul ketika kita asal memberi house id dan juga merubah existing alamat di database house id, maka data tersebut sebenarnya tidak bisa digunakan pula untuk croscek lapangan, karena dirubahnya "alamat" rumah yang di lapangan, dengan coding sendiri walaupun tujuannya untuk riset. Usul yang pernah thole lontarkan ialah biarkan alamat itu apa adanya tapi buatlah satu "alamat" lagi untuk membantu dalam coding saja.

Tapi setelah berbincang dengan salah satu dosen Geo tersebut, tampaknya ide tersebut juga kurang menarik. Yang menjadi thole tertantang menulis di blog ini ialah ketika dia menemui google maps dan melihat adanya drop latlong marker dimana kita bisa menandai rumah atau lokasi kita dengan koordinat latitude dan longitude (boleh dibilang di exact addresses). Karena tidak mungkin house id atau alamat rumah kita jika dilihat berdasarkan koordinat geografis akanlah sama, kecuali kita memang tinggal di satu lokasi. Membalik apa yang sudah ada, itulah ide yang coba dilakukan oleh Bapak dosen Geo tersebut, semoga sukses dengan planning disertasi-nya, disini thole hanya menuliskan satu hal yang baru dia temuinya dan sangat yakin pula banyak teman-teman di luar yang sudah sangat lebih jago dalam hal ini.

Fenomena google dengan maps dan earth -nya kini tampaknya membuat para "neo-geografer" berpacu dalam melodi dengan berbagi problematika kebumian yang terjadi, sehingga layaknya pulalah para teman-teman kebumian baik akademi, peneliti, praktisi, pengusaha maupun awam people seperti thole ikut memaknai perjalanan ini.

With coordinat we can know our location (exactly...) Its time to change...





View -7.731116, 110.396348 in a larger map

Sekian celoteh hari ini..ini bukanlah tulisan spasial bukan pula tulisan ilmiah namun hanya selingan informasi ala putra bumi.



Salam Hormat,

Aji Putra Perdana
Life is too short...Learn to more Ikhlas in my life...

* ini bukan tulisan geospasial, tapi renungan berfikir dan ajakan
geospatial sharing dan training ala thole cakep tanpa maksud apapun di dalamnya, semata-mata berbagi kata-kata dan ditujukan untuk keberlangsungan perkembangan dunia geospasial di Indonesia tercinta*


-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Thursday, May 28, 2009

KML2SHP - Keyhole Markup Language (KML) to Shapefile (SHP)

KML2SHP - Keyhole Markup Language (KML) to Shapefile (SHP)

Keyhole Markup Language (KML) is an XML-based language schema for expressing geographic annotation and visualization on existing or future Web-based, two-dimensional maps and three-dimensional Earth browsers. KML was developed for use with Google Earth, which was originally named Keyhole Earth Viewer. It was created by Keyhole, Inc, which was acquired by Google in 2004. The name "Keyhole" is an homage to the KH reconnaissance satellites, the original eye-in-the-sky military reconnaissance system first launched in 1976.

source : http://en.wikipedia.org/wiki/KML


KML is a file format used to display geographic data in an Earth browser such as Google Earth, Google Maps, and Google Maps for mobile. KML uses a tag-based structure with nested elements and attributes and is based on the XML standard. All tags are case-sensitive and must be appear exactly as they are listed in the KML Reference. The Reference indicates which tags are optional. Within a given element, tags must appear in the order shown in the Reference. If you're new to KML, explore this document and the accompanying samples files (SamplesInEarth and SamplesInMaps) to begin learning about the basic structure of a KML file and the most commonly used tags. The first section describes features that can be created with the Google Earth user interface. These features include placemarks, descriptions, ground overlays, paths, and polygons. The second section describes features that require authoring KML with a text editor. When a text file is saved with a .kml or .kmz extension, Earth browsers know how to display it.

source : http://code.google.com/apis/kml/documentation/kml_tut.html


The ESRI Shapefile or simply a shapefile is a popular geospatial vector data format for geographic information systems software. It is developed and regulated by ESRI as a (mostly) open specification for data interoperability among ESRI and other software products.[1] A "shapefile" commonly refers to a collection of files with ".shp", ".shx", ".dbf", and other extensions on a common prefix name (e.g., "lakes.*"). The actual shapefile relates specifically to files with the ".shp" extension, however this file alone is incomplete for distribution, as the other supporting files are required. Shapefiles spatially describe geometries: points, polylines, and polygons. These, for example, could represent water wells, rivers, and lakes, respectively. Each item may also have attributes that describe the items, such as the name or temperature.

source : http://en.wikipedia.org/wiki/Shapefile

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Keyhole Markup Language (KML) to Shapefile(SHP)

http://arcscripts.esri.com/details.asp?dbid=15175KML2Shape

KML to Shapefile conversion. Works in batch and single file mode. Imports "NAME" attribute as well as geometry. Extracts polygons, lines, points (as well as their 3D versions) separately, so if KML contains several types of objects you'll need to use polygons, lines, points menu items one after the other.

or this one:

http://www. 4shared. com/file/59617529/b74d231b/kml2shp.html

Online Kml2shp file conversion from zonums :

http://www.zonums.com/online/kml2shp.php

Kml2shp file conversion
Need of transferring Google Earth Data to a GIS? Kml2shp transforms KML

files into ESRI Shapefiles.

The KML file could contain Points, Paths and Polygons. When creating SHP
files the information is separated into thematic layers.

For each shapefile (shp), an attributes table (dbf) and index file (shx) are
created.

The kml to shp conversion consists of three steps:

1) Open KML file
2) Choose Shape Type
3) Select output Shapefile name

Optionally, you can change from WGS84 to a local datum and from Lat/Lon to
UTM.

Also, Kml2shp can export to AutoCAD (DXF) and GPS (GPX)

source : http://www.zonums.com/kml2shp.html


Best Regards,

Aji Putra Perdana