Showing posts with label banjir. Show all posts
Showing posts with label banjir. Show all posts

Wednesday, December 8, 2010

Perubahan Iklim, hanya anomali atau terjadi kah?

Perubahan Iklim, hanya anomali atau terjadi kah?

Hari ini fulan kembali mempertanyakan mengenai fenomena alam yang sekarang ini sedang dialami oleh IKLIM. Para ahli menyebutnya Perubahan Iklim atau Climate Change, ada pula yang mengatakan Pemanasan Global atau Global Warming.

Ada yang bilang dampaknya ialah adanya 'perubahan', misalnya kenaikan muka air laut.

Rasa penasarannya pun membawa dia ke dunia maya dan bertemu dengan Jason-1 dan Jason-2 di lokasinya http://sealevel.jpl.nasa.gov/. Berikut hasil pengukuran yang dilakukan oleh kedua Jason dari tanggal 28 November 2010 hingga 8 desember 2010 dan divisualisasi sebagai sea surface height anomaly. di bawah ini:

Sea Surface Height Anomaly: Jason-1 and Jason-2 Measurements from 28-Nov-2010 to 08-Dec-2010

Peta ini menunjukkan hampir real-time (Near Real Time) tinggi permukaan laut anomali (Sea Surfece Height Anomay - SSHA) pengukuran dari misi satelit altimeter Jason-1 danJason-2. Setiap peta dihasilkan dari 10-hari pengukuran SSHA. Pengukuran dari misi NRT SSHA pengukuran ini biasanya tersedia dalam waktu 5 sampai 7 jam waktu nyata (real time). Pengukuran ini dapat digunakan untuk aplikasi meteorologi (misalnya cuaca), operasi laut (penangkapan ikan yaitu, berperahu, operasi lepas pantai), dan aplikasi lain di mana pengetahuan tentang kondisi arus laut berkaitan dengannya.


tertarik melihat 'perubahan' yang berupa kenaikan muka air laut berdasarkan data satelit dan data lapangan, silahkan kunjungi: http://climate.nasa.gov/keyIndicators/index.cfm#SeaLevel

Selain dari kenaikan muka air laut, 'perubahan' penduduk juga memaksa bumi menjadi semakin panas dan memanas ketika lahan atau area terbuka hijau perlahan berkurang dan berkurang perlahan-lahan. Hal tersebut disebut-sebut sebagai efek dari urbanisasi yang terjadi di Kota-Kota Besar, salah satunya di Indonesia ialah JAKARTA.

Lihatlah potret Ibukota Indonesia tercinta yakni JAKARTA dalam pigura citra satelit penginderaan jauh (Landsat MSS, Landsat TM dan ASTER) berikut:

Warna biru-hijau merupakan area kekotaan (urban), sedangkan warna merah ialah vegetasi. Sebelah kiri Landsat MSS rekaman tahun 1976 dengan jumlah penduduk sekitar 6juta, di tengah tahun 1989 direkam oleh Landsat TM dengan penduduk yang menghuni Jakarta sekitar 9juta, dan di sebelah kanan ialah citra ASTER rekaman tahun 2004 dengan penduduk sekitar 13juta.


Salam 'perubahan',

Aji PP

Sunday, December 5, 2010

Hujan Terus Menerus di Jogja _ daily rainfall in Jogja

Hujan Terus Menerus di Jogja _ daily rainfall in Jogja

Fenomena hujan sehari-hari yang melanda Jogja bahkan Indonesia secara keseluruhan juga diamati oleh citra satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) NASA.
The Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) is a joint mission between NASA and the Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) designed to monitor and study tropical rainfall.

Badai Atlantik 2010 dibandingkan dengan Badai Atlantik 2005 sebagai top story pada saat kunjungan hari ini (6 Desember 2010) seperti tampak pada Gambar 1 di bawah ini.

  TOP STORY TITLE
26 November 2010
Gambar 1. 2010 ATLANTIC HURRICANE SEASON COMPARED TO 2005


Kembali mencari bagaimana kondisi hujan di Jogja dari TRMM. Kemudian didapatlah http://trmm.gsfc.nasa.gov/affinity/download_kmz.html. Dimana kita dapat mendownload dan mengoverlaykannya dengan Google Earth untuk mendapatkan gambaran kondisi hujan pada area yang kita kehendaki.

berikut tampilan dari data TRMM untuk REALTIME 30 Day Average Rainfall and 30 Day Anomalous Rainfall untuk Yogyakarta dengan data kmz yang diunduh dari

http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/30_day_average.kml dan

http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events 30_day_anomaly.kml dilanjut dengan membukanya di Google Earth (posisi online).


Gambar 2. Anomali Hujan 30 hari di Yogyakarta berdasarkan TRMM

Gambar 3. Rerata Hujan 30 hari di Yogyakarta berdasarkan TRMM

Hujan pun belum juga berhenti, saat bingung mau nulis apa lagi :p
Apabila saudara tertarik untuk melihat sendiri di layar monitor/laptop, silahkan unduh di http://trmm.gsfc.nasa.gov/affinity/download_kmz.html dan bukalah di Google Earth (posisi online).

Salam,
Aji PP

(Peta) Sungai-Sungai Utama berhulu di Merapi dan Fenomena Masa Kini

(Peta) Sungai-Sungai Utama berhulu di Merapi dan Fenomena Masa Kini

Memulai hari ini dengan menyapa indahnya mentari di dunia maya, selain telah tersadar dan beraktivitas di dunia nyata. Kembali lagi menyapa sungai-sungai yang berhulu di Merapi melalui PETA ala geospasial bnpb. Peta kali ini ialah Peta Aliran Sungai Utama di Wilayah Gunung Merapi, kurang lebih demikian judul di atas Peta (seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini). Aliran sungai (berwarna biru), jaringan jalan (berwarna merah), lalu bercak-bercak yang menjadi latarbelakangnya itu apa?, tanya fulan. Itu permukiman kang,,,lihatlah Kota Yogyakarta yang relatif padat hunian dibandingkan wilayah lainnya pada Peta.

Kemarin pada akhir bulan November tanggal 30, terpotretlah fenomena yang menjadi potret sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan telah menjadi perbincangan di dunia maya dan nyata (seperti status-status di fesbuk, twitter, maupun blog atau berita-berita elektronik hingga tayang ataupun cetak) yakni 'menatap banjir lahar', bahkan ada yang bilang 'wisata bencana (*fulan kurang setuju dengan yang satu ini)'. Terlebih apabila hujan mengguyur Yogyakarta, di saat itu warga di sekitar atau di bantaran Kali Code ataupun sungai-sungai lainnya sangatlah cemas. Namun di sisi lain, ada potret 'parkir dadakan banjir lahar', 'fotografer dadakan banjir lahar', 'wisata dadakan banjir lahar', dan lain sebagainya.

GAMBAR 1. "Mendadak berhenti, keluh para motor"
dipotret hanya pake hape lg gw300, maklum potograper dadakan (30/11/2010)


GAMBAR 2. " Dulu tak banyak orang menatapku, ujar si kali (sungai)"
dipotret hanya pake hape lg gw300, maklum potograper dadakan (30/11/2010)

Peta Sungai Utama di Wilayah G. Merapi
GAMBAR 3. "Peta Aliran Sungai Utama yang berhulu di Gunung Merapi"

Salam,
Aji PP

Thursday, December 2, 2010

(Peta) Bahaya Sekunder Merapi - Banjir Lahar Dingin

(Peta) Bahaya Sekunder Merapi - Banjir Lahar Dingin

Bahaya sekunder Merapi pasca erupsi ditambah intensitas hujan yang cukup tinggi baik di puncak Merapi maupun di wilayah Jogja sekitarnya pada umumnya telah melahirkan sebuah fenomena yakni banjir lahar dingin. Fenomena terkait banjir lahar dingin Merapi yang mengalir melalui sungai-sungai berhulu di Gunung Merapi menjadi sebuah keunikan, dimana pasir begitu melimpah ruah, banyak orang di kanan kiri sungai ataupun di pinggir jembatan pada sungai-sungai berhulu di Merapi seperti Kali Code menyempatkan matanya untuk melirik bahkan hingga mengajak anggota badannya untuk ikut serta berdiri di atas jembatan dan mengamati lahar dingin yang sedang mengalir. Akantetapi, resiko bahaya sekunder bencana Merapi yakni banjir lahar dingin mengancam warga yang tinggal tepat di kanan kiri sungai.

Katakan dengan Peta demikian ujar fulan, seketika itulah kembali telusur via jejaring dunia maya dan berkunjung ke geospasial bnpb untuk sekedar memantau adakah peta yang baru dilahirkan ?

Ya...ada peta-peta...(Kembali lagi) Bencana jadi/dalam Peta...

(1) peta daerah rawan bencana lahar gunung Merapi buatan geospasial bnpb dengan bersumber pada ESDM-BPPTK, (2) peta kawasan rawan bencana gunung Merapi hasil letusan 2010.

Peta Ancaman Banjir Lahar Dingin G. Merapi Tahun 2010

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi Tahun 2010, ESDM – BPPTK


Salam,

Aji PP


Bencana jadi/dalam Peta...

Bencana jadi/dalam Peta...

Postingan singkat sekedar perjalanan sesaat menatap betapa Bencana yang terjadi di Indonesia disajikan ke dalam Peta oleh lembaga yang berkaitan dengan Bencana di Indonesia.

Peta Kejadian Bencana Bulan Oktober 2010

Lagi dan lagi, googlemaps bermanfaat buktinya silahkan saksikan di dalam Pantauan Bencana ala BNPB dalam situsnya http://geospasial.bnpb.go.id/pantauan-bencana/


Salam,

Aji PP

Monday, November 1, 2010

Apakah bencana itu latah ? ataukah lainnya ?

Apakah bencana itu latah ? ataukah lainnya ?

Demikian celetuk fulan di siang bolong, menatap, melihat, mendengar hiruk pikuk kejadian bencana yang menimpa Indonesia tercinta ini. Yang uniknya lagi ialah di tengah-tengah kejadian bencana yang luar biasa (Wasior, Mentawai, Merapi,....) maupun sudah jadi biasanya (baca: seperti kejadian banjir di Ibukota tercinta Jakarta), fenomena permasalahan pun kian mencuat ialah bencana akibat manusia yakni berupa kata-kata yang tidak pas atau sesuai, tindakan yang kurang tepat dan lain sebagainya.

Ups...sudahlah, mari kta alihkan ke topik yang lain...Pertanyaan di atas bukan dalam rangka menyalahkan siapapun, tapi merupakan upaya interospeksi diri, termasuk si fulan itu sendiri.

"Apakah bencana itu latah?", tanya si fulan pada fulana...

"Tentusaja tidak, jika hendak kait-mengkaitkan kejadian bencana itu tentusaja butuh ilmunya dan kita tidak pada kapasitasnya untuk membahas itu. Toch, kita sekedar numpang lewat via tulisan ini. Kalau dibilang latah dengan tanda kutip; boleh juga. Latahnya ialah bukan bencananya, akan tetapi manusianya."

"Lho koq bisa?", potong si fulan.

"Begini maksudnya, tanpa ada maksud dan tujuan apapun. Coba bayangkan berapa banyak organisasi atau lembaga atau kumpulan atau apapun itu dadakan dalam upaya penanggulangan bencana? Baik dari dalam negeri hingga luar nagari, baik dari satu universitas dengan berbagai fakultas dan program studi di dalamnya maupun hingga berbagai hingga gelaran-gelaran di pinggir-pinggir jalan mengatasnamakan yang dibawahnamanya (baca: dibawanya). Ini merupakan kelatahan yang positif, karena hal tersebut menunjukkan betapa pedulinya dan besarnya rasa kesetiakawanan sosial seluruh rakyat Indonesia hingga seluruh dunia. Semoga saja semua kelatahan tersebut demi kebaikan bersama dan bukan dengan maksud dan tujuan tersembunyi alias udang di balik batu."

"OK lah kalau begitu", jawab fulan.

Jadi teringat, kebiasaan yang ada bahwa tiap event seakan menjadi celah untuk tiap hal yang bisa disimpan ke dalam project-project (baca: proyek). Seperti di dalam software-software GIS keluaran ESRI yang menyimpan, mengolah, hingga menyajikan data dan save as project. :)

Tinggal orientasinya ke Utara atau ke Selatan, dan sebagainya...(baca: money-oriented or murni humanitarian-oriented???). Let's see...

--- silahkan cermati sendiri-sendiri, ini hanyalah tulisan yang numpang lewat sesaat ---

Salam,
app

*Maaf tulisan kali ini tidak memuat unsur yang menarik dibaca terkait pembelajaran geospasial,, kebencanaan, dan lain sebagainya (*sok sedikit menyerempet) tidak ada maksud dan tujuan apapun, namun yang pasti tulisan kali ini ialah suatu upaya untuk membangkitkan gairah si penulis sendiri untuk bisa menulis ilmiah nantinya. Sekedar iseng semata setelah melihat kejadian nyata...upss :). piss..piss...

Terimakasih atas kesediaanya membaca...
Bagi para blog walker, follower, reader, etc...mari berjalan-jalan bersama-sama...for better Indonesia... MERDEKA !!!

Salam,
^app^

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

“Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing"
http://ajiputrap.blogspot.com/
http://geospatialvision.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/
http://gisresetutor.blogspot.com/ diganti dengan http://geospatialinfo.blogspot.com/
http://ajiputrap.wordpress.com/

Monday, September 20, 2010

Aku Cinta IbuKota, Aku Datangi IbuKota, Aku Ambleskan IbuKota ?

Aku Cinta IbuKota, Aku Datangi IbuKota, Aku Ambleskan IbuKota ?

Sepucuk surat ditujukan kepada Aku Sang Pencinta, Aku Si Pendatang, Aku lah Fulan dan Fulana. Ketika demikian hebohnya isu terkait pemindahan IbuKota, kepadatan IbuKota, operasi yustisi di IbuKota, para pendatang pasca-lebaran ke IbuKota, hingga kini mencuat Amblesnya IbuKota.

Isu pemindahan IbuKota, dinilai Jakarta terlalu sumpek yang berawal dari macetnya IbuKota, hingga problematika cost of poverty, dimana orang miskin membayar lebih mahal. Kurang lebih demikian salah isi yang diungkapkan Ahli di situs berita online. Kemudian segeralah para Ahli, komentator, peneliti, politikus, hingga masyarakat awam pun seperti fulan dan fulana ikut-ikutan berdiskusi layaknya para petinggi yang duduk di kursi.

Fulan :"Adakah IbuKota dimana dia tidak menjadi pusat keramaian dan daya tarik bagi warganya? Jangan salahkan saya yang datang ke IbuKota dan mengadu-nasib, membanting-tulang, memeras-keringat. Kalau boleh dibilang, saya juga memakmurkan IbuKota. Saya cinta IbuKota. Coba salahkan yang lain saja..."

Fulana :"Siapa yang mau kita salahkan? Pemerintah???Pemerintah??? Ataukah para pendiri gedung-gedung pencakar langit, yang telah membuat langit dan tanah murka sehingga hujan terus mengguyur IbuKota dan tanah merasa terbebani hingga tiap centimeter dia mesti ambles? Bukankah lebih baik kita berlomba-lomba dalam kebaikan daripada berlomba-lomba mencari permasalahan dan mencari akar yang tak kunjung ketemu juga. Marilah kita serahkan pada para Ahli, Ilmuwan, Peneliti dalam merumuskan permasalahan yang terjadi. Tapi ingat, kita juga jangan hanya duduk manis semanis gula jawa ditambah madu. Mari rapatkan bariskan dan luruskan untuk segera melangkah membangun IbuKota yang lebih baik. "

Fulan :"Caranya bagaimana? Tak usah lah engkau terlalu teoritis dan berkata manis, apa wujud nyata yang bisa kita wujudkan bersama?"

Fulana :"Iya betul, memang bicara itu juga ada tingkatannya. Ada tingkat pembicaraan di kalangan atas dimana bermuara pada adanya Kebijakan, hingga pembicaraan di level paling bawah atau sering dikatakan bahwa "kita mesti membumi". Walaupun pada kenyataannya kita sudah berada di bumi dan menginjak-injak bumi semau gue. Walhasil diperlukan adanya titik temu atau jalan tengah, bukan di tengah jalan karena jika di tengah jalan maka yang timbul adalah kemacetan dan keruwetan. "

Fulan:"Sudahlah, engkau juga terlalu berkelak-kelok dalam berbicara...kira-kira termasuk tingkat yang mana ya?hehe...cuma bercanda fulana...tak usah kau engkau masukkan ke dalam hati sanubari. Coba engkau cermati pemberitaan sekarang ini terkait IbuKota, maka di situ disebutkan "AMBLAS" yang didengungkan oleh para penulis di media massa baik cetak maupun online. Padahal menurut kamus bahasa, AMBLAS dan AMBLES itu berbeda. Coba liat blog AMBLAS itu beda dari AMBLES apalagi AMBLEG. Apa pendapatmu duhai fulana?"

Fulana :"Wach, sayang sekali aku tak punya kamus. Mungkin itu tak perlu kita perbesar, yang penting ialah pokok permasalahannya. Bahwa IbuKota yang Aku Cintai, Aku Datangi, ternyata Aku Amblesi juga :). Kalau fulan rajin googling, maka bahasan terkait Amblesan Jakarta sudah banyak, contohnya: Karakteristik Subsidence Jakarta antara Tahun 1997-2005 berdasarkan estimasi dengan GPS, Monitoring Land Subsidence menggunakan Levelling, Survey GPS dan teknik InSar oleh Pak Hasanuddin Abidin dan kawan-kawan. Serta penelitian-penelitian lainnya yang terkait amblesan."

Fulan : "Bolehlah aku tanya, subsidence kuwi opo? amblesan yaw? dimana lokasi yang Ambles di IbuKota dan sedang gencar-gencarnya diberitakan AMBLAS?Uppss Ambles?"

Fulana :" OK lah kalo beg begitu, kita browsing di maps.google.com dan search ke Jakarta, lalu search Jl. RE Martadinata. Maka akan bertemulah dengan jalan tersebut. Kalau lokasi-lokasi amblesan lainnya yang terjadi di papernya pak Abidin mungkin ada. Maklum aku juga belum baca...hehe"




View Larger Map


Sekian percakapan antara fulan dan fulana. Tiada maksud apapun dari percakapan yang seenaknya sendiri. Hanyalah sekedar obrolan ringan, seringan kapas yang melayang seiring angin yang berhembus dengan kecepatan tak menentu dan berhenti seketika angin hilang dari angan.
Fulan dan Fulana hanyalah tokoh imajinasi si penulis yang datang ketika dan menghampiri serta berkeinginan untuk hadir di blog post kali ini.
Sekedar mengusir kejenuhan sejenak akan berbagai pemberitaan yang naik turun tak menentu layaknya hujan yang turun sewaktu-waktu.

Teringat postingan seorang kawan membahas MONAS yang tegak, jadi teringat http://ajiputrap.blogspot.com/2009/08/merdeka.html
Gambar. Ilustrasi si fulan yang datang ke Jakarta karena Siapa yang menyuruhnya.
(siapa suruh datan Jakarta, siapa suruh datang Jakarta...nananana..bersenandung lagu)



*Maaf tulisan kali ini tidak memuat unsur yang menarik dibaca terkait pembelajaran geospasial, (*sok sedikit menyerempet) tidak ada maksud dan tujuan apapun, namun yang pasti tulisan kali ini ialah suatu upaya untuk membangkitkan gairah si penulis sendiri untuk bisa menulis ilmiah nantinya.

Terimakasih atas kesediaanya membaca...
Bagi para blog walker, follower, reader, etc...mari berjalan-jalan bersama-sama...for better Indonesia... MERDEKA !!!

Salam,
^app^

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

“Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing"
http://ajiputrap.blogspot.com/
http://geospatialvision.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/
http://gisresetutor.blogspot.com/ diganti dengan http://geospatialinfo.blogspot.com/
http://ajiputrap.wordpress.com/

Tuesday, September 8, 2009

Capture Embung/Waduk Tambakboyo from the Sky...

Capture Embung/Waduk Tambakboyo from the Sky...

Gambar 1. Embung/Waduk Tambakboyo dan sekitarnya dipotret dari atas....

Menangkap Embung/waduk Tambakboyo dari langit...kurang lebih itulah terjemahan mentah ala thole terkait judul tulisan blog kali ini. Ketika membuka foto perjalanan sepulang dari Pulaunya Dewata, sampailah pada beberapa foto hasil jepretan ala kadarnya menggunakan kamera kepunyaan rekan seperjalanan thole yakni HZ, demikian nicknamenya alias Humam Z (kusebut ya kang, namanya). Yakni foto jepretan dari atas pesawat dari Bali menuju ke Jogja pada penerbangan pagi hari, sehingga dapat merekam Yogyakarta.

Melihat pemanfataan ruang yang sangat menarik, ketika melihat stadion Maguwoharjo, Sleman dan tampak tubuh perairan tertampung dalam sebuah wadah mangkok besar. Embung/Waduk Tambakboyo, begitulah namanya dan berdasarkan sumber luasnya 7,80 ha dan volume tampungan 400 m3.

Bernama embung/waduk tambakboyo sesuai dengan lokasinya yang berada di dusun Tambakboyo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman dan dibangun tahun 2003 oleh Pemprov D.I.Yogyakarta dalam rangka untuk mencukupi air bersih.
Manfaat embung tambakboyo ini lumayan banyak, diantaranya terkait dengan sumberdaya air (pasokan air, pengendali hujan, konservasi SD Air, dll).

Sewaktu thole dan teman-teman ke embung/waduk tambakboyo, awalnya kita bertiga salah jalur sehingga kita melihat embung tersebut dari atas. Kemudian kita mencoba mencari jalan masuk, dan akhirnya menemukan sebuah gang/jalan kecil masuk menuju ke embung tambakboyo.

Embung ini terintegrasi dengan kawasan kampus, candi gebang dan stadion Sleman.
Thole agak lupa kapan pastinya, thole dan teman-teman (Humam Z dan HA) ke embung tambakboyo dalam rangka konon katanya disebut dengan konsolidasi alias obrolan ringan atau bahasa modernnya yaitu diskusi mengenai rencana ke depan, bukan ke belakang. Rencana awal, thole dkk akan pergi untuk mencari makan dan rame-rame menikmati nuansa pemancingan. Akantetapi setibanya di embung tambakboyo, ternyata yang ada warung-warung mie rebus/goreng, kopi, teh dan tidak menemukan adanya seafood,,,hehe.

Keberadaan embung diharapkan dapat menaikkan tinggi permukaan air tanah hingga 30%, sehingga ketika musim kemarau tiba warga tidak perlu menyuntikkan sumurnya (demikian yang thole baca di blog tentang Embung Tambakboyo). Embung tambakboyo ini menampung atau membendung aliran Sungai Tambak dan Sungai Buntung dan genangannya meliputi Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak dan Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Apabila melihat foto dari udara di atas (gambar 1), dapat diamati penggunaan lahan yang ada di sekitar embung. Silahkan amati dan pergunakan pendekatan Saudara-saudara dalam melihat gambar yang tertangkap oleh kamera tentang fenomena atau kenampakan Embung/Waduk Tambakboyo, Sleman. Ada stadion, lahan sawah, permukiman, dan lain sebagainya.

Could you help thole to do the analysis ???

Thole waiting for the informations and sharing of your analysis...
Gambar 2. Aji Putra Perdana as thole cakep menanti jawaban yang masuk,,,

sumbernya thole dari membaca : http://djogjakarta.blogdetik.com/2009/05/18/embung-tambakboyo-sebagai-tempat-wisata-air dan perjalanan thole ke embung/waduk tambakboyo bersama teman-teman kala cari makan..
sumbernya foto thole dari hasil potretan thole menggunakan kamera rekannya thole (si akang HZ) saat penerbangan dari bali ke jogja pada pagi hari tanggal 8 Agustus 2009 hari sabtu,,,

* ini bukan tulisan geospatial, tapi renungan berfikir dan imajinasi geospatial ala thole cakep*

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

“Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Monday, October 6, 2008

Otomasi Near-Realtime Deteksi dan Pemetaan Banjir Menggunakan Terra Modis

Sebuah paper dalam proceding ACRS (Asian Association of Remote Sensing) 2004 yang kalau tidak salah dilaksanakan di Chiang Mai, Thailand. Paper tersebut penulis dapatkan sewaktu browsing menggunakan keyword Modis dan Flood Detection dan di dapat melalui GISdevelopment.net, yang kemudian mengarah ke alamat http://www.aars-acrs.org/acrs/proceeding/ACRS2004/Papers/CDT04-1.htm.
Dari situs ACRS bisa kita dapatkan berbagai macam paper dari seminar-seminar yang pernah diselenggarakan (http://www.aars-acrs.org/acrs/proceedings.php)

Artikel ini termasuk ke dalam "Data Processing: Change Detection". Hal yang menarik ialah bahwa citra satelit Terra MODIS dengan resolusi 250 meter untuk saluran 1 dan 2, kemudian saluran 3-7 diresample dari 500 meter ke dalam resolusi 250 meter. Dengan menyamakan resolusi spasial tersebut memudahkan dalam melakukan komposit citra. Setelah komposit tersebut, dilakukan klasifikasi supervised Maximum Likelihood ke dalam tiga kelas : water, forest and cropland(other non-water, non-forest class).
Piksel yang berubah dari kelas non-water ke dalam water mengindikasikan bahwa area tersebut telah terjadi banjir. Sistem ini dibandingkan dengan data MODIS dan juga quicklook images SPOT.
Fenomena Banjir merupakan kejadian tahunan yang terjadi di banyak negara di wilayah Asia Tenggara. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan deteksi dan pemetaan banjir sangat baik apabila memanfaatkan citra dengan resolusi harian yang cukup baik (resolusi temporal) dan juga cakupan spasial yang cukup lebar (luas). Meskipun adanya awan adalah kendala yang dihadapi oleh citra satelit resolusi rendah, seperti MODIS.
Zhan et al (2002)* menggunakan MODIS 250m bands untuk deteksi perubahan landcover seperti floods (banjir), deforestation dan burnt scars.

*Zhan X, Sohlberg R A, Townshend J R G, DiMiceli C, Carroll M L, Eastman J C, Hansen M C, DeFries R S, 2002. Detection of land cover changes using MODIS 250m data. Remote Sensing of Environment, Vol 83, pp 336-350.

Berikut cuplikan abstrak dari paper "Otomasi Near-Realtime Deteksi dan Pemetaan Banjir Menggunakan Terra Modis"


Automated Near-Realtime Flood Detection and Mapping Using Terra Modis


http://www.aars-acrs.org/acrs/proceeding/ACRS2004/Papers/CDT04-1.htm

John LOW, Soo Chin LIEW, Leong Keong KWOH
Centre for Remote Imaging, Sensing and Processing (CRISP)
National University Singapore
Blk. SOC1 Level 2, Lower Kent Ridge Road, Singapore 119260
Fax: (+65) 7757717
E-mail: crslkkj@nus.edu.sg, crslsc@nus.edu.sg, crsklk@nus.edu.sg

ABSTRACT
A prototype of a near-realtime flood mapping system using TERRA MODIS is being described. This system uses the seven shortwave bands of MODIS with Bands 1 and 2 at 250m and Bands 3 to 7 resampled from 500m to 250m resolution. Having all the bands at the same resolution will help facilitate compositing of the data, visualisation and classification of the data. The seven shortwave bands undergo atmospheric correction, cloud and shadow filtering. The 'good' pixels are composited from Day 1 of each month upto the end of the month over the area of interest. The compositing algorithm preferentially chooses water pixels over the composite period. A supervised Maximum Likelihood scheme classifies the resulting composite to three classes, namely, water, forest and cropland(other non-water, non-forest class). The classified image is compared to another such image of the normal season. The pixels that have changed from a non-water class to the water class indicate high confidence that flooding has occurred. The system was tested with MODIS data over Cambodia and selected SPOT quicklook images were used as ground truth.

-------------------------------------------------------------------------------------


Semoga artikel tersebut di atas, memacu kita untuk selalu belajar dan mengexplorasi citra satelit MODIS untuk berbagai kajian...
selain untuk kajian oseanografi, untuk kajian daratan juga bermanfaat,,dengan indeks vegetasi nya MODIS (EVI dan NDVI), untuk klasifikasi landuse/landcover, bahkan untuk deteksi banjir, selain itu juga bisa untuk kajian atmosferik,,,
InsyaAllah lain waktu..kita akan sharing mengenai pemanfaatan MODIS untuk kajian kebumian baik darat,laut maupun atmosfer..

Majulah Geograf Indonesia...Majulah masyarakat SIG dan Penginderaan Jauh Indonesia :)



nice to share :)

keep study and spirit..

salam hangat,

Aji Putra Perdana
ajiputrap.blogspot.com