Showing posts with label geovisi. Show all posts
Showing posts with label geovisi. Show all posts

Sunday, June 6, 2010

Paperless Mapping...

Paperless Mapping...

Paperless Mapping ialah sebuah proses pemetaan yang tidak menggunakan kertas, sebuah istilah yang terinspirasi akan mulai munculnya paperless office. Paperless Mapping terjadi semenjak teknologi pemetaan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi geospasial. Tentusaja hal ini semakin menjadi kebutuhan dalam dunia geospasial dikarenakan alur informasi sharing data geospasial berada di dunia maya, tidak hanya di dunia nyata semata.

Kegiatan paperless mapping ini tercetus di benak Aji Putra Perdana ("apepe") seorang Mahasiswa yang sedang belajar dan bekerja secara maya melakukan pemetaan salah satu Kota. Walaupun belum sepenuhnya bisa dikatakan bahwa proses pemetaan yang dilakukannya ialah secara paperless, dikarenakan input data yang diperolehnya berasal dari proses pemetaan partisipatif. Pemetaan partisipatif untuk delienasi batas administrasi hingga level RW (Rukun Warga) dan RT (Rukun Tetangga) masih menggunakan peta citra dicetak pada kertas.

Di sisi lain, bisa juga dikatakan bahwa aktivitas pemetaan ala apepe ialah paperless mapping karena proses pemetaan partisipatif dilakukan oleh rekan-rekan di Kota Kita, sedangkan aktivitas dari data mereka dalam bentuk dijital dikirim via email ke apepe, kemudian digunakan oleh apepe sebagai input dalam melakukan mapping the city until RT level.

Paperless mapping ini sangat unik karena sebenarnya sudah dilakukan di dunia geospasial sekarang ini. Hanya saja dengan isengnya apepe mencoba menulis mengenai paperless mapping, sekiranya ketika semua data sudah menjadi barang dijital maka paperless mapping secara utuh bisa dilakukan. Akantetapi adakah dampak yang akan terjadi dengan perkembangan paperless mapping ini? Tentusaja banyak sekali baik positif maupun negatif; jika kembali ke kata paperless, maka bermakna terjadi pengurangan penggunaan kertas yang merupakan upaya pemeliharaan hutan sehingga kelestatian alam tetap terjaga. Atau lebih menariknya jika dikatakan sebagai trully green mapping process with paperless mapping.

Entah pada tahun berapa kelak, dunia akan berhenti mempergunakan kertas. Mungkin di kala itu ialah dimana dunia geospasial sudah memasuki era multidimensi yang luar biasa. Proses mapping ala paperless yang lebih nyata dan semoga manusia tidak menjadi paperless thinking (maksudnya berfikir tanpa tertulis...ups seenaknya sendiri mendefinisikan*tidak untuk dijadikan acuan).

"Sebenarnya dimana letak paperless mapping yang apepe lakukan?", celetuk fulan pada apepe.

Ya, jika boleh mendefinisikan sendiri bahwa paperless mapping ialah pemetaan tanpa kertas dan itu yang dilakukan sekarang yakni proses mapping dengan input dari data yang sudah dalam format dijital untuk kemudian dibangun ke dalam sebuah basisdata geospasial dimana nantinya disajikan ke dalam Peta-peta paperless. Itu pun ketika peta-peta tersebut tidak dicetak di kertas dan hanya disajikan via tayangan presentasi atau dari layar monitor.

___Tulisan ini sekedar mengisi waktu luang yang dinikmatinya, tanpa bermaksud apapun hanya menulis seiring kata yang melintas di fikiran dan hatinya___

Salam Hormat,

Aji Putra Perdana
Life is too short...Learn to more Ikhlas in my life...

* ini bukan tulisan geospasial, tapi renungan berfikir dan ajakan
geospatial sharing dan training ala thole cakep tanpa maksud apapun di dalamnya, semata-mata berbagi kata-kata dan ditujukan untuk keberlangsungan perkembangan dunia geospasial di Indonesia tercinta*


-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Sunday, January 31, 2010

KRITIK terhadap Geospatial Sharing …

Kritik untuk si fulan (sekedar tokoh tambahan) yang berposisi sebagai ahli atau pemerhati atau disebut pula Geograf/Kartograf/Mapper/GISer/Planner/RSer/KPJers, dan lain sebagainya yang terkait keruangan atau lebih senang thole menyebutnya Para Ahli Geospasial. Tulisan ini hanyalah sekedar berbagi semata tanpa adanya maksud tertentu ataupun tidak hendak mengKRITIK siapapun hanya satu tokoh yang dikritik yakni THOLE sendiri (notabene sang penulis itu sendiri).



Menyerukan sebuah KRITIK tampaknya saat ini sedang menjadi TREN terutama di bidang ipoleksosbudhankam di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Akantetapi berbeda dengan para Kritikus lainnya, thole (tokoh utama dalam cerita ini) akan melontarkan KRITIK terhadap thole sendiri. Sebuah penilaian egoisme dan kegemesan lokal terhadap apa yang sedang terjadi di Planet Bumi tercinta ini, khususnya keprihatinan thole akan perkembangan Informasi dan Teknologi Geospasial (ITG) di Indonesia – GIS, Remote Sensing, Cartography, GPS, etc.



Rasa prihatin kian memuncak pada malam ini meskipun malam-malam sebelumnya puncak-puncak itu telah ada dan membentuk deretan perbukitan alam imaji. Sedikit flashback alias mundur ke belakang dan nanti akan maju ke depan, thole masih mendapatkan kesempatan berlangganan Majalah Geospatial dari Negeri tuan Takur. Di Majalah tersebut tema yang diangkat kala itu ialah mengenai Perkembangan Informasi dan Teknologi Geospatial di Ml**ysi*. Hal ini membuat thole semakin geregetan (hanya bisa geregetan saja…hehe), kapan kiranya Indonesia bisa disorot atau menjadi Headline atau TEMA utama dalam Majalah tersebut bukan sekedar bagian kecil yang hanya terdiri dari satu atau dua paragraph dengan judul mengenai KEBAKARAN HUTAN ataupun lainnya.



Sekiranya proses perjuangan lembaga atau badan pemetaan di Indonesia dengan jejaringnya mengenai IDSN (Infrastruktur Data Spasial Nasional) dapat dikupas lebih menarik, aktivitas pemetaan partisipatif yang dilakukan para Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lokal maupun Internasional di Indonesia dengan berbagai tematik tertentu, bahkan dapat pula dikemas mengenai berbagai aktivitas geospasial sharing yang dilakukan oleh kalangan Mahasiswa yang belajar mengenai Geospasial maupun para komunitas penggemar peta yang diyakini oleh Thole tersebar di seluruh pelosok Nusantara Indonesia. Kenyataan yang terjadi ialah kebiasaan berperang secara gerilya membuat masing-masing kelompok, komunitas, mahasiswa, lembaga/badan, instansi, swasta, negeri, profit oriented maupun non-profit oriented bergerak sendiri-sendiri tanpa adanya koordinasi ataupun kerjasama yang memudahkan dalam Geospasial Sharing.



Kecenderungan yang ada kini ialah Mahasiswa semakin gemar membuat Seminar-Seminar, mengikutinya, akantetapi mana hasilnya? Sejauh mana tahapan Geospatial Sharing tersebut dipublikasikan secara lebih “membumi”, bukan sekedar untuk kalangan akademisi semata atau seprofesi saja tapi lebih mengena bagi Bangsa dan Rakyat Indonesia tercinta ini. LSM ataupun para penggemar PETA yang dengan senang hati melakukan pemetaan partisipatif melibatkan masyarakat dan kini para desainer atau posterer, penulis formal (MAJALAH, KORAN, dll) atau non-formal menggunakan PETA sebagai bagian dari tulisannya. Dapat dikategorikan bahwa karya mereka sudah mulai menjejakkan kaki di BUMI. Namun kadang yang ironis bagi Pembelajar Geospasial sekaligus Salut buat mereka ialah sebagian dari mereka tidak mempelajari Geografi, Kartografi, Peta, GPS, Penginderaan Jauh, dkk (Informasi dan Teknologi Geospasial) di dunia edukasi formal akantetapi mereka berusaha untuk menguasai kesemuanya secara otodidak dengan bereferensi pada buku-buku yang ada di dunia nyata dan tulisan atau buku di dunia maya maupun mengikuti kursus/pelatihan yang ada. Kemauan dan rasa ingin tahu mereka yang tinggi membuatnya mampu secara cepat (walaupun mungkin belum tepat, kata beberapa kritisi) dalam penguasaan informasi dan teknologi geospasial. Kritisi mengungkapkan hal ini kepada thole dan cakep, Ada di beberapa sisi mereka memerlukan pemahaman terkait “intisari” sehingga diharapkan dapat mereduksi kesalahan dalam penyampaian.



Berbicara mengenai ketidaktepatan, hal ini mengingatkan lagi pada thole untuk balik maning nang laptop alias kembali menceritakan Puncak Imaji yang menyebabkan thole menulis di word yang akan di-upload di blog ajiputrap. Hari minggu malam tanggal 31 Januari 2010 sekitar 2,5 jam yang lalu thole barusaja pulang dari mengikuti sebuah presentasi dalam WORKSHOP yang temanya mencoba menyampaikan informasi melalui peta dan poster yang diselenggarakan oleh sebuah MAJALAH GEOSPASIAL INDONESIA terkenal di dunia bahkan di Indonesia juga. Hal yang dapat disimpulkan dan menjadi pertanyaan thole ialah MANA PETANYA? Sangat disayangkan thole dan teman-teman yang berasal dari Fakultas Geografi UGM tidak mendapat kesempatan untuk bertanya. Jauh api dari panggang, jauh dari yang dibayangkan oleh thole sebelum berangkat.



Mengangkat Tema menyajikan informasi secara visual dari sebuah Candi terkait karakteristik fisik dan sosialnya ke dalam sebuah PETA dan POSTER berbekal GPS dan Peta (jika tidak salah tangkap), akantetapi dari para peserta yang mempresentasikan tidak ada PETAnya atau minimal Tracking atau point-point koordinat lat/long lokasi yang terpetakan. Secara sederhana dapat dengan menggunakan freedata yang ada di Google Earth/Google Maps seperti yang sudah dilakukan oleh teman-teman dari Peta Hijau pada lokasi yang sama yakni di Candi tersebut ataupun di lokasi-lokasi lainnya.



Bayangan thole, cakep dkk ketika menghadiri workshop ini ialah melihat PETA-PETA dan POSTER-POSTER hasil karya para peserta Workshop, namun yang dipresentasikan ternyata hanya baru sampai pada tahapan pengumpulan data fisik dan sosial berupa foto-foto, lokasi-lokasi yang mereka kunjungi belum diploting ke dalam sebuah mapping dan belum pula disajikan ke dalam Poster dimana ada Peta sebagai bagian di dalamnya (MAAF hanya sekedar KRITIK dan SARAN yang belum sempat diutarakan supaya kelak menjadi lebih baik dengan adanya sumbangsih dari teman-teman semua demi Dunia Geospasial di Indonesia Lebih Baik). Sangat disayangkan, untuk Majalah sekaliber Internasional tersebut dan sekedar saran jika judulnya agak sedikit diubah karena kontennya kurang sesuai dan output yang dipresentasikan sebagai hasil akhir dari workshopnya belum ada visualisasi ke dalam Peta maupun Poster layaknya hasil-hasil yang telah mereka buat di Majalahnya (atau karena keterbatasan waktu sehingga belum sampai pada finalnya, Maaf atas ketidaktahuan thole dan cakep).




Thole menulis ini hanya untuk menuangkan rasanya kepada diri thole yang tidak berkesempatan untuk bertanya dan hanya menunggu hingga menjadi yang tak terpilih untuk bertanya. Buat teman-teman pembaca dan penggemar Peta atau warga geografi ataupun para penghuni Bumi, sekiranya dalam membuat sebuah Acara dapat tercapai tujuannya dan suasana lebih hidup dengan informasi yang sekiranya tepat dan bukan hasil rabaan semata. Thole ucapkan Selamat kepada Seminar, Workshop atau apapun aktivitas kebumian yang telah terselenggara di Tahun 2010 ini maupun beberapa rencana ke depan dan lagi-lagi sekiranya Jagalah Benang Merahnya dengan tidak lupa pula Menjaga Putihnya Roh Ilmu Pengetahuan, Seni dan Teknologi yang digunakan dalam Geospatial Sharing.



Kritik ini hanya ditujukan kepada THOLE yang menunggu terlalu untuk sekedar mengacungkan jarinya dan mengajukan pertanyaan. Semakin ditunda semakin terlambat pula bahkan tidak ada kesempatan untuk dipilih, oleh karenanya LEBIH BERANI lah untuk bertanya dan jangan cuma mendengarkan ketika ada hal yang kita mengerti toh tidak ada salahnya berbagi bukan berarti menggurui. Hal yang semakin menarik lagi ialah thole hendak bertanya kepada cakep dan kawan-kawan pembaca sekalian, apa definisi Kartografi? Sejauh mana kita disebut sebagai Geograf ataupun Kartograf?



Apakah kita memiliki darah seni seorang pelukis BUMI? Ataukah kita hanya menyajikan bumi ke dalam bidang datar dengan tidak lagi atau kehilangan akan kaidah kartografis ?



Buka hari mu…Bukalah sedikit untuk ku...

Mari kita berbagi…thole menanti sharing dari teman-teman…




Menilik kembali dan membaca Kartografi Dasar (Basic Cartography), thole membaca buku kuliah Kartografi Dasar yang ditulis oleh salah satu dosen Kartografi di Fakultas Geografi UGM yang barusaja diberikan oleh cakep ke thole biar mantap atau membangkitkan memorinya. Disitu tertulis bahwa Cartography is: The art, science, and technology of creating maps dalam bahasa Indonesia-nya Kartografi ialah Ilmu Pengetahuan, Seni dan Teknologi dalam pembuatan peta. Ada tiga hal yang utama dan sekiranya ketiga hal tersebut seimbang atau adil dan merata layaknya Indonesia. Perlu adanya ilmu pengetahuan yang dikuasai mengenai bagaimana membuat Peta, adanya Seni dalam visualisasi, simbolisasi dan desain Peta dan Teknologi yang akan memudahkan atau membantu dalam pembuatan dan penyajiaanya. Seorang kartograf, apabila merunut akar pengertian di atas ialah orang yang menguasai ilmu, seni, dan teknologi pembuatan peta. Akantetapi dapatkah saya disebut sebagai kartograf jika saya hanya menguasai salah satunya? Itu thole dan cakep kembalikan pada pribadi kita masing-masing.



Ternyata tidak hanya berhenti disitu definisi Kartografi, tertulis selanjutnya bahwa Cartography: includes study of the theoretical foundations of mapping (graphic communication, colour theory, map interpretation). Silahkan kita telaah lebih dalam lagi dan berbagi lebih menyenangkan bersama thole. Sudahkah kita memaknai atau mendalami hal tesebut di atas? Kartograf juga desainer layaknya desainer baju, akantetapi baju dalam hal ini ialah baju untuk merepresentasikan permukaan bumi yang diskalakan pada bidang datar (definisi PETA).



Semakin ngalor-ngidul, thole dan cakep berdiskusi semakin keras apalagi malam semakin larut menjelang pagi nan menjulang ceria. Teringat akan obrolan geospasial ala thole and cakep bersama dengan beberapa teman KPJers (demikian mereka menyebutnya) yang berakar dari singkatan KPJ-Kartografi dan Penginderaan Jauh (ditambahi ers (cah-cah…). Thole sempat melontarkan “ojo nganti ilang jawane” kepada mereka pada suatu ketika kala berdiskusi mengenai makna dibalik sebuah nama “Kartografi dan Penginderaan Jauh”. Jika mencari definisi banyak sekali pada ahli yang telah mendefinisikan kedua ilmu pengetahuan tersebut. Ingat atau bacalah postingan thole sebelumnya yang menulis definisi Penginderaan Jauh (http://ajiputrap.blogspot.com/2010/01/geospatial-learning-at-2010.html)

Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).

Lillesand, T.M. & Kiefer, R.W,1990, Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra (Terjemahan Dulbahri, dkk), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Dapat dilihat bahwa Kartografi dan Penginderaan Jauh ialah ilmu berseni, sehingga dibutuhkan jiwa seni dalam visualisasi datanya, dalam hal ini KRITIK terhadap thole dan cakep ialah ketidakpunyaan SENI dalam thole sendiri (tidak berbakat , tapi sok kumat :) hehe) - apabila menulis termasuk SENI maka tulisan ini ialah SENI ketidakteraturan dalam menulis. Imajinasi dalam kata dan rangkaiannya menjadi kalimat dan tersusun dalam beberapa paragraf tanpa batas.



Intisari dari tulisan di atas ialah perlu adanya pemaknaan yang mendalam bahwa sesungguhnya ketika kita bisa berbagi dengan apapun itu title yang kita miliki, ilmu yang kita pelajari, pengalaman yang kita arungi itulah gunanya kita belajar dan yakinlah ilmu pengetahuan takkan pernah padam. Oleh karenanya thole dan cakep mengangkat tema Geospasial Sharing, dimana isinya hanyalah tulisan semata dengan maksud KRITIK terhadap diri thole dan cakep yang mengaku sebagai Putra Bumi. Sesosok putra yang tinggal di Planet Bumi dan mencoba bercerita melalui bahasa Geospatial Sharing ala thole and cakep yang bahasanya dan susunannya naik turun. Pinta thole pada cakep ialah ketika sebuah karya geospasial dihasilkan untuk publik tetap diperlukan pengendali api,air,tanah,udara, kayu - maksudnya perlu referensi yang jelas dan penguasaan dalam berbagi. Jangan seperti thole dan cakep yang menulis tanpa bisa menguasai alur dari tulisannya, sehingga mengalami gerusan pada kanan kiri sungai cerita dan terjadi pengendapan pada bibir pantai cerita.



Kembali lagi thole teringat akan hal geospasial planning yakni “Pemaksaan Skala” dimana menurut Peraturan harus disajikan sebuah rencana geospasial planning level kabupaten dalam skala 50ribu untuk beberapa tema peta. Akantetapi di lembaga atau badan perpetaan belum tersedia Peta Dasar untuk wilayah tersebut pada skala 50ribu, baru ada peta pada skala 250ribu alias sak Provinsi. Layakkah kita melakukan Pemaksaan Skala dari Peta Dasar yang tersebut? Nek menurut thole yang awam ini, seyogyanya batas Administrasi pada skala 50ribu tentunya lebih detil daripada batas administrasi pada skala 250ribu. Dari sisi isi atau tema kita dapat melakukan pendetilan tentunya dengan adanya perkembangan ITG yakni Teknologi Penginderaan Jauh dengan citra satelitnya yang tentunya pula disesuaikan antara resolusi spasial citra dengan skala Peta. Mengingatkan thole kala melihat tulisan teman yang bersumber dari bukunya McCloy, 1995 mengenai kaitan skala dan resolusi citra pada sebagai berikut:



Tabel Hubungan Skala Peta dengan Resolusi Spasial

Skala

Resolusi (ukuran piksel)

Ukuran Peta

Rerata sel grid

1 : 1000000

1 Km x 1 Km

6’Long x 4’Lat

260000

1 : 250000

100 m x 100 m

1.5’Long x 1’Lat

1,6 x 104

1 : 100000

50 m x 50 m

30’Long x 30’Lat

1,1 x 104

1 : 100000

25 m x 25 m

30’Long x 30’Lat

4,3 x 104

1 : 50000

25 m x 25 m

15’Long x 15’Lat

1,1 x 104

1 : 25000

10 m x 10 m

7.5’Long x 7.5’Lat

1,7 x 104

Sumber: McCloy (1995)

McCloy, Keith R., 1995, Resource Management Information Systems : Process and Practice, Taylor & Francis, Inc., London.



Demikian celoteh thole dan cakep pada hari ini jam ini dan berhubung sudah larut malamnya dalam pagi maka diakhiri dalam kisahnya yang belum tau kapan hendak berlanjut lagi. Bagi teman-teman yang senang berbagi dan mengKRITIK silahkan bergabung bersama Geospatial Imagination with thole and cakep di http://ajiputrap.blogspot.com.



Berbagi pun kini dapat melalui buku elektronik di dunia maya, seperti beberapa sharing berikut dari tempat thole berbagi.



Berikut sedikit ebooks yang bisa di bebaca, kini tlah banyak teman-teman pemerhati geospasial saling sharing dan berbagi berbagai informasi dan perkembangan yang ada, silahkan searching dan keep learning...Semoga bisa bermanfaat...Salam Geospasial Indonesia...MERDEKA!!!



GIS E-book Series merupakan kumpulan tulisan e-book yang di-share di dalam milist atau komunitas GIS.



Berikut kumpulan Geovisi GIS E-book Series :

GPS:

1. Geovisi GIS Textbooks Series GPS

2. BEKERJA DENGAN GPS-Komunitas GIS

3. TRACK DAN MARK LOKASI DENGAN GPS

Perpetaan :

4. Membaca Koordinat Peta

GIS dan WEBGIS :

5. Pengantar mapping dengan arcview

6. GIS Programming Using MapInfo

7. MODUL MAPINFO

8. PCD ARCGIS GEOVISI dan PCD ARCGIS GEOVISI-2

9. ALOVMAP

10. Disain Geodatabase



Komunitas GIS ialah Komunitas atau Group ini diperuntukkan bagi rekan-rekan yang akan, sedang, atau pernah belajar bersama mengenai Sistem Informasi Geografis bersama dengan Geovisi Mitratama.



Silahkan bergabung ke dalam mailinglist/google group Geovisi untuk berbagi bersama dan saling berdiskusi mengenai persepsi dan konsep SIG (sistem informasi geografis) di

http://groups.google.com/group/komunitas-gis

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Apabila menghendaki mengikuti Geospatial Learning at 2010 bersama kami silahkan hubungi:



Informasi lebih lengkap mengenai Pelatihan GPS, SIG, Penginderaan Jauh, Geospatial Learning dapat menghubungi :

P.T. Geovisi Mitratama

Alamat :

Jl. Sidoarum no 20 Bantulan RT 06/RW 04 Sidoarum Godean Sleman Yogyakarta 55564.

Telpon/Fax : (0274)798306

Email : info[at]geovisi.com

http://groups.google.com/group/komunitas-gis





"Saat ini tidak memiliki cabang dimanapun dan hanya berkantor pusat

di
Jl. Sidoarum no 20 Bantulan RT 06/RW 04 Sidoarum Godean Sleman Yogyakarta 55564"



Salam Hormat,



Aji Putra Perdana

Life is too short...Learn to more Ikhlas in my life...



* ini bukan tulisan geospasial, tapi renungan berfikir dan ajakan

geospatial sharing dan training ala thole cakep tanpa maksud apapun di dalamnya, semata-mata berbagi kata-kata dan ditujukan untuk keberlangsungan perkembangan dunia geospasial di Indonesia tercinta*




-end-





"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”

by Aji Putra Perdana

"The Transformer of GIS and Remote Sensing“

http://ajiputrap.blogspot.com/



Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”

by My Little Sister





Salam Hangat,



Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.





Thursday, January 7, 2010

Geospatial Learning at 2010...

Geospatial Learning at 2010...

Mengawali tahun 2010 dengan pembelajaran geospasial sebuah fenomena pembelajaran yang kian marak diikuti oleh berbagai kalangan dari berbagai disiplin ilmu dan instansi/lembaga/perusahaan. Pembelajaran mengenal ilmu kebumian dengan lebih mendalam memanfaatkan informasi dan teknologi geospasial yang berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologinya untuk berbagai aplikasi atau terapan. Berkembang dengan nama Geographic Information Science...
According to Goodchild in Spatial Information Science and Geographical Information Science, also from Wilson and Fotheringham in The Handbook of Geographic Information Science. Geographic information science (GISc or GISci) is the academic theory behind the development, use, and application of geographic information systems (GIS). It is concerned with people, hardware, software, and geospatial data. GISc addresses fundamental issues raised by the use of GIS and related information technologies (Goodchild 1990, 1992; Wilson and Fotheringham 2007).
Geographic Information Science...
Figure 1. Aji Putra Perdana @ geospatial learning office

Informasi dan teknologi geospasial yang mencakup perkembangan teknologi Global Positioning System (GPS), teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing) dengan Pengolahan Citra Digital nya (Image Processing), dan teknologi (software-software geospasial) Sistem Informasi Geografis sungguh sangat luar biasa (extraordinary), sehingga semakin memudahkan kita dalam pengumpulan data (collecting data), penyimpanan data (data storage), data analysis hingga representasi data dalam tampilan 2Dimensi hingga 3 Dimensi atau bahkan multidimensi.

Adanya dunia maya internet ini dan fasilitas searchingnya yang juga luar biasa membantu kita dalam belajar dan berbagi informasi, ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi. Let's start from the smallest thing...mencari apa itu GPS di google maka kita akan menemukan Wikipidea bahasa Indonesia (dengan referensinya dari 2 sumber) pada halaman pertama dan teratas (saat thole and cakep melakukan googling hari ini). Berikut definisi dari GPS dan sedikit history nya yang dirangkumkan oleh Wikipidea bahasa Indonesia:

Global Positioning System (GPS) adalah satu-satunya sistem navigasi satelit yang berfungsi dengan baik. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS anatara lain GLONASS Rusia, Galileo Uni Eropa, IRNSS India.

Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (kesalahan umum adalah bahwa NAVSTAR adalah sebuah singkatan, ini adalah salah, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS).[1] Kumpulan satelit ini diurus oleh 50th Space Wing Angkatan Udara Amerika Serikat. Biaya perawatan sistem ini sekitar US$750 juta per tahun,[2] termasuk penggantian satelit lama, serta riset dan pengembangan.


Untuk belajar mengenai GPS dan berbagai aplikasinya sebuah situs Indonesia bernama Navigasi dot net GPS dan Informasi Wisata Indonesia memberikan kemudahan beserta informasi wisata di Indonesia. Dalam menu utama dari website tersebut dituliskan oleh sang administrastor bahwa situs Navigasi dot net ini dibangun dengan tujuan memberi kemudahan untuk melakukan perjalanan di wilayah Indonesia dengan menggunakan perangkat GPS. Dengan bantuan perangkat GPS disamping akan mempermudah untuk menentukan arah juga akan mecegah atau memperkecil resiko tersesat maupun kehilangan arah saat dalam perjalanan.
Keterbatasan dan/atau ketidak-tersediaan peta GPS wilayah Indonesia bukanlah suatu penghalang dalam menggunakan perangkat GPS. Dengan kerjasama dan saling tukar-menukar informasi akan letak (kordinat) suatu lokasi, diharapkan akan membantu pengguna situs ini untuk mencapainya.

Kemanapun Anda melangkah GPS will help you to find it...

Let's continue...

Teknologi selanjutnya ialah Penginderaan Jauh,,,hal yang menarik thole dan cakep ialah di Wikipidea bahasa Indonesia belum ada definisi mengenai Penginderaan Jauh. Oleh karenanya thole mengambil dari apa yang pernah ditulis oleh cakep dalam salah satu blognya http://gisresetutor.blogspot.com/2009/02/penginderaan-jauh-remote-sensing.html

Penginderaan Jauh atau Remote Sensing....

Berikut definisi atau pengertian Penginderaan Jauh menurut Lillesand dan Kiefer.

Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).
Lillesand, T.M. & Kiefer, R.W,1990, Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra (Terjemahan Dulbahri, dkk), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Citra penginderaan jauh dapat menggambarkan obyek suatu daerah dan gejala di permukaan bumi dengan: (a) ujud dan letak obyek yang mirip dengan ujud dan letaknya di permukaan bumi, (b) relatif lengkap, (c) meliputi daerah yang luas, dan (d) permanen (Sutanto, 1992).
Sutanto. (1992). Penginderaan Jauh Jilid 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Banyak berbagi definisi lainnya yang bisa kita dapatkan baik dari literatur atau referensi di dunia maya maupun dari buku-buku sesungguhnya di dunia nyata.

Untuk lebih lanjutnya mungkin kita kaji di lain waktu, mari lanjutkan dengan topik teknologi Sistem Informasi Geografis. Menggunakan metode searching yang sama yakni googling dan mengetikkan kata Sistem Informasi Geografis maka muncullah di halaman pertama definisi dari Sistem Informasi Geografis yang tertuliskan dalam wikipedia bahasa Indonesia :

Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.

Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

Dalam blog tutorial gis and remote sensing : http://gisresetutor.blogspot.com/2009/02/sig-gis-definisi.html juga terdapat tulisan beberapa definisi SIG dari referensinya sebagai berikut:
What is GIS??
Geographic Information System ...
Apa itu SIG??
Sistem Informasi Geografis..

Berikut beberapa definisi SIG :

SIG adalah seperangkat alat-alat untuk mengumpulkan, menyimpan, memanggil kembali, merubah dan menampilkan data spasial dari real world untuk suatu tujuan tertentu. Data geografis (keruangan) menampilan dunia nyata (real world) yang mencakup : a) posisi berdasarkan sistem koordinat, b) atributnya atau kelengkapannya yang tidak berhubungan secara langsung dengan posisi (seperti warna, harga, lokasi penyebaran penyakit), c) hubungan spasialnya antara satu dengan yang lainnya yang menjelaskan bagaimana mereka saling berhubungan (biasa disebut dengan topologi dan penjelasan perangkat ruang dan spasial seperti keterkaitan yang tidak berpengaruh oleh distorsi / kesalahan yang berkelanjutan) (Burrough, et. al., 1986).
Burrough, Peter A & McDonnel, Rachel A., 1986, Principles of Geographical Information System, University Press, Oxford, New York.

SIG merupakan sistem informasi kebumian berbasis sistem komputer. Dalam berbagai perencanaan SIG merupakan suatu model alternatif dari kegiatan dan proses dalam lingkungan dimana dapat dilakukan aktivitas pengukuran (measurement), pemetaan (mapping), monitoring (monitoring) dan pemodelan (modeling) (Star dan Etes, 1990)
Star J. dan J. Etes, 1990, Geography Information System : An Introduction, Prentice-Hall, Inc.,Engglewood Cliffs, New Jersey.

Komponen dalam SIG adalah data masukan (input data raster and vector), manajemen data, manipulasi dan analisis data, serta keluaran (output data). Data masukan didapat dengan cara mengkonversi atau merubah bentuk data mentah (foto udara, citra satelit, peta-peta) menjadi bentuk data yang sesuai untuk digunakan pada lingkungan SIG. Manajemen data mencakup penyimpanan data dan pertukaran data pada lingkungan SIG. Manipulasi dan analisis merupakan komponen SIG yang berfungsi untuk membuat atau memproses data menjadi informasi yang bermanfaat. Untuk visualisasi atau tampilan hasil akhir SIG dilakukan pada tahapan keluaran data (output) (Aronoff, 1989).
Aronoff, Stan, 1989, Geographic Information System : A Management Perpective, WDL Publications, Ottawa, Canada.
Kurang lebih itulah sekelumit ringkas mengenai ketiga teknologi yang dipelajari dalam pembelajaran Geospasial Learning at 2010, meliputi juga Pelatihan GPS, Pelatihan SIG Tingkat Dasar, Lanjut/Analis, Manajerial dan Pelatihan Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG, Pengolahan Citra Digital dan lain sebagainya.

Jadi teringat lagi, ketika belajar sewaktu TK hingga kini Mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi kita selalu dituntut untuk membaca buku dan buku...Perkembangan teknologi informasi memudahkan kita dalam memperoleh buku yang tidak lagi lembaran nyata namun dapat berupa e-books...Dalam rangka geospasial learning at 2010 tidak henti-hentinya thole and cakep berbagi gos ebooks sekedar buat belajar bersama-sama mengenai penggunaan Global Positioning System (GPS), pengolahan citra penginderaan jauh digital dan pemetaan menggunakan software Sistem Informasi Geografis, manajemen basisdata spasial dengan teknologi dan fasilitas yang disediakan oleh software-software geospasial untuk data bereferensi kebumian. Apa itu bereferensi kebumian sila bebaca di http://ajiputrap.blogspot.com/2009/12/berkoordinat-bumi-alias-georeference.html.

Berikut sedikit ebooks yang bisa di bebaca, kini tlah banyak teman-teman pemerhati geospasial saling sharing dan berbagi berbagai informasi dan perkembangan yang ada, silahkan searching dan keep learning...Semoga bisa bermanfaat...Salam Geospasial Indonesia...MERDEKA!!!

GIS E-book Series merupakan kumpulan tulisan e-book yang di-share di dalam milist atau komunitas GIS.

Berikut kumpulan Geovisi GIS E-book Series :
GPS:
1. Geovisi GIS Textbooks Series GPS
2. BEKERJA DENGAN GPS-Komunitas GIS
3. TRACK DAN MARK LOKASI DENGAN GPS
Perpetaan :
4. Membaca Koordinat Peta
GIS dan WEBGIS :
5. Pengantar mapping dengan arcview
6. GIS Programming Using MapInfo
7. MODUL MAPINFO
8. PCD ARCGIS GEOVISI dan PCD ARCGIS GEOVISI-2
9. ALOVMAP
10. Disain Geodatabase

Komunitas GIS ialah Komunitas atau Group ini diperuntukkan bagi rekan-rekan yang akan, sedang, atau pernah belajar bersama mengenai Sistem Informasi Geografis bersama dengan Geovisi Mitratama.

Silahkan bergabung ke dalam mailinglist/google group Geovisi untuk berbagi bersama dan saling berdiskusi mengenai persepsi dan konsep SIG (sistem informasi geografis) di
http://groups.google.com/group/komunitas-gis
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apabila menghendaki mengikuti Geospatial Learning at 2010 bersama kami silahkan hubungi:

Informasi lebih lengkap mengenai Pelatihan GPS, SIG, Penginderaan Jauh, Geospatial Learning dapat menghubungi :
P.T. Geovisi Mitratama
Alamat :
Jl. Sidoarum no 20 Bantulan RT 06/RW 04 Sidoarum Godean Sleman Yogyakarta 55564.
Telpon/Fax : (0274)798306
Email : info[at]geovisi.com
http://groups.google.com/group/komunitas-gis


"Saat ini tidak memiliki cabang dimanapun dan hanya berkantor pusat di Jl. Sidoarum no 20 Bantulan RT 06/RW 04 Sidoarum Godean Sleman Yogyakarta 55564"

Salam Hormat,

Aji Putra Perdana
Life is too short...Learn to more Ikhlas in my life...

* ini bukan tulisan geospatial, tapi renungan berfikir dan ajakan geospatial training ala thole cakep*

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.