Showing posts with label demam berdarah dengue. Show all posts
Showing posts with label demam berdarah dengue. Show all posts

Tuesday, July 20, 2010

Geospatial Magazine and Geospatial Forum

Geospatial Magazine and Geospatial Forum

Gambar 1. Majalah Geospasial dari GISDevelopment Edisi Juni 2010
(ada undangan Geospatial World Forum 2011)

Sumber : difoto pake hape lg gw300, itu tangannya si pemoto alias penulis surat ini, terus diedit ben rodo ketok kepiye gitu...


Yogyakarta, 21 Juli 2010

Kepada Yth.
Para Penggiat Geospatial
di Indonesia

Dengan hormat,

Bersama ini ijinkan saya berbagi sedikit pandangan dan tulisan mengenai Geospatial Magazine and Geospatial Forum. Munculnya ide untuk kembali menulis terkait Geospasial dari sudut pandang penulis sendiri yang notabene hanyalah sesosok yang bersyukur atas nikmat dan kesempatan untuk bergabung di sebuah dunia terkait GeoInformation Science dan mendapatkan kesempatan berlangganan sebuah Majalah Geospasial dari GISDevelopment.

Langganan tersebut tadinya hanya berlaku selama setahun setelah mengikuti Seminar Map World Forum, 10-13 Februari 2009 di Hyderabad, India (http://mapworldforum.org/2009/conference/EmergingTrendsandTechnology.htm), akan tetapi ketika GISDevelopment memberikan penawaran untuk berlangganan seterusnya secara free maka saya pun segera mendaftarkan dirinya untuk bisa berlangganan.

Sebuah kenangan yang sangat indah dan perjalanan yang luar biasa dan tak henti-hentinya ketika mengingat akan perjalanan tersebut, ucapan Terima Kasih sebesar-besarnya kepada Yayasan TAHIJA, PDM, PM, TL DMU, dan kawan-kawan semua di Dengue Project Tahija Foundation Phase 2 Yogyakarta. serta Warga Kota Jogja. Berkat perjalanan bersama merekalah, sebuah kisah indah terangkai dalam buku perjalanan hidup yang masih membekas hingga sekarang. Apapun dibalik itu semua dan yang terjadi sesudahnya ialah sebuah rangkaian kehidupan yang memang harus dilalui dan diyakini bahwa semua ada hikmahnya.

Kembali ke topik yang diangkat kali ini yakni Majalah Geospasial dan Forum Geospasial, awalnya saya hendak mengupas dengan studi komparasi antara India dan Indonesia, namun sangat ditakutkan bahwa yang terjadi ialah penilaian picik dari diri saya pribadi. Hal ini bangkit, ketika melihat cover dari Majalah GISDevelopment June 2010 Volume 14 Issue 06 (Gambar 1) yang baru saya terima dengan tema yang menantang : "WANTED Data policy to unlock potential" dengan simbol gembok yang terbuka dan di dalam gembok tersebut ada huruf i kecil dimana titik kecil di atas huruf i merupakan gambar bumi. Berlatar belakang garis-garis yang tidak beraturan berwarna hitam dan di bawahnya ada promosi mengenai "G
eospatial World Forum" dengan tema Dimensions and Directions of Geospatial Industry, 18-21 January 2011 Hyderabad, India.

Perubahan nama dari Map World Forum menjadi Geospatial World Forum, bukanlah tanpa suatu sebab. Saat pertama kali mendapatkan imel mengenai perubahan nama tersebut (Map World Forum is now Geospatial World Forum), sebenarnya thole hendak menulisnya di blogspot ini, tapi belum kesampaian. Oleh karena itu, di dalam kesempatan di sebuah sepucuk surat yang ditujukan kepada para penggiat Geospatial di Indonesia ini. Kurang lebih berikut alasannya ialah terminologi Geospatial, Geomatika, GISains, Geoinformasi merupakan beberapa terminologi yang sudah diadopsi oleh para profesional, organisasi dan lain sebagainya.

Geoinformatics, GIScience, Geomatics, Geospatial….. are a few terms for geographical information science. In recent times many organizations and professionals have adopted and accepted the usage of ‘Geospatial’ as an all encompassing terminology. In order to maintain our pace with the changing world we are glad to adopt this term to re-brand our conference. Pursuing our earlier objectives and recognizing our expanding role, we are pleased to announce that - the very successful ’Map World Forum’ is being renamed as ‘Geospatial World Forum’ so as to expand the scope and reach of the technology and also to provide a complete definition to this ever growing industry. We will continue to put together our endeavors to develop awareness campaigns, advocacy programs and business development platforms for geospatial world through our conference.
Hasrat yang memuncak pun menyebabkan majalah tersebut di foto, sekedar ingin menunjukkan kepada yang dituju bahwa ini loch, ada majalah geospasial dari negeri sono, bagaimana dengan nagari kita? Apakah saya yang tidak tahu-menahu? Ya sudahlah...demikian salah satu lirik lagu yang sempat terdengar...

Yang selanjutnya, ketika di dunia ini ada Geospatial World Forum yang digagas oleh teman-teman penggiat Geospasial dari negeri seberang? Bagaimana dengan Geospasial di nagari kita? Memang sudah begitu banyak Forum, Seminar, Organisasi, Perkumpulan baik dari kalangan akademisi, peneliti, LSM lokal, internasional, pribadi, perusahaan dan lain sebagainya. Akan tetapi pernahkah kita duduk sejenak bersama-sama dalam suasana untuk Indonesia Tercinta dan kemajuan Masyarakat, bukan semata-mata egoisme mengejar angka-angka karena telah melakukan penelitian, ataupu mengejar yang dikejar sudah barangtentu. Saya pun tidak menutup mata, bahwa saya sendiri masih perlu banyak dan terus belajar dari semua pihak.

Sebenarnya sangatlah indah dan menarik apabila tiap jengkal perkembangan informasi dan teknologi geospasial yang terjadi di Nagari kita ini bisa terdokumentasikan dan disajikan secara elok dan tak lupa untuk tunjukkan pada dunia bahwa Majalah Geospasial Indonesia, bukan sekedar majalah tapi merupakan penyelesaian Masalah kebumian yang bermanfaat hingga masyarakat desa. Jadi teringat, dulu ada A masuk desa...mungkinkah adanya Geospasial Masuk Desa ? Jawab thole: mungkin dan pasti...buktinya saja beberapa waktu lalu ada salah satu desa di Pulau Jawa, Indonesia tertarik untuk melakukan pemetaan wilayah desanya atas inisiatif salah satu warga desanya. Di lain sisi, banyak lembaga non-pemerintah yang mencari dana dari pihak-pihak asing, dan biasanya ada orang asing nya juga melakukan pemetaan hingga level desa untuk sebuah perencaan kekotaan. Ehmmm...dan pastinya kita tidak bisa seenak kita sendiri menilai satu hal dari satu sudut pandang, karena begitu banyak sudut di dunia geospasial Indonesia seperti suku bangsa yang begitu beranekaragam budayanya.

Bhinneka Tunggal Ika...itulah yang mesti kita pegang jika hendak mengembangkan Geospasial Magasin dan Forum Geospasial.

MERDEKA !!! MERDEKA GEOSPASIAL FORUM DI INDONESIA !!!

SAATNYA TUNJUKKAN PADA DUNIA...

SUKSES UNTUK BERBAGAI ACARA GEOSPASIAL FORUM YANG TELAH DISELENGGARAKAN MAUPUN YANG AKAN DISELENGGARAKAN...SEMOGA BERMANFAAT BAGI PERKEMBANGAN DUNIA GEOSPASIAL DI INDONESIA...


Mari kembali lagi, ke laptop atau PC masing-masing, India, Malaysia, berbicara mengenai perkembangan industri geospasial di negaranya, bagaimana dengan perkembangan industri geospasial di nagari kita? Indonesia sudah pasti bicara mengenai Geospasial, terlebih didukung oleh saudara-saudara sekalian...Salam dan Sukses...

*Maaf tulisan kali ini tidak memuat unsur yang menarik dibaca terkait pembelajaran geospasial, (*sedikit menyerempet) tidak ada maksud dan tujuan apapun, namun yang pasti tulisan kali ini ialah suatu upaya untuk membangkitkan gairah si penulis sendiri untuk bisa menulis ilmiah nantinya. Postingan ke-200 mencoba menulis mumpung ada kesempatan, walaupun awalnya bukan seperti ini yang dikehendaki, tapi itulah yang terlintas...

Terimakasih atas kesediaanya membaca...

Salam,
^app^

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing"
http://ajiputrap.blogspot.com/
http://geospatialvision.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/
http://gisresetutor.blogspot.com/ diganti dengan http://geospatialinfo.blogspot.com/
http://ajiputrap.wordpress.com/

List of blog posts related to unrelated stories of geospatial in thole version or point of view...
http://ajiputrap.blogspot.com/2010/05/peta-sebagai-tools-dalam-komunikasi.html
http://ajiput
rap.blogspot.com/2010/02/kritik-terhadap-geospatial-sharing.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/11/sesuap-nasi-dalam-pembelajaran.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/10/geospatial-opportunity-and-challenge.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/08/geospatial-learning-dari-pemantau-demam.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/08/geospatial-learning-in-combating-dengue.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/05/my-learning-in-combating-dengue-fever.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/03/map-world-forum-2009-press-release.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/03/map-world-forum-2009-conference.html
http://ajiputrap.blogspot.com/map-gis-health.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/02/gis-geodatabase-and-dengue.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2009/01/mapworldforum-spatial-dat-infrastructur.html
http://ajiputrap.blogspot.com/2008/02/gis-penginderaan-jauh-gps-dbd.html

Friday, January 1, 2010

ArcGIS Diagrammer-GIS E-book...

Sekedar re-posting dan update status GIS E-book...yakni ArcGIS Diagrammer...

Teringat postingan thole and cakep beberapa waktu yang lalu di tahun 2008 mengenai ArcGIS Diagrammer...Kala itu thole menggunakan ArcGIS Diagrammer untuk mengemas geodatabase dari nyamuk-nyamuk di Kota Yogyakarta saat hendak dipresentasikan di Hyderabad City..

http://ajiputrap.blogspot.com/2008/10/arcgis-diagrammer.html


Documenting your geodatabase design is important. At the ArcGIS data models Web site (http://support.esri.com/datamodels), a series of diagrams is used to represent the key design concepts and to document the specifications of geodatabase elements, metadata, and map layers in each of the data model templates.

There are five key elements to represent the contents of your geodatabase design. These include:
1.Datasets—These are specifications for how to record the properties of feature classes, rasters, and attribute tables as well as the set of columns in each table. For spatial representations you'll see some geometric properties (such as point, line, and polygon and types of coordinates). Often, you'll see a specification for subtypes.

2.Relationship classes—Attribute relationships are widely used in GIS, just as they are in all DBMS applications. They define how rows in one table can be associated with rows in another table. Relationships have a direction of cardinality and other properties (for example, is this a one-to-one, one-to-many, or many-to-many relationship?).

3.Domains—These represent the list or range of valid values for attribute columns. These rules control how the software maintains data integrity in certain attribute columns.

4.Spatial Rules—A number of advanced data modeling capabilities are available for geodatabases. For example, data elements, such as topologies and their properties, are used to model how features share geometry with other features. Topologies, along with network datasets, address locators, terrains, cartographic representations, geometric networks, and many other advanced geodatabase types, provide a very critical and widely used GIS mechanism to enable spatial behaviors and to enforce integrity in GIS databases.

5.Map Layers—GIS includes interactive maps and other views. A critical part of each dataset is the specification for how it is symbolized and rendered in maps. These are typically defined as layer properties in ArcMap, which specify how features are assigned map symbology (colors, fill patterns, line and point symbols) and text labels. Layers are not managed in geodatabases but are an important aspect in helping to define some key dataset properties in a geodatabase schema. Layer specifications are shown in yellow. Layers can be stored as .lyr files or as elements in an ArcMap document (.mxd).


ArcGIS Diagrammer is a productivity tool for GIS professionals to create, edit or analyze geodatabase schema. Schema is presented as editable graphics in an environment familiar to users of Microsoft Visual Studio 2005. Essentially ArcGIS Diagrammer is a visual editor for ESRI’s Xml Workspace Document which are created by ArcCatalog, the management application in the ArcGIS Desktop product suite.

You can download a tool, Geodatabase Diagrammer, that will generate a series of Visio graphics of your datasets and elements in your geodatabase. Search for "Geodatabase Diagrammer" at http://arcscripts.esri.com.

source information : ArcGIS Dekstop Help
http://arcscripts.esri.com/details.asp?dbid=15166

Kini sebuah tulisan mengenai ArcGIS Diagrammer berbahasa Indonesia yang dikemas oleh tim PT. Geovisi Mitratama guna berbagi dalam geospatial learning...
New Upload GIS E-book di milist komunitas-gis...

GIS E-book with the title is "Disain Geodatabase
dengan ArcGIS Diagrammer". Please feel free to get and distribute it..
Its filename is "Disain Geodatabase.pdf"

Below short information what its content is :
BAGIAN PERTAMA : PENGANTAR
MEMULAI ARCGIS DIAGRAMMER
BAGIAN DUA : MENYUSUN MODEL DIAGRAM
MEMBUAT DOMAIN
MEMBUAT FEATURE DATASET
MEMBUAT FEATURE CLASS
MEMBUAT TABLE
MEMBUAT RELATIONSHIPS
MEMBUAT TOPOLOGY
BAGIAN TIGA : IMPLEMENTASI DIAGRAM
CHECKING ERROR
MENGEKSPOR KE XML DAN GENERATE DI LINGKUNGAN ARCGIS
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

What is "GIS E-book Series" and "Komunitas GIS" ???

GIS E-book Series merupakan kumpulan tulisan e-book yang di-share di dalam milist atau komunitas GIS.

Berikut kumpulan Geovisi GIS E-book Series :
GPS:
1. Geovisi GIS Textbooks Series GPS
2. BEKERJA DENGAN GPS-Komunitas GIS
3. TRACK DAN MARK LOKASI DENGAN GPS
Perpetaan :
4. Membaca Koordinat Peta
GIS dan WEBGIS :
5. Pengantar mapping dengan arcview
6. GIS Programming Using MapInfo
7. MODUL MAPINFO
8. PCD ARCGIS GEOVISI dan PCD ARCGIS GEOVISI-2
9. ALOVMAP
10. Disain Geodatabase

Komunitas GIS ialah Komunitas atau Group ini diperuntukkan bagi rekan-rekan yang akan, sedang, atau pernah belajar bersama mengenai Sistem Informasi Geografis bersama dengan Geovisi Mitratama.

Silahkan bergabung ke dalam mailinglist/google group Geovisi untuk berbagi bersama dan saling berdiskusi mengenai persepsi dan konsep SIG (sistem informasi geografis) di
http://groups.google.com/group/komunitas-gis
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Salam Hormat,

Aji Putra Perdana
Life is too short...Learn to more Ikhlas in my life...

* ini bukan tulisan geospatial, tapi renungan berfikir dan ajakan geospatial thinking ala thole cakep*
-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister

Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.



Monday, August 17, 2009

Geospatial Learning dari Pemantau Demam Berdarah Dengue

Gambar 1. Rangkaian Foto aktivitas Participatory Mapping conducted by Aji Putra Perdana and Humam Zarodi with several Pemantau Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta dikombinasi dengan foto saat presentasi oleh Aji Putra Perdana di Technical Sessions-7 (TS-7): Geospatial Education, Teaching Society - SEASC2009, pada August 5, 2009 13.00hrs – 15.00hrs WITA di ORCHID ROOM, BICC, The Westin Resort, Nusa Dua, Bali.

Geospatial Learning dari Pemantau Demam Berdarah Dengue

Tulisan ini merupakan sebuah kenangan yang mencoba dituangkan ke dalam rangkaian kata dan gambar di blog Aji Putra Perdana. Sebuah rangkaian perjalanan panjang dari sebuah aktivitas sehari-hari dari sebagian warga Kota Yogyakarta tercinta yang bergabung dalam sebuah Proyek Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Kota Yogyakarta.

Sebuah abstrak terangkai menjadi sebuah paper dan dipresentasikan dalam SEASC 2009 (South East Asian Survey Congress 2009), Nusa Dua, Bali. Mengambil judul “ Geospatial Learning in Combating Dengue Fever Project, Study Site : The City of Yogyakarta “ dan berkesempatan dipresentasikan dalam Technical Sessions-7 (TS-7): Geospatial Education, Teaching Society pada August 5, 2009 13.00hrs – 15.00hrs WITA di ORCHID ROOM, BICC, The Westin Resort, Nusa Dua, Bali.
Dengue fever and Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is already endemic in 45 Kelurahan in the City of Yogyakarta yet is the most densely populated. A two years combating dengue fever project started in 2007, the strategy is targeted Aedes aegypti breeding source control using the insect growth regulator. This project involved 262 local peoples and 32 surveyors; they are the main actors in geospatial learning. GIS, Satellite Images and GPS are part dengue fever project in the City of Yogyakarta. This paper described Geospatial Learning in Combating Dengue Fever in Indonesia Phase II Project (study site: The City of Yogyakarta). KEY WORDS: Geospatial, Dengue Fever, GIS, Satellite Images, GPS http://ajiputrap.blogspot.com/2009/08/geospatial-learning-in-combating-dengue.html
Terima kasih penulis haturkan sedalam-dalamnya kepada Yayasan, di Jakarta dan Tim Dengue Jogja yang telah mewujudkan dan akhirnya bisa berangkat bertiga. Walaupun pada awalnya, hingga menjelang waktunya, belum ada kepastian sehingga penulis telah mempersiapkan diri untuk berangkat sendiri.

Alhamdulillah, penulis terus BERGERAK dengan dukungan dari my partner Mas HZ, kita berdua melakukan updating information mengenai Geospatial Learning secara langsung dari Pemantau Demam Berdarah Dengue (DBD). Mendatangi mereka dan bertatap muka secara melakukan obrolan ringan dan menggali sedalam-dalamnya mengenai apa yang mereka ketahui dan pahami atas aktivitas mereka terkait dengan penyiapan data spasial yang pernah mereka lakukan.

Ketika menulis kata BERGERAK, penulis teringat sebuah buku yang barusaja dibacanya pada Bab1 Bergeraklah! Allah Menjamin Rezeki Anda. Beberapa rangkaian kata-kata terakhir dalam bab 1 ini yaitu : Hidup adalah bergerak: orang yang selalu bergerak pikirannya akan selalu hidup, orang yang pikirannya hidup akan selalu punya mimpi-mimpi, dan dengan mimpi itulah orang akan menciptakan dan merebut peluang. (Gusmian, Islah. 2009. Doa mengundang Rezeki-sukses dalam hidup, berkah dalam usaha. Bab 1 Halaman 22)

Buku ini pula yang menggerakkan penulis untuk bisa berTerima Kasih melalui Blog ini kepada semua pihak yang telah mewujudkan adanya Sejarah bagi Pengendalian Demam Berdarah Dengue yakni pengakuan di tingkat Internasional bahwa Geospatial Learning was helpful in Combating Dengue Fever. Kata MIMPI dalam buku tersebut, juga sering dilontarkan oleh sang hati penulis ketika penulis seakan hampa dan hidup tanpa MIMPI. Katanya, we must have a dream...at least a song to sing...


Gambar 2. Rangkuman SEASC 2009 pada Technical Session 7 :Geospatial Education, Teaching Society

Let's back maning nang Komputer,,,

Munculnya sebuah tulisan ini berawal dari tantangan untuk bisa berbagi mengenai apa yang dirasakan dan dilakukan oleh teman-teman di lapangan. Sebuah pembelajaran yang tanpa kita sadari (tim dengue jogja) dan tanpa mereka sadari juga (Pemantau DBD dan Surveyor Lapangan) bahwa apa yang telah mereka jalani merupakan sebuah pembelajaran Geospasial. Pembelajaran keruangan yang bereferensi kebumian atau geografis, network analysis, peningkatan mental map, mengaplikasikan local knowledge, analisa spasial/keruangan dalam aktivitas sehari-hari mereka dalam bekerja menanggulangi Demam Berdarah Dengue di Kota Yogyakarta.

Penulis ingin berbagi beberapa testimoni dari teman-teman Pemantau DBD (4 pemantau) mengenai Geospatial Learning (mengenai PETA, CITRA dan MANFAATnya) yang mereka tuliskan pada selembar kertas yang masih penulis simpan (maaf nama pemantau DBD sengaja penulis singkat, tata tulis dari tulisan aslinya penulis edit, karena ada yang menggunakan singkatan2x);

E.K.R.M pemantau asal Pringgokusuman : "Terus terang baru kali ini saya melihat Quickbird dan harus menggambar batas-batas wilayah yang menjadi pantauan kerja kita. Akhirnya kita satu kelurahan berjumlah 9 orang mengerjakan batas-batas wilayah sendiri-sendiri. Dan saya menjadi tahu, yang tadinya tidak tahu. Intinya mempermudah coy..."
Pemahaman EKRM mengenai PETA, "Peta adalah gambar letak suatu tempat yang dibikin untuk mempermudah orang atau sebagai penunjuk."

B.P. pemantau dari Ngampilan :
"PETA adalah gambar tentang lokasi suatu wilayah. PETA bagi kami pemantau :
- sangat berguna untuk membatasi wilayah kerja kami sebagai pemantau
- lebih jelas tentang wilayah yang akan kita pantau, sampai batas-batas RT satu dengan RT yang lain se-wilayah Kelurahan.
CITRA adalah suatu gambaran yang diambil dari udara guna memudahkan pembuatan peta. Dalam pembuatan batasan wilayah Kelurahan menjadi RW lebih kecil ke RT secara kelompok, kami bersama-sama. Hanya ada beberapa wilayah yang sulit karena batasan jelas, yaitu sungai kecil (kalen). Karena batasan itu jelas, hanya saja masyarakatnya yang tidak mau dianggap penduduk Ngampilan, tapi mau dianggap warga Notoyudan, ini yang menyulitkan kami. Kami tau Peta, Quickbird dari Yayasan, sebelumnya belum tau peta yang sangat detail."

N.L. Pemantau dari Wirogunan :
"Persepsi saya tentang PETA; Ya PETA bagi saya sangat penting sekali, karena bisa memudahkan kita untuk mencari batas-batas wilayah yang ada di PETA itu, sehingga PETA itu sangat berguna sekali. Apalagi untuk wilayah-wilayah RT dan RW. Pada waktu kami membuat pemetaan di wilayah, kami kerjakan bersama-sama satu tim jadi kami satu tim tahu perbatasan-perbatasan di wilayah masing-masing. Batasannya dari sungai, sawah, jalan, dan batasan-batasan rumah-rumah dari yang satu ke yang lain, dari RW satu ke RW yang lain, dari kelurahan satu ke kelurahan yang lain, sehingga semua jelas."

D.I. pemantau dari Pakuncen:
"Menurut saya dengan adanya PETA kita jadi tau wilayah dan perbatasan antar RT dan RW di wilayah serta dengan adanya PETA tentu sangat bermanfaat bagi kami para pemantau untuk memasuki area dimana kita menjalankan tugas. Citra Satelit : Gambar yang diambil dari satelit yang telah diberi sensor. PETA : Gambar yang didalamnya terdapat letak, batas-batasan wilayah. Pada waktu pembagian wilayah di daerah Pakuncen, kita diberi sebuah Peta Citra dari Yayasan dan kita membatasi wilayah kita masing-masing sesuai dengan area yang akan kita pantau. Pada waktu pembagian wilayah itu, pemantau semua datang dan bersama-sama menggaris pada peta citra tersebut, sehingga kita semua jadi tau batas-batas RT dan RW di daerah Pakuncen."

Dari ke-empat testimoni pemantau DBD, dapat diketahui bahwa mereka mengetahui PETA dan CITRA yang mereka pergunakan untuk membatasi wilayah kerjanya dan dengan membaca CITRA mereka bisa lebih memahami wilayah kerjanya. Mental Map mereka bertambah, bahkan dalam bekerja mereka secara tidak sadar telah melakukan analisa spasial dengan menentukan wilayah mana yang akan mereka kunjungi dengan memperhitungkan keterdekatan lokasinya dengan rumah mereka dan jarak tempuhnya juga.

Dari hal tersebut di atas, juga menunjukkan bahwa pemetaan partisipatif yakni sebuah pendekatan yang telah menjadi kebutuhan dalam pengelolaan wilayah, khususnya pengelolaan wilayah untuk kesehatan masyarakat dalam hal ini pengendalian Demam Berdarah Dengue berbasis MASYARAKAT yang lebih mengutamakan untuk memberdayakan MASYARAKAT membutuhkan pendampingan mengenai PEMAHAMAN GEOSPASIAL yang akan bermanfaat bagi KEGIATAN RUTIN PEMANTAU DEMAM BERDARAH DENGUE menjadi lebih EFEKTIF dan EFISIEN.

Harapan lebih lanjutnya ialah APABILA PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE ini bisa di-SPASIALkan hingga skala RW/RT akan sangat membantu PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA dan MASYARAKAT KOTA JOGJA untuk bisa melihat lebih dalam dan memFOKUSkan dalam PENGENDALIAN DBD, sehingga angka kasus DBD di Kota YOGYAKARTA bisa ditekan dengan Pengendalian secara EFEKTIF dan EFISIEN pada 3 target sarang nyamuk (Bak Air, Bak Mandi dan Sumur).


Geospatial Learning dari Pemantau Demam Berdarah Dengue dapat menjadi KUNCI kesuksesan PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE di KOTA YOGYAKARTA, apabila semua pihak secara bersama-sama berperan serta AKTIF dengan SATU TUJUAN yang SAMA yakni COMBATING DENGUE FEVER in The City of YOGYAKARTA, for BETTER INDONESIA...

Konklusi atau kesimpulan dalam paper “ Geospatial Learning in Combating Dengue Fever Project, Study Site : The City of Yogyakarta “ sebagai berikut :


The geospatial learning in combating dengue fever still needs improvement. Meanwhile, we can conclude that combating Dengue Fever (DF) and Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) in the City of Yogyakarta with geospatial learning to get geospatial understanding for the team and also community is very important, because the disease spread is unavoidably spatial.
GIS, Satellite Images and GPS are part dengue fever project in the City of Yogyakarta and geospatial learning. These lessons learned will be valuable as the centre moves to next phase project to build Geospatial capacity.
For the future project, we need to explore the potential of participatory mapping as a tool to be used in order to capture the local perspectives on public health in combating dengue fever. The possibility to integrate participatory mapping with consultations or empowerment of the locals of the combating dengue process are also interesting issues for future research.

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Monday, August 10, 2009

Geospatial Learning in Combating Dengue Fever Project, Study SIte : The City of Yogyakarta


GEOSPATIAL LEARNING IN COMBATING DENGUE FEVER PROJECT
STUDY SITE: THE CITY OF YOGYAKARTA



Aji Putra Perdana 1, *, Hilmi Ardiansyah 1, Humam Zarodi1

1 GIS and Data Management Unit Assistant, Tahija Foundation, Project Dengue

* Corresponding author.

ABSTRACT:

Dengue fever and Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is already endemic in 45 Kelurahan in the City of Yogyakarta yet is the most densely populated. A two years combating dengue fever project started in 2007, the strategy is targeted Aedes aegypti breeding source control using the insect growth regulator. This project involved 262 local peoples and 32 surveyors; they are the main actors in geospatial learning. GIS, Satellite Images and GPS are part dengue fever project in the City of Yogyakarta. This paper described Geospatial Learning in Combating Dengue Fever in Indonesia Phase II Project (study site: The City of Yogyakarta).

KEY WORDS: Geospatial, Dengue Fever, GIS, Satellite Images, GPS

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Monday, June 29, 2009

30 June 2009 - Saat Terakhirku di Dengue Project

30 June 2009 - Saat Terakhirku di Dengue Project

Perkenalkan saya Aji Putra Perdana, saat ini berposisi sebagai GIS and Data Management di Dengue Project dan bukan suatu kebetulan lagi, bahwa sekarang adalah hari terakhir saya disini membantu Dengue Project Phase II. Belum sempat saya bercerita lebih lengkap mengenai pembelajaran atau lesson learned yang saya peroleh, ternyata tanggal sudah menunjukkan angka 30 dan bulan berada di jarum Juni 2009.

Sebelumnya saya sempat posting mengenai pengalaman awal saya bergabung dengan project ini yang berjudul My (geospatial and capacity building) Learning in Combating Dengue Fever Project (1). http://ajiputrap.blogspot.com/2009/05/my-learning-in-combating-dengue-fever.html. Belum sempat pula melanjutkan seri ke-dua nya, eh sangat saya ketahui bahwa hari ini 30 Juni 2009 adalah hari terakhir dari Project Fase II.

Hari yang menyedihkan adalah kemarin, 29 Juni 2009 bertempat di Museum Diponegoro dan dihadiri oleh hampir 300an personel tim dengue project II, dari teman-teman lapangan yakni Pemantau DBD, Surveyor QCRS, Serosurvey tim, tim Fakultas Kedokteran UGM, dari stakeholder atau pihak pemerintah kota yang diwakili Dinas Kesehatan Kota, dan semua teman-teman dan tim inti dengue project phase II.

Suasana khas jogja, yakni lesehan dan beralaskan tikar, acara pun dimulai dengan suka cita. Sebuah acara TEMU PISAH Dengue Project Phase II. Acara berisi pembukaan, sambutan dan diselingi dengan nyanyian-nyanyian merdu dari teman-teman pemantau, dan yang tak kalah pula dari staf Dinkes dan staf kantor project juga menyumbangkan suara merdunya. Banyak bermunculan penyanyi Solo (bukan dari Solo, tapi Jogja..hehe), Duet mesra, bahkan ada Trio MustKentir khusus didatangkan ke dalam acara tersebut.

*tiba-tiba muncul sesosok bernama Thole, turut dalam cerita ini.
Thole berkata : "Mas A'a Ji Cakep, mau ikutan tanya boleh ?"
Mas A'a Ji Cakep menjawab :"Boleh aja thole...apa yang bisa Mas A'a bantu ?"
Thole melontarkan tanyanya : "Pertama, What ??? Apa itu Dengue Project Phase II dan koq udah selesai??? Bukannya demam berdarah masih terus ada di Nagari ini ???"
Mas A'a Ji memotong sebentar : " Ada berapa pertanyaan dek Thole ??"
Thole melanjutkan : " Bentar, mas A'a Ji cakep. Pertanyaan selanjutnya, Akankah teman-teman terus berjuang untuk memberantas demam berdarah dengue ??"
Mas A'a Ji : " ada lagi ga thole ? jangan panjang-panjang ya..Ntar Mas A'a Ji bingung jawabnya..hehe"
Thole meneruskan : " Ya udah mas A'a...segitu saja ae..hehe, dilanjut kali lain ya Mas A'a, kalau koneksi internetnya masih lancar..hehe"
Mas A'a Ji mencoba menjawab : " Dengue Project Phase II merupakan kelanjutan dari Pilot Project Demam Berdarah Phase I atau fase sebelumnya yang dilakukan oleh Yayasan TAHIJA kerjasama dengan Fakultas Kedokteran UGM. Info lebih lengkap dan lanjutnya bisa buka di websitenya Yayasan TAHIJA."
Mas A'a Ji melanjutkan : "Untuk pertanyaan berikutnya, Jelas dan sudah pasti teman-teman akan terus berjuang untuk memberantas demam berdarah dengue."
Thole bertanya lagi :" Mas A'a Ji Cakep, tadi thole sempat baca ada Trio MustKentir. Apa maksudnya ?"
Mas A'a Ji menjawab :" Mereka itu penyanyi trio dari kantor proyek. Dadakan Singer menyanyikan lagu dari ST12 - Saat Terakhir. Sebuah lagu yang didedikasikan untuk keluarga yang ditinggalkan oleh saudara ataupun anggota keluarganya akibat DBD dan mencoba membangkitkan semangat juang para pemantau DBD untuk senantiasa memberantas DBD. "



Lirik Lagu ST12- Saat Terakhir

Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikitpun ku bayangkan
Kau akan pergi tinggalkan kusendiri

Begitu sulit kubayangkan
Begitu sakit ku rasakan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri

Di bawah batu nisan kini
Kau tlah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
sungguh ku tak sanggup
Ini terjadi karna ku sangat cinta

Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan kasih

Satu jam saja kutelah bisa
cintai kamu kamu kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
buth waktuku seumur hidup

Satu jam saja kutelah bisa
sayangi kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup

- end song -

Sukses tuk meLanjutkan dengue project ke depan dan semoga Lebih Baik dan Lebih Tepat, sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat DBD di Indonesia, khususnya di Kota Yogyakarta.

Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Sunday, May 17, 2009

My Learning in Combating Dengue Fever Project (1)

My (geospatial and capacity building) Learning in Combating Dengue Fever Project (1)

Pertama kali saya akan memulai menulis di blog ini ialah bingung untuk memulai darimana, karena sudah cukup lama saya tidak bercerita dengan bahasa sendiri. Banyak informasi yang saya sharing melalui blog ini ialah berita-berita ataupun informasi yang berasal dari situs atau blog lain, promosi kegiatan pelatihan SIG, Penginderaan Jauh, Pengolahan Citra Digital, cerita tentang skripsi saya, coretan-coretan iseng saya dan lain sebagainya. Tapi entah kenapa..tiba-tiba hari ini saat ini..beberapa menit yang lalu terdengar teriakan di dalam otak dan hati sanubari berkata :
"Hai Aji...(yang bukan Aji bukan Hai,,,hehe :) )...cobalah kau ceritakan perjalanan hijrahmu dari "KOTAK" hingga keluar "KOTAK", mungkin kini kamu berada di sebuah "LINGKARAN" atau "SEGITIGA".

Cerita berawal dari sebuah tes CPNS pada akhir tahun 2006 bertempat di Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta...

Seusai tes, saya keluar dari tempat ujian dan sedang berdiri menunggu teman-teman dan saat itu datang mas K***n (sengaja tidak saya sebutkan..biar kelihatan seru euy..hehe). Beliau memberitahukan bahwa ada lowongan kerja sebagai asisten GIS di sebuah LSM yang bergerak di bidang Kesehatan dimana di LSM tersebut merupakan tempat kerja sahabat karib ma
s K***n yang juga sama-sama alumni Fakultas Geografi UGM yakni mas H***i. Mas K***n juga mengatakan bahwa dia juga udah memberitahukan lowongan ini ke teman saya T***r, kalau Aji tertarik kirimkan CV ke emailnya mas H***i.

Kala itu saya hanya tertarik untuk mengikuti tes-tes CPNS, akan tetapi setelah mengingat-ingat kembali perkataan mas K***n yang telah menginformasikan lowongan tersebut ke T***r. Tanpa saya konfimasi ulang ke T***r dengan asumsi bahwa T***r pasti akan mengirimkan CV ke mas H***i untuk melamar posisi di LSM tersebut, maka saya mengirimkan CV dan dokumen pendukung lainnya saya ke email mas H***i pada hari Jumat, 14 Desember 2007 at 7:02 PM.

Selang dua hari kemudian, hari minggu, 16 Desember 2007 11:15 PM saya menerima email dari mas H***i dengan subject : Info Test Wawancara Project Dengue 2. Email tersebut rupanya ditujukan kepada 4 kandidat yakni mbak i***n, mas h***i, saya sendiri ajiputrap dan mbak s**i, dimana mereka bertiga merupakan senior saya... (dalam hatiku..i'm the youngest). Terlampir di dalam email tersebut file word berisi gambaran singkat project dengue 2 dan tugas/tanggungjawab asisten data management unit serta kualifikasi yang dibutuhkan.

Komunikasi dengan mas h***i pun berlangsung via sms dimana beliau memberitahukan kapan waktu untuk wawancara...maaf euy, saya lupa kapan pastinya wawancara berlangsung...

Saya melihat sebuah Rumah Besar Sepi dengan sedikit kendaraan di dalamnya...Awalnya ragu untuk masuk ke dalam, dengan sedikit beranikan diri saya memasuki gerbang Rumah tersebut dan memarkir motor saya. Ketuk pintu dan dibukakan oleh seorang pemuda, lalu saya bilang mau bertemu dengan mas h***i untuk wawancara. Saya dipersilahkan duduk dan pemuda tadi mengambilkan segelas Teh Manis Hangat, tak lama kemudian mas h***i datang dan bilang : "tunggu sebentar ya Ji..nanti segera kita mulai wawancaranya". Lalu mas h***i memanggil dan saya dipersilahkan duduk kemudian diperkenalkan dengan pewawancara. Saat itu saya duduk menghadap dua orang yakni sesosok Ibu berambut pendek "Bu L** - begitu panggilannya" yang merupakan Pemimpin Proyek dan mas h***i sendiri. Wawancarapun berlangsung...di akhir wawancara dengan dua bos tersebut, datang seorang bos lagi yang tampak senior Pak D****k. Beliau menceritakan dan memberikan sebendel kertas yang berisi mengenai Yayasan Tahija dan proyek pengendalian demam berdarah yang dilakukan oleh Yayasan Tahija.

Waktu berlalu..hari demi hari kulalui,,,

Pada hari rabu tanggal 26 Desember 2007 11:33 AM, saya menerima email dari mas h***i yang memberitahukan bahwa saya lulus wawancara, kurang lebih emailnya berbunyi demikian:


Aji, berdasarkan test wawancara kemarin yang sudah dilakukan, Aji dinyatakan lulus dan dapat bergabung dengan project dengue 2 sebagai asisten data management unit. Kemungkinan Aji diharapkan dapat bergabung mulai tanggal 2 januari besok, nanti akan saya kabarkan lagi bila ada perkembangan berita lagi,
terima kasih
Saya resmi bergabung dengan Proyek Pengendalian Demam Berdarah Kota Yogyakarta Yayasan TAHIJA tertanggal 4 Januari 2008. Awal bergabung dengan proyek ini saya masih membantu kegiatan di kampus hingga bulan Februari 2008. Memori pertama kali saya bergabung dengan proyek ini perlahan mulai terkikis oleh waktu, sehingga apa yang terceritakan kemudian ialah apa-apa yang masih tersisa dalam memori otak saya.

Datang pertama ke kantor di bulan Januari 2008, saya duduk di kursi depan dan tak lama kemudian datang sosok yang tampak familiar. Ternyata dia adalah senior saya, yang dulu meng-OSPEK sewaktu saya pertama kali masuk kuliah euy,namanya mas h***m. Obrolan pun berlangsung dan ternyata kita berdua akan menjadi rekan satu tim. Kemudian bersama dengan mas h***i kita diperkenalkan ke team leader yang ada yakni Pak G***h - tim leader operasional, Pak D****k - tim leader Communication and Outreach, Proyek Manajer Bu L**, Finance Officer Bu K*****i, dan bagian admin & logistik mbak Y**a. Kemudian menuju ke ruang kerja dimana kita seruangan dengan mas H***i selaku tim leader kami dan mbak Y**a.

Hari demi hari dilalui..

Mencoba memahami job description, mengenal lebih dalam proyek pengendalian demam berdarah fase dua, lingkungan proyek, Yayasan Tahija, mempelajari pengelolaan data pada proyek sebelumnya (karena proyek yang sekarang merupakan kelanjutan dari pilot proyek percontohan fase satu pengendalian demam berdarah)...

Mengikuti berbagai diskusi, rapat serius hingga obrolan ringan, mendampingi bos2x dalam kegiatan untuk sosialisasi, menjadi juru foto, seksi perlengkapan, bongkarpasang spanduk, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu merupakan pengalaman dan perjalanan yang luar biasa dalam dunia yang baru yang saya kenal ini..sebuah "LINGKARAN" atau juga "SEGITIGA" yang jelas berbeda dengan "KOTAK" dimana saya dulu berada...dinamika kehidupan lebih semakin terasa, interaksi dengan masyarakat benar-benar terasa..dari kaum muda hingga ibu bapak yang berusia senja namun berjiwa muda...

Berawal dari Januari 2008 hingga terasa sudah kini di bulan Mei 2009, waktu yang cukup lama bagi saya bertahan di dalam sebuah Proyek...

will be continued....

Thanks to Yayasan TAHIJA dan Team NYAMUK Yogyakarta...Semoga angka kasus demam berdarah dengue di Kota Yogyakarta bisa turun di bulan-bulan ke depan berkat kerja keras dan partisipasi seluruh warga Kota Yogyakarta...

Selamatkan Keluarga Kita dari Demam Berdarah

Salam,

Aji Putra Perdana
GIS and Data Management
Proyek Pengendalian Demam Berdarah Kota Yogyakarta
Yayasan Tahija

Sunday, March 22, 2009

Maret-April 2009, Waspada Demam Berdarah Dengue bagi Warga Kota Yogyakarta

ANTISIPASI KLB PENYAKIT DBD
Maret-April, Dinkes Ingatkan PSN Plus

SABTU PON 21 MARET 2009 (24 MULUD 1942) "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 2 KOLOM KOTA YOGYA

YOGYA (KR) - Untuk mengantisipasi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengingatkan masyarakat untuk lebih meningkatkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) selama bulan Maret-April. Sebab masih ada anggapan penyakit DBD hanya menyerang penderita pada musim hujan.

Imbauan itu disampaikan Kepala Dinkes Kota Yogyakarta dr. Choirul Anwar MKes, Jumat (20/3) terkait antisipasi merebaknya penyakit DBD. "Penyakit DBD bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, selama ada media untuk berkembangbiak nyamuk Aedes Aegipty sebagai pembawa virus," katanya.

Berdasarkan data Dinkes Kota Yogyakarta tahun 2004 dan 2008 terjadi puncak kasus DBD pada bulan Maret dan April. Sementara untuk tahun 2009 bulan Januari penderita DBD sebanyak 85 kasus sementara Februari turun menjadi 53 kasus tersebar di 45 kelurahan se-Kota Yogyakarta.

Untuk itu Dinkes Kota Yogyakarta mengingatkan warga untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan melakukan PSN dengan cara 3 M Plus yaitu Menguras, Menutup, Mengubur plus ikanisasi serta pemasangan sumilarv di bak air, bak mandi dan sumur. Pemasangan sumilarv ini Dinkes bekerja sama dengan Yayasan Tahija.

District Surveilance Officer Bidang P2PL Dinkes Rubangi menambahkan pada musim kemarau media perkembangbiakan nyamuk di luar rumah cukup kecil. Namun di dalam rumah perlu diwaspadai setidaknya di kamar mandi, tempat penampungan air di dalam rumah seperti padasan, ember besar dan tempat wudhu di pondok pesantren dan masjid.

"Yang sering luput dari pantauan warga adalah di tempat air belakang lemari es. Kami sering menjumpai di tempat itu ada jentiknya sehingga harus rajin dibersihkan," kata Rubangi.

Untuk tempat umum non sekolah harus lebih diwaspadai karena sering digunakan tempat perkembangbiakan nyamuk. Oleh karena itu, jumantik dan surveilance selalu rajin mengingatkan pengelola tempat umum seperti musala dan masjid. Sedangkan di sekolah secara bertahap sebanyak 80 persen sudah melakukan program kranisasi.

Untuk program ikanisasi kata Rubangi masih sering menemui kendala di masyarakat. Karena, tidak semua warga tahan terhadap bau amis ikan sehingga masih ada yang enggan memelihara ikan di bak mandi. Padahal dengan adanya ikan di bak mandi bisa bebas dari jentik nyamuk. (Nik)-f

###

Sumber : "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 2 KOLOM KOTA YOGYA - SABTU PON 21 MARET 2009 (24 MULUD 1942)


Salam hormat,

Aji Putra Perdana
GIS AND DATA MANAGEMENT
PROYEK PERCONTOHAN PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH
KOTA YOGYAKARTA-YAYASAN TAHIJA


blog : http://ajiputrap.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/